Published On: Mon, Mar 6th, 2017

Berita Terkini Mengenai Kementerian Pertanian dalam Merancang Strategi untuk Swasembada Daging

BERITABENAR-Pemerintah melalui Kementerian Pertanian tengah mencoba pengembangan teknologi untuk menghasilkan sapi-sapi jenis unggul yang memiliki bobot di atas rata-rata atau dengan berat maksimal. Ini adalah upaya jangka panjang yang dilakukan agar kebutuhan daging nasional dapat terpenuhi.

Saat ini Kementerian Pertanian telah berhasil memproduksi sapi bibit unggul jenis Belgian Blue, sapi berbobot ‘raksasa’ asal Belgia yang dikawin silangkan dengan beberapa jenis sapi di Indonesia dan teknik transfer embrio yang menghasilkan sapi Belgian Blue mumi 100%.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi Syukur Iwantoro mengatakan cara-cara seperti ini akan terus dilakukan Kementerian Pertanian sambil mengupayakan berbagai langkah lainnya agar swasembada sapi dapat diwujudkan.”Untuk mencapai itu, ada hal lainnya yang perlu diperkuat agar swasembada daging bisa terpenuhi,” katanya saat ditemui di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor, Minggu (E/3). Cara pertama adalah menjamin ketersediaan pakan yang berkualitas dan berkelanjutan serta murah harganya.”Untuk pakan harus berkualitas dan murah. Kalau berkualitas tapi mahal pasti susah juga, dagingnya pasti mahal kan. Itulah kondisi yang ada di kita sekarang. Jadi daging kita itu mahal bukan hanya karena pasokan, tapi mahalnya harga pakan,” ujar Syukur.

Yang ke dua adalah melalui pencarian bibit unggul, yang tingkat pertumbuhan per harinya maksimal, seperti Belgian Blue yang saat ini juga tengah dikembangkan. BET Cipelang sendiri juga tengah melakukan pengembangan teknologi lainnya pada sapi bibit unggul jenis lainnya yang berasal dari Spanyol dan Meksiko. “Kita ini mencari bibit-bibit unggul yang mampu menghasilkan daging yang banyak, kami tidak perlu memuliakan lama, yaitu dengan melakukan transfer teknologi. Salah satunya yang menghasilkan daging yang banyak adalah Belgian Blue, Galician Blond dari Spanyol dan Zebu dari Mexico (sedang dirintis),” paparnya.

Hal lainnya yang tak kalah penting dalam menjaga ketersediaan daging dengan harga yang terjangkau adalah rantai pasok atau distribusi. “Transportasi dan distribusi atau rantai pasok yang efisien itu penting,” tegas Syukur.

Dan terakhir adalah ketersediaan investor yang menjadi motor penggerak percepatan bibit-bibit unggul ini. Pengembangan teknologi seperti ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Mulai dari survei bibit unggulnya, pembelian sampel, pengiriman hingga pengembangannya.”Makanya dari awal kami menggunakan investor swasta dulu, kemudian pengembangannya kita kerjasamakan dengan BET. Nanti hasilnya sebagian untuk BET, sebagian ke pengusahanya,” tukasnya. *dtf