Published On: Tue, Feb 28th, 2017

Bersama Bangun Riau, Kembangkan Sektor Non Migas

BERITABENAR-Pemprov Riau terus berupaya membangun Riau agar lebih -baik lagi. Sektor baru yang sejalan dengan pusat terus diperluas. Di antaranya sektor kemaritiman, seperti pengembangan dan penggalian potensi perikanan, serta mendorong peningkatan infrastruktur pelabuhan di Riau. Kemudian sektor pari wisata yang sudah jadi barang seksi selama pemerintahan Gubenur Riau (Gubri)

H Arsyadjuliandi Rachman untuk terus dikedepankan melalui sinergi seluruh sektor dan Pemkab/Pemko.

Senin (27/2), Pemprov Riau melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Riau menggelar Forum Konsultasi Publik di Hotel Aryaduta. Kegiatan selama lima jam ini sebagai salah satu rangkaian proses penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2018. Hadir pada kegiatan ini Gubri, Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi, Kepala OPD lingkungan Pemprov keseluruhan, seluruh unsur pimpinan dan Ketua DPRD Riau Septina Primawati. Tokoh masyarakat Riau, akademisi, profesional dan swasta juga diundang untuk merangkum program strategis Riau ke depan.

Kepala Bappeda Riau Rahmad Rahim mengatakan, kegiatan kemarin dilakukan setelah awalnya Gubri memberikan arah-arah kebijakan prioritas daerah ke seluruh OPD. Setelah kegiatan tersebut, baru kemudian dilakukan Forum Konsultasi Publik guna menyaring aspirasi dari tokoh masyarakat dan mantan pejabat Riau.

“Setelah kegiatan ini, selanjutnya akan dilakukan Forum OPD membahas kegiatan usulan 2018, tentunya berdasarkan prioritas daerah. Prioritas inilah yang dijaga. Jangan sampai nanti OPD mengusulkan tapi tidak menyangkut prioritas daerah,” ujarnya.

Sementara Ahmad Hijazi mengatakan beberapa poin penting yang menjadi catatan pihaknya dari kegiatan tersebut di antaranya bagaimana mendayagunakan sektor perikanan dan kelautan. Salah satunya dengan mengembangkan konsep budidaya. Kemudian lanjutnya, adanya masukan tentang peningkatan kapasitas anggaran, di mana harus optimis untuk dapat mengejar target-target pendapatan asli daerah (PAD). Kemudian juga mengejar dana bagi hasil, termasuk dorongan bagaimana memperbaiki struktur ekonomi.

“Juga ada masukan supaya Pemprov melakukan langkah-langkah kongkret dalam rangka strategi mendayagunakan sumber daya pertanian. Di mana harus ada fokus untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kemandirian desa,” paparnya.

Di samping masukan yang diterima melalui forum itu, diakui Sekdaprov pihaknya banyak juga menerima masukan melalui web-site dan e-mail.

“Masukan seperti ini juga menjadi refleksi terhadap apa yang dilakukan OPD. Sehingga banyak hal yang didapatkan dari masukan publik seperti ini yang sangat bermanfaat,” tambahnya.

Gubri pada kesempatan tersebut memaparkan tentang perekonomian, sektor jasa dan pengembangan yang coba dikembangkan sayapnya oleh Riau. Sehingga diharapkan mampu mengangkat sektor-sektor unggulan yang selama ini telah menurun drastis, seperti Migas dan SDA. Menurut Gubri, berdasarkan perhitungan Pemprov Riau, PDRB yang meningkat di dalamnya ada konsumsi dan investasi. Dijelaskannya tabungan yang ada di masyarakat yang terpakai, karena dari sisi pertumbuhan ekonomi turun disebabkan sektor Migas yang mengganggu.

“Akibatnya pendapatan turun, seharusnya daya beli turun, tapi malah sektor properti meningkat. Dari mana? tentunya dari tabungan yang ada itulah yang mendorong PDRB kita, karena sektor perumahan di Riau nomor 4 terbesar di Indonesia,” katanya.

Kemudian pertumbuhan pariwisata Riau berdasarkan data Ke-menpar RI Desember 2016 berada pada posisi nomor dua di Indonesia.
“Untuk kunjungan ya, persentase pertumbuhan pariwisata kita meningkat,” Andi Rachman (sapaan akrab Gubri).

Diakui Gubri memang belum signifikan. Sehingga harus ada sektor lain lagi yang mampu mendorong. Salah satunya sudah terbukti dari sektor pertanian dan perikanan yang menjadi sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan jasa perdagangan.

Kemudian dijelaskan Gubernur di hadapan seluruh hadirin yang dipertegas pengolahan dan manufaktur juga harus ada di Riau. Karena Riau ditegaskannya punya peluang. Begitu pula perikanan, dipaparkannya belum optimal digarap, sementara potensinya besar.

Dikatakan Gubri, untuk manufaktur pengembangannya harus melalui ekonomi kreatif, pakaian, tenunan dan juga dalam bentuk ekonomi kreatif lain. “Ini bisa didorong di kabupaten/kota,” tegasnya.

Mengenai penganggaran, terutama 2018 mendatang dikatakan Gubri dalam tahun berjalan ada tambahan-tambahan dari APBN. Karenanya mengawali tahun ini ditegaskannya sudah dijalin koordinasi dan sudah ada OPD Pemprov bersama kabupaten/kota untuk jemput bola. Sehingga daerah dapat menyiapkan proposal tentang rencana kerja pusat. Sehingga tercipta sinkronisasi dan seluruh instansi dimintanya serius dalam membahas.

“Dukungan Presiden maupun Wapres, penambahan kegiatan nasional di Riau terus bertambah, baik langsung dalam APBN maupun investasi BUMN. Jadi kita harus sejalan, dilanjutkan dalam pertemuan ini dan sebelumnya serta kedepan,” paparnya.

Gubri juga mengimbau kepada para investor yang memperoleh keuntungan di Riau diminta untuk terlibat langsung dalam pembangunan dan ekonomi kerakyatan. Sehingga terciptalah simbiosis mutualisme tidak hanya sebatas mengeruk potensi yang ada di Riau tetapi tidak memberikan kontribusi bagi daerah.

Menurut laporan yang diterima Andi Rachman, jumlah transaksi investor di Riau pada tahun 2016 sesuai data yang disajikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Riau tercatat mencapai Rp6,5 triliun.

“Bursa Efekmelaporkan hampir Rp7 triliun transaksi investor di Riau. Saya terang-terangan aja, jangan semua uang yang didapat di Riau itu dibawa semua ke Jakarta,” pesannya.