Published On: Tue, Feb 28th, 2017

Diskusi Kebebasan Pers di UIN Bandung

BERITABENAR-TSUNAMI informasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi gambaran bagaimana media di era modern yang dinilai ke-l bablasan dalam memaknai kebebasan pers.

Banyak pemberitaan yang malah menyesatkan dibanding membuat solusi di masyarakat. Keresahan ini yang muncul pada diskusi bertema Kebebasan Pers Perspektif Sosial Budaya Sejarah yang digelar oleh Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) di Gedung Student Center lantai satu Universitas Is-larri Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (15/2/2017). Menga-hadirkan dua pemateri yaitu Ketua Aliansi Jurnalis Independen Bandung, Adi Marseila dan Wartawan Tribun Jabar, Tarsi.

Menurut Adi Marseila banyaknya berita hoax yang beredar tersebut akibat dari pers yang tidak independen. Adi menjelaskan kondisi ini dalam perspektif sejarah, Ia berkisah pers zaman Orde Baru banyak diberedel dan dikekang oleh pemerintah. Sementara hari ini pers begitu bebas seolah tanpa batasan.

Independesi media, kata dia menjadi kunci bagaimana memerangi berita-berita hoax yang menjamur beberapa tahun terakhir. “Hakikatnya media cetak independen meski kertas dan tintanya milik pribadi karena hal tersebut milik pribadi. Media bisa dengan bebas menyatakan mereka men-‘ dukung keberpihakannya,” katanya.

Pers yang independen punya sikap terhadap suatu isu. Adi mencontohkan media Jawa Pos yang mendeklarasikan diri mendukung Jokowi. ” Dari situ
maka pembaca tidak merasa tertipu karena sudah ada pernyataannya berbeda dengan media lainnya,” ucap Adi.

Hal serupa juga disampaikan Tarsi. Menurut dia, media harus melakukan intropeksi dan otokritik sehingga apa yang diberitakan media mampu untuk dipertanggungjawabkan. Independensi media ini menjadi kunci untuk memberikan informasi yang sebenar-benarnya.

Diskusi bertajuk “Rumpi Ririwa” ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Bandung bekerja sama dengan beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa seperti Lembaga Pers Mahasiswa Suaka, Jaringan Anak Sastra UIN SGD Bandung, dan media kampus @infouinsgd.

Penulis – (Fani Nabilah Farsl, mahasiswa Ahwal Syakhsiyah (Hukum Keluarga Islam) UIN SGD Bandung)