Published On: Tue, Sep 29th, 2015

Gebrakan Terbaru, Pemerintah Naikkan PPN Rokok jadi 8,7%

Tahun ini, Pemerintah akan menaikkan tarif efektif Pajak Penambahan Nilai (PPN) untuk produk hasil tembakau. Bermula dari hasil 8,4 persen dan sekarang menjadi 8,7 persen dikalikan dengan Harga Jual Eceran.

Penaikan harga ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 174/PMK.03/2015 tentang Tata Cara Penghitungan dan Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Hasil Tembakau, yang terbit pada 21 September 2015 dan efektif berlaku per 1 Januari 2016. Peraturan tersebut memberikan dampak yang terhadap tarif efektif PPN atas penyerahan hasil tembakau sebesar 8,4 persen.

Peraturan yang akan diberlakukan awal 2016 sekaligus mencabut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 62/KMK.03/2001 tentang Dasar Penghitungan, Pemungutan, dan Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Hasil Tembakau. Produk tembakau yang akan dikenakan PPN itu meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya.

Bambang P.S.Brodjonegoro selaku Menteri Keuangan menjelaskan bahwa Dasar Pengenaan PPN mulai dari harga jual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor, atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Untuk penjualan harga eceran atau yang disebut HJE itu akan terdiri dari dua macam yang akan dijadikan faktor penaikkan PPN yaitu HJE untuk penyerahan hasil tembakau dan HJE untuk jenis dan merek yang sama, yang dijual untuk umum setelah dikurangi laba bruto.

Dengan adanya ketentuan terbaru itu maka hasil impor tembakau yang sudah melunasi PPN tidak akan dikenakan lagi PPN impor. Namun, impor hasil tembakau yang telah memperoleh fasilitas pembebasan cukai tetap dikenakan PPN impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan.

<ncs>