Published On: Thu, Feb 23rd, 2017

Dari Operator Warnet hingga Jadi Owner Properti

BERITABENAR- Miskin dan kaya memang takdir yang tidak bisa ditebak. Berawal dari merantau untuk sekolah S MA di Malang 20 tahun yang lalu, pria yang lahir di Bondowoso ini lulus SMK Telkom pada tahun 2000. Pada saat itu tengah booming perusahaan seluler mencari lulusan IT sehingga Rendra muda pun ikut tes kerja, tetapi dia gagal di tes tahap akhir. “Saya juga pernah mencoba masuk kepolisian. Namun, saattesmata, saya gagaL Akhirnya, saya menjadi penjaga warnet di daerah Kayutangan,” jdas pria berumur 35 tahun tersebut ketika berbincang dengan Jawa Pos Radar Malang.

Selama tiga tahun menjadi penjaga warnet, Rendra juga ikut berbagai bisnis jaringan (MLM), tetapi keberuntungan belum berpihakkepadanya. Kemudian, dia mengamati salah seorang pelanggan wamet yang awalnya berpenampilan biasa saja. Kemudian, orang yang diamati tersebut menjadi sukses hingga bisa membeli mobil sendiri. Dari situ, dia tergugah, lalu belajar dengan pelanggannya tersebut yang ternyata seorang pelaku MLM di jaringan online.

Laki-laki penggemar kuliner bakso itu pun memutar otak untuk mencari cara mengembangkan bisnis yang ditekuninya tersebut. Selanjutnya, Rendra mengajak salah satu teman yang kuliah di Universitas Brawijaya (UB) untuk membuat e-book dengan sistem jaringan. “Sepeda motor satu-satunya yang saya miliki saat itu, saya gadaikan untuk modal,” ungkapnya.

Pada saat itu, orang-orang tengah ramai menggunakan internet sehingga membuat Rendra sukses dengan aplikasi yang dibuatnya. Sepeda motor yang sempat digadaikannya, akhirnya bisa ditebus kembali. “Sepeda motor yang saya gadaikan selama enam bulan itu ternyata digunakan untuk mencari rumput sehingga kondisinya sangat tidak layak pakai,” kenang laki-laki yang memiliki tiga anak tersebut, lalu tersenyum.

Tidak berhenti di situ, hasil penjualan e-book berbasis jaringan ini juga berhasil membeli rumah pertama di kawasan Sigura-Gura. Rendra pun pernah berbisnis pulsa operator seluler, membuka agen properti, bisnis forex, ekspor-impor, hingga semua seminar motivasi dan bisnis diikutinya. “Akhirnya, saya bisa membeli warnet, tempat kali pertama saya bekerja sebagai penjaga warnet,” ungkap pria yang lebih suka naik motor itu.

Pada 2011, cita-citanya memiliki passive income rumah kos juga berhasil. Rendra membeli rumah lama, lalu dibongkar sehingga menjadi rumah kos yang bagus. Pria yang suka tantangan ini terus melakukan gebrakan-gebrakan demi mencapai impiannya. Bahkan, dia menjual rumah kos yang dimiliki dengan keuntungan hampir Rp 1 miliar.

Setelah itu, Rendra baru menggeluti bisnis di dunia properti dengan membangun cluster Permata Sigura-Gura yang berisi 33 rumah kos dan 6 unit ruko di kawasan belakang Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Setelah sukses dengan proyek tersebut, Rendra membeli lahan seluas 1,7 hektare di Tunggulwulung untuk dibuat perumahan. Bahkan saat ini sudah perluasan 0,5 hektare lagi di belakangnya.

Dalam perjalanan suksesnya, sangat banyak rintangan yang dialami sehingga membuat laki-laki sederhana tersebut makin dekat dengan agama. Hingga akhirnya, Rendra memutuskan bergabung dengan komunitas Anti Riba di Kota Malang. Makin dekatnya dengan agama itulah yang melatar belakangi perubahan konsep perumahannya menjadi perumahan Islami. Kemudian, perumahan itu diberi nama De Prima Tunggulwulung.

Proyek De Prima tersebut diserahkan kepada direktur dan kepala proyek, sedangkan Rendra lebih fokus untuk pengembangan proyek baru yang berkonsep Islami. Namun, karena menggunakan konsep perumahan Islami, proyek idealnya tidak menggunakan bank sama sekali.

Oleh karena itu, sekarang ini, tim yang dikomandaninya sedang fokus mencari investor untuk diajak bekerja sama. “Di Australia dan Singapura sudah banyak project development non bank interest. Sebab, hal terpenting adalah sistem yang digunakan profesional dan fair,” jelas laki-laki berkacamata itu.

Sejatinya, Rendra memiliki impian besar saat membangun konsep perumahan Islami ini. Dia ingin perumahan Islami digunakan untuk kalangan menengah ke bawah yang sekarang ini kesulitan memiliki rumah.

Apalagi, harga rumah dan tanah di Kota Malang sangat mahal. “Semoga, ada investor pemilik tanah atau pemilik modal yang mau bekerja sama dengan kami. Sebab, kami mempunyai sumber daya manusia (SDM) andal, bahkan mereka siap menjadi operator proyek khusus perumahan Islami,” pungkas Rendra. (bin/c3/dik)