Published On: Mon, Feb 27th, 2017

Betor Menjadi GoCak, Mengapa Tidak?

BERITABENAR-ADA “keramaian” di Medan yang tidak kalah menarik dari aksi 212 seri kedua di Parlemen Jakarta, Selasa 21 Februari. Bila di Jakarta aksi 212 oleh puluhan ribu umat memenuhi kawasan sekitar Parlemen untuk menyuarakan tuntutan pemberhentian sementara Gubernur DKI Jaya BTP (Basuki Tajaha Purnama) karena telah menyandang status terdakwa dalam kasus penistaan agama, maka di Medan ratusan abang becak bermotor (betor) mendemo Kantor Walikota Medan guna mendesak penghentian operasional angkutan berbasis online, Gojek dan GoCar yang sudah hadir di Medan sejak tahun lalu.

GoJek adalah angkutan dengan moda sepeda motor sedangkan GoCar memakai moda mobil. Pemanfaatan jasa kedua angkutan tersebut berbasis online (internet). Dengan demikian pemesanannya menjadi sangat mudah. Calon penumpang tidak perlu menuggu di pinggir jalan atau halte sebagaimana halnya menunggu betor. Cukup memencet tuts ponsel an-droid untuk menghubungi operator administrasinya. Dalam hitungan menit sudah bisa muncul si GoJek di titik lokasi pemesan. Cukup praktis.

Selain lebih mudah, tarif angkutan online juga relatif lebih murah. Contoh, angkutan GoJek dari Medan Mal di pusat kota menuju kawasan Mandala By Pass di belahan timur tarifnya “hanya” sekitar RplO ribu. Besaran tarif ditetapkan oleh operator – bukan si driver – berdasarkan jarak tempuh. Harga ini lebih murah dari tarif betor melalui negosiasi langsung, bisa antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.

Dengan demikian masuk akal bila penumpang yang sendirian dan tak membawa bawaan berat lebih memilih GoJek. Kenyataannya, semakin lama semakin ramai pemanfaat angkutan online dan sebaliknya peminat betor pun menjadi berkurang. Dampaknya, pendapatan para abang becak pun cenderung terus merangsek turun. Inilah problemnya dan lalu menyulut protes!

Angkutan becak di Medan – dan juga di kota-kota lain di Sumatera Utara – sudah melegenda. Peranannya dalam melancarkan mobilitas penumpang dan barang bawaan tidaklah kecil. Sebenarnya, angkutan lokal Kota Medan (dulu Deli) pada era penjajahan Belanda diawali dengan sado, kereta yang ditarik oleh kuda dan cukup lama berlangsung. Untuk “mengabadikan” perannya sampai-sampai dijadikan nama satu jalan (Jalan Gang Sado) tetapi kemudian diganti dengan nama salah seorang pejuang Angkatan-66 antikomunis, Ibrahim Umar.

Seiring waktu, pada 1960-an berkembang becak dayung beroda tiga, yakni sepeda (kereta angin) yang dilengkapi bak tempat duduk penumpang di bagian kiri sepeda yang dihela oleh menusia. Konstruksinya beda dengan becak Jakarta yang menempatkan penumpang di bagian depan sedangkan si abang becak menggohet becak dari belakang. Pada suatu era, becak dayung Medan ini ditempeli mesin (rex) untuk membantu memutar rantai. Suaranya bising dan berasap (BBM dari minyak campur). Pada saat bersamaan muncul becak bermesin memakai sepeda motor Eropa (di antaranya, Goebel) dengan suara lebih halus menggantikan mesin tempel, sebelum pada akhirnya digantikan lagi oleh
sepeda motor bikinan Jepang semisal Honda yang speed-nya lebih kencang. Dari ringkasan sejarah itu, benarlah bila becak Medan yang khas dan dapat disebut tra.de-mark Kota Medan dan atas dasar itu pula layak memperoleh perlindungan!

Pada suatu era, pemerintah kota memberlakukan pembatasan ruang gerak becak dayung, yakni hanya boleh beroperasi di pinggiran kota. Belakangan betor pun tidak diizinkan memasuki jalan-jalan protokol seperti Jalan Sudirman. T\ijuannya untuk mengendalikan kemacetan lalu lintas dan penumpukan (kemacetan). Maklum -harus diakui – memang banyak di antara abang becak kurang (mengerti) disiplin berlalu lintas! Ini terjadi – karena bila harus jujur pula – para abang becak tergolong masyarakat menengah ke bawah dan karena itu kurang memperoleh bimbingan dan perhatian pemerintah lokal. Tidak berlebihan bila ada yang menyimpulkan para abang becak masuk kelompok yang terabaikan dan hanya “disanjung” dan “diperhatikan” pada saat-saat tertentu, misalnya menjelang pemilihan umum oleh para calon legislatif dan kandidat kepala pemerintahan.

Mereka hanya di-terge (diingat) saat ingin mengeksploitasi suaranya dalam sistem pemilihan one man one votel TYagis, memang.
Seiring kemajuan zaman, moda angkutan berbasis online yang datang terakhir memang sudah jadi fenomena. Sebelum hadir di Medan, sudah lebih dulu “mewabah” di Ibukota, Jakarta, dan beberapa kota lain (Surabaya, Bandung). Seperti halnya di Medan, kehadirannya juga memperoleh resistensi (penolakan) dari praktisi angkutan tradisional. Aksi penolakan itu sebenarnya sangat rasional. Faktornya, sesuatu yang baru mengancam kemapanan tradisional. Kehadiran fenomena online (internet) pada kehidupan kini juga sudah merupakan keniscayaan. Teknologi informasi (TI) adalah fenomena global.

Mau tidak mau sudah memasuki budaya kita sekarang! Pilihan kita hanya dua: mengadopsi dan sekaligus memanfaatkannya untuk membantu perolehan nilai-tambah kehidupan atau mengabaikannya dengan membiarkan kita tergilas oleh kemajuan zaman hingga menjadi “masyarakat purba” pada era modern hanya karena gaptek (gagap teknologi).

Pertanyaannya sekarang, adakah cara menyelamatkan dua kepentingan paradoks itu, yakni menyelamatkan becak tradisional Medan dan menerima kahadiran GoJek, sekaligus? Jawabannya ada pada pemegang otoritas lokal dan mestinya bisa! Sebab, bila saja: (a) seluruh abang becak bisa didata, kemudian (b) angkutan becaknya bisa direvitalisasi agar memenuhi standar keselamatan dan berpenampilan up to date, lalu (c) para abang becak “sang pahlawan” kita diajak masuk asosiasi untuk memudahkan pembinaan (tampilan, keterampilan, disiplin lalu lintas), dan selanjutnya (d) dibantu mengorganisasikan operasional mereka agar menjadi efektip dan efisien termasuk melalui penerapan TI, maka nasib “sang pahlawan” kita terselamatkan dan budaya berbasis tamaddun (kemajuan) pun dapat berjalan seiring.

Maka, bila pemegang otoritas lokal -yang antara lain dipilih oleh para abang becak – bersedia hadir di tengah warganya yang sedang galau dan lalu berpikir cerdas mengatasi problem warganya – memenuhi janji-janji kempanyenya – maka GoCak (Go Becak) bisa jadi kenyataan, bukan lagi hal mustahil! Bagaimana pendapat Anda? *

Chairuddin Pasaribu,Penulis warga Mandala, Medan