Published On: Thu, Feb 23rd, 2017

7.477 Ibu Hamil dalam Bahaya

BERITABENAR-Ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya dinas kesehatan (dinkes) di Malang Raya. Sebab, dari data yang diungkap, jumlah ibu hamil dengan risiko tinggi per Februari 2017, cukup tinggi: total ada 7.477 orang. Rinciannya, di Kota Malang terdapat 2.681 orang, di Kabupaten Malang ada 4.000 orang, dan di Kota Batu tercatat ada 796 orang (selengkapnya lihat grafis).

Tingginya angka ibu hamil dalam kondisi berbahaya itu dibeberkan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Malang Sumarjono. Menurutnya, ibu hamil dengan risiko tinggi tersebut sedang dalam pelayanan di 16 puskesmas di Kota Malang. Termasuk juga, ada yang dirawat di rumah sakit.

Dari sejumlah ibu hamil dengan risiko tinggi itu, faktor penyebabnya ada empat kategori. Di antaranya, penyakit yang menyertai kehamilan, faktor penyulit kehamilan, punya riwayat persalinan yang buruk, dan terakhir kondisi kesehatan ibu yang tidak mendukung kehamilan.

Jika diuraikan, beberapa penyakit bawaan yang memicu kehamilan risiko tinggi tersebut, antara lain darah tinggi (hipertensi); darah rendah (hipotensi); rendahnya kadar protein dalam darah; endokrinopati seperti penyakit gula (diabetes); kar-diopati atau kelainan jantung; juga adanya infeksi, misalnya infeksi Toreh (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes simplex virus); hingga haematopati atau kelainan darah seperti gangguan pembekuan darah.

“Kalau seperti ini kan bahaya saat melahirkan, bisa terjadi perdarahan lama yang dapat mengancam jiwa,” tuturnya. Sementara, faktor penyulit kehamilan misalnya partus prematurus atau melahirkan sebelum waktunya, yaitu kurang dari 37 minggu usia kehamilan dan adanya perdarahan dalam kehamilan. “Ibu yang pernah melahirkan prematur atau keguguran berulang kali itu, juga masuk risiko tinggi. Ibu yang sulit hamil, misalnya lima tahun menikah baru hamil, padahal nggak ikut KB (program Keluarga Berencana), juga masuk,” papar mantan kepala Puskesmas Mulyorejo tersebut.

Temuan dinkes, selain karena faktor penyakit, banyak juga ibu hamil dengan risiko tinggi yang berada di usia rentan. Yakni, di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun. “Ada juga yang sudah melahirkan lebih dari empat anak,” tambahnya. Nah, untuk menekan risiko tinggi itu, imbuh dia, dinkes menyiapkan anggaran Rp 1,2 miliar untuk program pendampingan dan jaminan persalinan (jampersal).

Dia berharap, ibu hamil bisa memanfaatkan dana jampersal ini sehingga angka kematian ibu dan bayinya bisa ditekan. “Kalau ditemukan kasus kematian pada ibu dan bayi, itu lebih pada keterlambatan penanganan persalinan,” beber pria yang juga pendiri SMK Kesehatan Adi I lusada tersebut Teknisnya, untuk setiap persalinan normal, mendapat bantuan Rp 850 ribu. Sedang, jika melakukan operasi, warga diberi dana Rp 7,5 juta. “Tapi, ini untuk warga tak mampu serta tidak terdaftar sebagai peserta di BPJS Kesehatan,” terang Sumarjono.

Sementara, angka ibu hamil dengan risiko tinggi terbanyak, berada di Kabupaten Malang. Jumlahnya menembus 4.000 orang dari total 40 ribuan ibu hamil. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang, Hadi Puspita menjelaskan, dari 4.000 ibu hamil berisiko tinggi itu, hanya 1.400 yang mendapat penanganan dari petugas lapangan keluarga berencana (KB). “Kami kekurangan cukup banyak petugas lapangan KB. Kabupaten Malang harusnya punya minimal 185 petugas, saat ini hanya 105 orang,” terangnya.

Sesuai standar, satu petugas KB maksimal melayani dua desa saja. Namun, yang terjadi di Kabupaten Malang, satu petugas KB bisa melayani 3-4 desa. Sehingga, pelayanan terhadap ibu hamil tidak bisa maksimal. Imbasnya, angka kematian ibu melahirkan cukup tinggi. Pada 2016, tercatat ada 21 kasus kematian ibu melahirkan. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah angka kematian ibu melahirkan memang turun. Tahun 2013 misalnya, ada 39 kematian, di tahun 2014 ada 29 kasus. Baru pada tahun 2015, naik lagi menjadi 30 kasus kematian ibu melahirkan.

Nah, untuk menekan jumlah ibu hamil berisiko tinggi itu, sejak 2015, Hadi Puspita membuat program contra war(contraceptive for women atrisk). Yakni, program kerja sama dengan RSUD Kan-juruhan Kepanjen untuk mendata perempuan usia produktif, rentang 15-49 tahun. Jika ada perempuan usia produktif terkena hipertensi, jantung bawaan, TBC (Tuberculosis/ infeksi saluran napas), HIV/AIDS, gondok, dan hepatitis, diharuskan ikut program KB.

Sehingga, mereka tidak sampai hamil ketika masih sakit “Alat KB baru bisa dilepas ketika pihak rumah sakit menyatakan mereka benar-benar sembuh. Sebab, ibu hami yang paling berisiko ketika melahirkan dalam kondisi sedang sakit,” ungkap peraih penghargaan nasional bidang kesehatan tersebut.

Sedang di Kota Batu, tercatat ada 796 dari 3.478 ibu hamil yang dalam kondisi bahaya. Rinciannya, 306 ibu hamil di Kecamatan Batu; 319 ibu hamil, Bumiaji; dan 171 ibu hamil, Junrejo. Kepala Bidang Kesmas Dinkes Kota Batu Nurseto mengungkapkan, ibu hamil dengan risiko tinggi ini sedang dalam penanganan khusus. “Mereka juga harus menjalani proses perujukan cek kesehatan secara berkala ke layanan kesehatan terdekat,” beber Nurseto.

Untuk menekan jumlah ibu hamil risiko tinggi itu, Dinkes Batu menyiapkan dana pendampingan dan persalinan senilai Rp 5 miliar. Untuk mendapatkan bantuan dana tersebut, ibu hamil cukup lapor ke kantor kelurahan/ desa. Kemudian, dipersiapkan juga fotokopi KTP, surat nikah, kartu keluarga, dan nama anak untuk keperluan akta gratis. “Namun, ini berlaku hanya untuk anak pertama dan kedua, karena kami juga mendukung program KB,” tegas dia. (lil/adk/by/dia/c4/abm)