Published On: Wed, Jan 13th, 2016

Dianggap Ilegal, Gafatar Akan Terus Diusut Keberadaannya Oleh MUI

Organisasi Gerakan Fajar Nusantara atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Gafatar, merupakan suatu organisasi yang meresahkan khususnya bagi warga Indonesia. Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama menegaskan bahwa Gafatar itu tidak terdaftar dalam Kementerian Dalam Negeri dan ilegal.

Sejak insiden hilangnya warga yang disinyalir ikut aliran Gafatar itu, Lukman mengatakan bahwa hingga saat ini aparat penegak hukum masih melakukan penyelidikan lebih intensif terkait keberadaan Gafatar.

Menurut kajian MUI, Gafatar tidak mengikuti salah satu ajaran atau agama yang menjadi aliran utama manapun. Menurutnya, gerakan ini tidak pernah menyatakan diri sebagai organisasi Islam, karena ingin menyatukan agama Nabi Ibrahim seperti Islam, Yahudi, dan Kristiani.

“Kalau dilihat dari sisi keormasan, Gafatar itu ilegal dan jika dilihat dari sisi keagamaan mereka juga bukan agama Islam, Kristen, Yahudi, dan seterusnya. Tentunya ini bukan organisasi yang layak untuk diikuti masyarakat,” ujar Lukman.

Keberadaan Gafatar ini sangat meresahkan bagi masyarakat, karena bisa mengancam keamanan selayaknya kelompok radikal. Lukman juga menyampaikan, tim penelitian dan pengembangan (litbang) Kementerian Agama bekerjasama dengan polisi, Kemendagri, dan Kejaksaan Agung, tengah mendalami kemungkinan tersebut dengan mencari tahu seluk beluk soal organisasi, motif yang melatarbelakangi penyebarluasan paham ini, dan apakah ada afiliasi dengan organisasi lain.

“Untuk saat ini kamu belum bisa memberikan keterangan yang pasti apakah ini semata-mata paham keagamaan saja atau ini hanya dijadikan cover atau bungkus saja, tapi kemudian ada agenda lain yang kami enggak tahu,” ungkap Lukman.

Demi keamanan masyarakat, maka Lukman dengan pihaknya akan terus menggali segala informasi melalui orang-orang yang sudah ditemukan dalam rangka melakukan konfirmasi dan klarifikasi mengenai kegiatan apa saja dan hal-hal apa saja yang dihadapi ketika menghilang, sehingga bisa didapatkan data-data yang lebih akurat. Lukman juga belum bisa memastikan, Gafatar ini apakah ada keterlibatan pemimpin Al-Qiyadah Al-Islamiah, Ahmad Musadeq, meski ada kecenderungan dan dugaan yang mengarah ke sosok itu.