Published On: Mon, Mar 6th, 2017

Perubahan Syarat, Bantuan Operasional Sekolah Belum Cair

BERITABENAR-Hingga kini dana bantuan operasional sekolah (BOS) di Bojonegoro masih belum cair. Dinas pendidikan (disdik) setempat juga belum memastikan kapan dana tersebut akan dicairkan.

Kepala Disdik Bojonegoro Hanafi menuturkan, dana BOS memang belum cair hingga kini. Pihaknya sendiri juga tidakbisa berbuat banyak Sebab, dana tersebut dikirimkan oleh Kemendikbud.

Menurutnya, tidakhanyadi Bojonegoro dana BOS belum cair; namun di semua daerah di Indonesia, Sebab, dana tersebut terpusat Hanafi menjelaskan, belum cairnya dana BOS disebabkan adanya perubahan syarat pencaiaran.

Yaitu, pelaporan rencana kegiatan anggaran (RKA) dari sekolah ke disdik. Laporan RKA tersebut sebelumnya dikirimkan langsung oleh sekolah ke Kemendikbud. Namun, saat ini RKA dikirimkan ke disdik. Disdik kemudian akan mengirimkannya ke Kemendikbud. “Jadi, keterlambatan pencaiaran karena ada perubahan pencairan,” jelasnya.

Hanafi menjelaskan, pelaporan RKA tersebut sudah selesai dilakukan. Pihaknya juga sudah melaporkan ke Kemendikbud. Sehingga, saat ini tinggal menunggu pencairan dari pusat. “Kapan cairnya, saya juga tidak tahu,” jelasnya.

Menurut Hanafi, ini adalah pertama kali dana BOS telat cair cukup lama. Sebelumnya, Februari dana tersebut sudah diterima oleh sekolah masing-masing. Hanafi berharap sekolah menalangi terlebih dahulu semua biaya operasional. Sebab, dana BOS tersebut akan tetap cair. “Meskipun terlambat tetap cair,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bojonegoro Ufar Ismail menuturkan, belum cairnya BOS membuat sekolah terus menumpuk utang. Sebab, sekolah harus menutupi biaya operasional sekolah setiap bulannya.

Sementara itu, hingga kini memang belum ada kabar mengenai pencaiaran dana BOS. Padahal, sekolah sudah selesai mengajukan pencaiaran dengan melengkapi berkas. Namun, sampai saat ini belum bisa dipastikan kapan dana tersebut akan diterima sekolah. “Sampai saat ini belum ada informasi pencaiaran. Tidak tahu kapan,” terang Ufar.

Saat ini, lanjurnya, sekolah hanya tinggal menunggu saja kapan dana tersebut akan dicairkan. Sebab, sekolah tidakbisa berbuat banyak mengenai hal tersebut. Untuk mencukupi kebutuhan biaya operasional, sekolah harus terpaksa hutang. “Kalau tidak cair juga hutang akan bertambah banyak,” jelasnya.

Selain untuk biaya operasional, BOS biasanya digunakan sekolah untuk membayar gaji para guru honorer. Sejak Januari lalu honorer tidak menerima gaji yang bersumber dari BOS.
Ufar berharap dana BOS tersebut segera cair. Sehingga, tidak memberatkan sekolah karena harus mencari dana talangan. “Kami harap proses pencairannya dipercepat” ungkapnya.

Besaran dana BOS jenjang SMP adalah Rp 1 juta per tahun setiap siswa. Sedangkan jenjang SD adalah Rp 800 ribu per tahun setiap siswa, (zim/nas)