Published On: Wed, Feb 17th, 2016

Gara-gara BBM Bersubsidi Pensiun, Program RFID Dihapuskan

yohanes chandra ekajaya

Pemerintah batal membuat program pencatatan pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang direncanakan menggunakan Radio Frequency Identification (RFID) menyusul pencabutan subsidi premium. Sejak tahun 2013, program Radio Frequency Identification (RFID) ini sudah di gagas dan diujicobakan di sejumlah Stasiun Pengisan Bahan Bakar Umum (SPBU) dan dipasang di ribuan kendaraan bermotor di Indonesia.

Setyorini Tri Hutami selaku Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa program yang selama ini berjalan telah dihentikan setelah premium tak lagi disubsidi sejak 1 Januari 2015.

“Subsidi sudah tidak ada, jadi sudah pasti dibatalkan,” ujar Rini di Jakarta.

Padahal sebelumnya PT Pertamina sudah di tunjuk Pemerintah untuk mengendalikan konsumsi BBM subsidi dengan menggunakan program RFID. Tai terkait itu, Pertamina telah memenangkan PT Inti sebagai penyediaan RFID yang akan dipasang ke 100 juta kendaraan.

Dalam penawarannya, PT Inti memasang harga RFID sebesar Rp18 per liter untuk setiap perangkat yang dipasang, dan Rp20,74 untuk setiap liter yang disalurkan ke tangki bensi kendaraan. Dengan pemberhentian program RFID ini, Rini mengungkapkan bahwa pemerintah siap mengganti investasi yang telah dikeluarkan Pertamina dan Inti.

Ahmad Bambang selaku Direktur Pemasaran Pertamina ikut berkomentar setelah disinggun mengenai nilai investasi yang telah digelontorkan Pertamina di program RFID enggan merinci.

“Karena ini sesama BUMN (Badan Usaha Milik Negara), difasilitasi oleh Kementerian BUMN dengan pendampingan dari BPKP (Badan Pengawasa Keuangan Pembangunan),” ujarnya singkat seperti yang Berita Benar kutip dari CNNIndonesia, Selasa (16 Februari 2016).