Published On: Thu, Oct 15th, 2015

Belanda Lanjutkan Kutukan Juara Tiga Piala Dunia

Sudah dipastikan Belanda tidak masuk atau untuk kesekian kalinya gagal lolos ke putaran final Euro 2016 di Perancis setelah kekalahan yang harus mereka terima dari Republik Ceko di Amsterdam Arena.

Ini tentu saja suatu hal yang sangat memalukan untuk timnas sebesar Belanda yang mana dihuni oleh pemain dengan nama-nama besarnya. Bukan hanya itu saja, Belanda sendiri pada Piala Dunia 2014 yang lalu berhasil finish pada posisi ketiga.

Namun siapa sangka mitos lama masih berlaku hingga saat ini, dimana tim Eropa yang menjadi juara tiga di Piala Dunia sebelum ajang Euro selanjutnya digelar tidak akan masuk ke putaran final ternyata terjadi kembali. Persentase kejadian tersebut cukup besar, hampir 70% jika melihat data-data dari yang terdahulu.

yohanes chandra ekajaya

Kutukan ini dimulai pada tahun 1968 yang mana merupakan yang merupakan pergelaran Euro yang kedua. Saat itu Portugal yang jadi kuda hitam Piala Dunia 1966 dengan Eusebio-nya secara mengejutkan gagal lolos kualifikasi Euro. Seleccao bahkan tak sampai play-off karena kalah bersaing dengan dengan Bulgaria di babak grup. Sempat diselingi oleh Jerman Barat yang bahkan jadi kampiun Euro 1972, siklus kutukan kemudian mulai terbentuk. Sebanyak tujuh juara ketiga Piala Dunia asal Eropa antara 1974 hingga 2002 secara tragis gagal lolos ke putaran final Euro, yang digelar dua tahun setelahnya.

Polandia adalah tim yang paling sial, secara beruntun mereka berhasil merebut juara tiga di Piala Dunia, namun dua kali juga mereka harus gagal untuk bermain di Euro setelah kejuaraan tersebut. Entah suatu kebetulan atau memang mitos tersebut benar-benar ada, namun saat itu Bialo-czerwoni memang sedang diperkuat oleh generasi emasnya, seperti Grzegorz Lato dan Zbigniew Boniek.

Setelah Polandia, kemudian ada Prancis dan Swedia. Prancis melanjutkannya dengan tak lolos kualifikasi Euro 1988, padahal Le Blues merupakan juara bertahan edisi 1984 dan melanjutkannya dengan menduduki peringkat tiga Piala Dunia 1986. Sebelumnya, pada Euro 1960 Tim Ayam Jantan memang lolos sebagai juara tiga Piala Dunia 1958, tapi mereka ke putaran final lewat status tuan rumah. Hal ini juga berlaku pada Swedia, dimana timnas tampil dengan sangat memukau pada Piala Dunia 1994, tapi tak sanggup melawan kutukan dengan kegagalannya melaju ke Euro 1996. Kennet Andersson cs secara mengejutkan kalah bersaing dengan Swiss dan Turki di babak kualifikasi. Mereka hanya sanggup mengoleksi sembilan poin dari delapan laga.

yohanes chandra ekajaya

Setelah itu ada juga tim Kroasia yang memang berhasil menjadi timnas paling mengejutkan pada ajang Piala Dunia 1998. Mereka berhasil menggegerkan dunia dengan juara tiga yang berhasil mereka raih, namun mitos tersebut ternyata masih berlanjut. Mereka tak berhasil lolos ke putaran final Euro pada tahun 2000. Selanjutnya ada juga Turki yang menjadi korban kutukan tersebut. Sebenarnya mereka hampir berhasil menjadi pemutus kutukan tersebut, namun sayang mereka harus kalah mengenaskan pada babak play-off melawan kuda hitam kala itu, Latvia.

Jerman-lah yang akhirnya berhasil memutus mitos tersebut. Tim Panzer tersebut berhasil lolos ke Euro 2008 dan 2012 yang lalu dengan membawa status juara tiga Piala Dunia 2006 dan 2010. Bukan hanya itu saja, mereka juga berhasil mencapai final dan semi-final pada kedua ajang Euro tersebut.

yohanes chandra ekajaya

Sayangnya mitos tersebut kembali diperpanjang oleh Belanda Rabu dini hari kemarin. Timnas Belanda tak berhasil lolos setelah kalah bersaing dengan Inslandia dan Republik Ceko. Bagi Belanda sendiri, akankah ini jadi akhir kiprah trio RAW, Robin Van Persie, Arjen Robben, dan Wesley Sneijder? Meski sulit, Piala Dunia 2018 masik masuk akal untuk mereka gapai. Tapi harus diakui di usianya yang kini menginjak 31 hingga 32 tahun, sulit melihat ketiganya beraksi di Euro 2020 esok.

Ya, dari sini dapat dilihat, bahwa hanya Jerman saja tim satu-satunya yang tidak terkena kutukan. Sebab jika melihat negara Perancis yang menjadi tim lain yang bisa ikut di Euro, itu juga dikarenakan status mereka yang sebagai tuan rumah Euro saat itu.