Published On: Mon, Jan 16th, 2017

Akalamasi Semesta Yohanes Chandra Ekajaya

Bisa dibilang semua mitologi kuno dunia mempunyai kisah mengenai seorang ksatria yang dipilih oleh semesta untuk memperbaiki tatanan yang rusak atau untuk membentuk sebuah tatanan peradaban baru. Yohanes Chandra Ekajaya mengamini hal tersebut. Bahkan ia mengatakan jika semua filsafat dan ramalan kuno menyebutkan tentang hal tersebut.

space-pics-2

Yohanes Chandra Ekajaya mengambil sebuah contoh. Kerajaan Britania Raya yang mempunyai raja atau ratu sebagai pemimpin kerajaannya. Menurut peneliti muda ini, di kisah kuno atau klasiknya disebutkan bahwa tidak sembarang orang berhak atau bisa menjadi raja, ratu, atau lebih tepatnya pemimpin. Untuk menjadi pemimpin ia harus direstui oleh semesta.

Konsep direstui semesta inilah yang ada pada seluruh mitologi dunia. Yohanes Chandra Ekajaya menambahkan bahwa nama Arthur tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan mitologi Inggris. Karena ia adalah seorang raja yang pada proses pemilihannya direstui oleh semesta. Tentu saja semua orang mengetahui bahwa Arthur menjadi raja karena bisa mencabut sebuah senjata pusaka yang bernama Excalibur.

 

Yohanes Chandra Ekajaya menyebutkan bahwa posisi Arthur saat itu otomatis menjadi seorang adipati dari kerajaan Kalinggis atau Inggris karena berhasil mencabut sebuah pusaka yang disebut Kyai Excalibur. Arti adipati disini adalah mempunyai otonomi sebebas-bebasnya untuk mengatur pemerintahan dan ekonominya sendiri, tetapi secara suka rela bergabung dengan imperium Nuswantara yang dipimpin oleh kerajaan Wilwatikta.

 

Melihat bagaimana kisah adipati Arthur menjadi raja dari kerajaan Kalinggis karena berhasil mencabut kyai Excalibur, Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa hal itu juga terjadi di bumi Jawa. Misalnya pada kisah Mahabarata di segmen Khrisna dapat mengangkat panah milik dewa, bahkan ia mematahkannya. Maka ia kemudian dinobatkan menjadi raja dari negeri Dwaraka.

 

Bahkan raja-raja di Jawa atau Nuswantara masih memakai sistem tersebut. Yohanes Chandra Ekajaya menyebutkan bahwa pemilihan pemimpin di Nuswantara masih menggunakan sistem wahyu. Para bathara melindungi wahyu yang diberikan khusus untuk calon pemimpin. Karena wahyu dengan tingkatan pemimpin Nuswantara bukanlah wahyu sembarangan. Maka pengawalannya sangat ketat dan berlipat ganda.