Published On: Mon, Mar 6th, 2017

Selain Kapasitas, Perawat pun Kurang

BERITABENAR- Dunia kesehatan nyatakan bahwa penderita gangguan jiwa atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ),yang di rawat inap di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) lempung, mencapai 700-an orang dalam setahun.

Tingginya pasien yang dirawat inap, ternyata tidak berbanding lurus dengan kapasitas tempat tidur yang hanya dapat menampung 115 pasien. Tidak hanya kapasitas yang terbatas. Jumlah perawat yang tidak mencukupi membuat RSJ lempung juga mengalami kesulitan dalam merawat pasien.

Direktur RSJ Lampung dr Ansyori mengatakan, saat ini RSJ Uimpung hanya memiliki total 92 perawat, untuk merawat 115 pasien gangguan jiwa. Padahal RSJ lempung sudah memiliki tiga gedung baru untuk menambah kapasitas, namun belum dioperasikan.

“Kami tidak bisa mengoperasikan gedung-gedung baru itu. Karena SDM (sumber daya manusia) kami tidak mencukupi. Rencananya kami mau menambah kapasitas menjadi 200 tempat tidur untuk menampung pasien,” kata Ansyori saat ditemui di ruang kerjanya, Minggu (5/3) siang.

Namun jika menambah kapasitas menjadi 200 tempat tidur tetapi jumlah perawat yang ada tidak bertambah, maka pasien tidak ada yang menjaga. Idealnya kata Ansyori, perawat yang ada saat ini adalah 125 perawat.

“Itu (125) idealnya. Tetapi, mencukupi 80 persennya saja sudah bagus. Memang seharusnya untuk satu pasien dijaga itu perawat. Tetapi kan tidak mungkin saat ini. Untuk itu, kami sangat membutuhkan tambahan SDM,” papar Ansyori.

Mantan Kepala Rumah Sakit Kota Agung tersebut menambahkan, kebanyakan pihak keluarga yang membawa pasien meminta untuk langsung dirawat inap. Oleh karena itu pihak RSJ harus melakukan seleksi ketat kepada calon pasien.

‘Jadi memang dokter harus menyeleksi ketat, mana saja pasien yang harus berobat jalan mana yang dirawat inap. Karena memang tempat kami terbatas. Bukan kami menolak pasien, tetapi ya kan tidak mungkin pasien mau dijejalkan di kamar,” kaut Ansyori.

Belum BLUD Penuh

Lalu mengapa RSJ tidak merekrut perawat untuk menambah jumlah SDM sehingga bisa memaksimalkan liga gedung baru yang sudah berdiri sejak 2015 lalu? Ansyori mengungkapkan, status RSJ bimpung yang hingga saat ini belum sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) penuh.

“Status itu (BLUD bertahap) yang membuat kami tidak bisa menambah SDM. Karena status BLUD bertahap mengharuskan kami untuk tetap setor ke kas daerah sebesar 25 persen dari pendapatan kami. Kalau dinominalkan itu berarti sekitar Rp 2,5 miliar kami setor ke kas daerah,” katanya.

Sementara, kata Ansyori, angka itu bisa digunakan untuk menambah SDM hingga 30 orang. Dengan menambah perawat, tiga gedung baru yang sudah berdiri bis; difungsikan. Sehingga, kapasitas pasien yang tertampung pun bisa bertambah.

“Sebenarnya bisa saja kami menambah SDM. Tapi bagaimana kami menggajinya? 44 persen dari pendapatan kami bayarkan ke jasa. Sisanya, 31 persen untuk operasional. Pendapatan kami sekitar Rp 10 miliar per tahunnya. Sedangkan untuk rekrut PNS tidak bisa, karena masih moratorium,” ujar Ansyori.

Penderita gangguan jiwa di Lampung, dalam dua tahun terakhir, mengalami peningka-tan. Faktor biologis antara lain karena ada ketidakseimbangan zat kim ia yang ada di otak, tnen-jadi penyumbang terbanyak pasien dirawat.

Kepala Bagian Humas Rumah SakitJiwa (RSJ) lempung David mengatakan, berdasarkan data yang ada, memang terjadi peningkatan angka penderita gangguan jiwa yang berobat ke RSJ. Baik itu rawat jalan maupun rawat inap. Untuk rawat jalan, sepanjang 2015 sebanyak 37.490 orang dan pada
2016 sebanyak 32.391 orang.

Sementara untuk rawat inap, kata David, sepanjang 2015 sebanyak 1.329 orang dan 2016 sebanyak 2.020 orang. “Data yang ada itu langsung rekap per tahun, jadi bukan per bulannya. Sedangkan untuk Tahun 2017 ini ya belum terekap. Yang jelas pasien yang datang ke sini (RSJ) setiap harinya bisa mencapai 200 orang dan minimal lima orang dirawat inap,” kata David. (val)