Published On: Tue, Mar 7th, 2017

Grafiti Bersama untuk Ubah Stigma

BERITABENAR- Berita yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah ketika panas matahari terasa begitu menyengat di Dusun Bauresan RT 004/RW 001, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri, Minggu (5/3). Berbekal kuas dan cat, sejumlah pemuda menggoreskan cairan wama-wami di kedua sisi tembok di Dusun tersebut. Goresan cat mereka membentuk karya seni berupa mural dan grafiti.

Tak terkecuali Dicky Arif Probo Darma wan, pemuda asal Klaten itu datang untuk memeriahkan acara Write Tbgether 03. Dicky bersama rekan-rekannya tergabung dalam Paint Syndrome Crew. “Saya ke sini diundang sama panitia.

Senang bisa menggambar sekaligus bertemu rekan-rekan graffiti writer dari luar daerah,” ujar dia kepada Espos sembari mengguratkan kuasnya di tembok.

Tengkorak adalah gambar yang dipilih Dicky untuk mengisi tembok salah satu warga yang usang. Tak ada maksud lain kecuali niat menggambar yang ia hadirkan melalui gambar tengkorak tersebut. Dicky merasa senang warga Dusun Baureksan memersilakan temboknya untuk ditumpahi cat yang menghasilkan karya seni.

“Seni mural dan grafiti sampai sekarang masih belum mendapat tempat di masyarakat. Arep ijina kaya apa (Mau minta izin seperti apa pun], masyarakat masih memandang sebelah mata seni mural dan grafiti. Padahal ini beda dengan vandalisme,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Panitia Write Together 3, Muhammad Dihyah Al Qolby, mengatakan acara tersebut merupakan kali ketiga yang digelar oleh Wonogiri Street Art. Kedua acara tersebut masing-masing digelar di bekas gudang arang, Kelurahan Wonokarto, Kecamatan Wonogiri dan di bekas Pabrik PT Air Mancur, Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.

“Melalui acara ini, kami ingin mencoba mengubah stigma masyarakat bahwa mural dan grafiti tidak sama dengan vandalisme. Mural dan grafiti tidak sekadar corat-coret, namun memiliki nilai estetika dan seni. Dan ini kami lakukan atas seizin warga setempat. Tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari,” ucapnya.

Sebanyak 55 graffiti writer dari Salatiga, Semarang, Klaten, Jogja, Solo, Sukoharjo, Boyolali, Sragen, dan Purwodadi mengikuti acara tersebut. Masing-masing dari mereka mendapat jatah tembok sepanjang 2,5 meter (m) sebagai kanvas.