Published On: Tue, Nov 3rd, 2015

Biaya Angkut Sherpa Mahal, Ratusan Mayat Bertumpuk di Puncak Everest

Manusia tidak akan pernah bisa menang melawan alam. Mungkin itulah yang tergambar ketika kita membaca berbagai artikel mengenai banyaknya korban bergelimpangan karena kurangya persiapan ketika melakukan pendakian ke puncak gunung.

Sebagai puncak tertinggi di dunia, Everest pastinya menjadi salah satu destinasi utama bagi para pecinta gunung di seluruh dunia. Namun dibalik keindahan alamnya, ada berbagai tantangan berbahaya yang harus dilewati para pendaki. Bahkan, banyak para pendaki yang harus rela kehilangan nyawanya ketika mencoba untuk menaklukan puncak gunung Everest.

Gunung yang terletak di perbetasan antara Nepal dan Tibet ini ternyata memiliki sebuah kuburan masal yang terdapat pada ketinggian 8.000 mdpl bernama Death Zone. Di ketinggian tersebut, banyak para pendaki yang kehilangan nyawanya dikarenakan berbagai penyakit seperti hiportemia, edema atau bahkan badai salju yang muncul secara tiba-tiba.

yohanes chandra ekajaya

Tumpukan mayat yang berada di Death Zone tersebut dibiarkan menumpuk begitu saja dikarenakan mahalnya biaya angkut yang harus dibayar kepada para Sherpa. Sherpa sendiri merupakan masyarakat yang hidup di lereng-lereng pegunungan Himalaya yang sering membantu para pendaki gunung untuk mencapai puncak Everest.

Seorang pendaki yang berhasil sampai ke puncak Everest bernama Sofyan Arief Fesa menuturkan jika untuk menurunkan korban tewas yang ada di puncak everest, keluarga korban harus mengeluarkan biaya sekitar 4.000 USD atau jika dirupiahkan menjadi sekitar Rp. 54 juta. Seperti yang dilansir Berita Benar dari laman Detik (3/11/2015).

Namun menurutnya, walaupun para pendaki menemukan mayat bergelimpangan di Death Zone, namun semangat mereka tidak pernah luntur untuk mencapai puncak yang memang sudah menjadi tujuan awal para pendaki gunung.

<fjr>