Published On: Thu, Mar 9th, 2017

Petasan Satu Temuan Besar Bangsa Tiongkok

BERITABENAR- Berita yang sedang hangat dibicarakan saat ini sejarah petasan bermula dari negeri Tiongkok. Sekitar abad ke 9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampur tiga bahan bubuk hitam yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang dan arang dari kayu yang berasal dari dapurnya.

Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar. Jika ketiga bahan tersebut dimasukan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya yang lalu dibakar dan akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya mengusir roh jahat.

Keberadaannya pertama kali diperkenalkan oleh salah seorang pendeta Tiongkok bernama Li Tian pada saat dinasti Song (960-1279 M). Li yang pada saat itu tinggal di dekat kota Liu Yang, Provinsi Hunan, memang menggunakan petasan ini sebagai salah satu perangkat beriba-dahnya. Kala itu, petasan yang masih terbuat dari mesiu yang dimasukkan ke dalam bambu dibunyikan tiap kali dilakukan upacara pengusiran setan. Pada saat itu juga mulai didirikan pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api.

Bahan baku tabung diganti dengan gulungan kertas yang kemudian dibungkus dengan kertas merah dibagian luarnya. Kemudian petasan ini menjadi dasar dari pembuatan kembang api, yang lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di udara.
Seiring perkembangan zaman, pada abad 15 kembang api dan petasan mulai beralih fungsi. Secara perlahan, keduanya digunakan untuk merayakan berbagai kegiatan mulai dari perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana, upacara-upacara keagamaan dan perayaan-perayaan besar masyarakat Tiongkok lainnya.

Tradisi membakar kembang api dan petasan ini pun lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia. Lewat kembang api dan petasan inilah dunia pertama kali mengenal keberadaan mesiu. Lewat beberapa pengembangan yang dilakukan oleh para ahli, yang pada akhirnya kembang api dan petasan pun bisa direkayasa sehingga bisa digunakan sebagai bahan peledak hingga roket.

Upacara

Di Asia sendiri, tradisi petasan itu dibawa sendiri oleh orang Tionghoa. Warga Tionghoa memiliki tradisi natara lain upacara di laksanakan di sepanjang rute perjalanan dewa yang secara otomatis menggantung petasan berwarna merah.

Ketika para dewa melintas, tanpa dikomandoi petasan langsung dihidupkan. Bunyi petasan yang digantung beberapa baris itu memekakkan telinga. Saat bersamaan rombongan para dewa akan melintas. Sontak warga Tionghoa akan meneriakkan hua la…!. Makna dari itu semua, bagaimana setelah roh jahat diusir dengan menggunakan petasan, maka teriakan hua la berarti harapan membawa keberuntungan. Sehingga rezeki yang berlimbah bisa menghampiri setiap warga Tionghoa.

(rpc/ti/ar)