Published On: Tue, Feb 28th, 2017

Ibracadabra, MU Juara

BERITABENAR-ZLATAN Ibrahimovic baru tujuh bulan menjejak tanah Inggris. Tapi, sentuhan Raja Midas belum menghilang darinya. Midas adalah salah seorang raja dalam mitologi Yunani. Dia adalah figur yang terkenal karena kemampuannya untuk mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas.

Kemampuannya disebut sebagai sentuhan emas atau sentuhan Midas. Inilah yang telah Ibracadabra, julukannya buktikan dalam final EFL Cup di Wembley, London, Senin (27/2) dinihari.

Dengan dua golnya, Ibra membantu lose Mourinho memberikan trofi keduanya di musim ini bagi Manchester United. Southampton dipecundangi 2-3. Dua gol itu masing-masing terjadi pada menit ke-19 dan 87. Satu lainnya dicetak Jesse Lingard menit ke-38. Sedangkan upaya Soton mengejar dari dua gol Manolo Gabbiadini menit ke-46 dan 48.

Begitu ampuhnya sentuhan Ibrahimovic, dua golnya itu jadi gol keenamnya dalam lima kali final domestik terakhir. Atau, jika dirata-rata setiap laga finalnya Ibra mencetak 1,2 gol! “Ini yang saya prediksi, semua yang saya lihat akan terjadi. Jika yang lain belum melihatnya, saya datang ke sini untuk menunjukkannya,” katanya kepada SkySports.

Bagi Ibra, ini trofi keduanya pada musim pertama bersama MU. Trofi domestik ke-30-nya dalam 18 tahun karir sepakbolanya. Uniknya, seakan membuktikan Midas di dalam dirinya, dia yang menentukan dua trofi pada musim pertamanya di Inggris. Selain di EFL Cup kemarin, trofi Community Shield pada Agustus lalu juga dia penentunya.

Kala itu, masih di Wembley, gol penentunya pada menit ke-83 mengantarkan klub yang berjuluk Setan Merah itu menang 2-1 atas juara tim Premier League Leicester City (7/8). Musim belum berakhir, Wayne Rooney dkk pun masih mempunyai dua kans main di laga final yaitu final Piala FA dan Europa League.

Meski, jalan ke dua final itu tidak mudah. Di Piala FA, MU sudah dinanti Chelsea pada babak perempat-final (14/3). Sementara, di 16 Besar Europa League, MU harus melewati FC Rostov terlebih dulu lewat leg pertama pada 10 Maret, dan leg kedua 17 Maret. Mampukah Ibra? “Itulah mengapa saya datang ke sini. Saya datang untuk menang, dan begitu saya menang, saya lebih terpacu memenanginya lebih banyak lagi, lebih dari kepuasan yang saya dapat,” kata pemain pencetak gol terbanyak EFL Cup dengan empat gol dari lima kali bermainnya itu.

Selama laga kemarin, Ibra pemain dengan efektivitas terbaik, 60 persen. Membuat lima kali percobaan, tiga tepat sasaran, dan dua berakhir dengan gol. Dua gol yang dapat dia cetak pun dari kecerdikan dia. Gol pertama dari cerdiknya Ibra membidik sisi bagian kanan atas gawang Fraser Forster.

Gol kedua setelah dia cerdik memanfaatkan celah di antara tiga pemain bek Soton, Maya Yoshida, Jack Stephens, dan Ryan Bertrand. Sebelum Ibra memecah kebuntuan, di dalam 39 menit setelah Soton menyamakan kedudukan MU nyaris frustasi. Tujuh kali membidik gawang Soton, tidak satu pun yang sukses. “Itulah mengapa dia (Ibrahimovic) datang ke sini. Dia datang untukjadi pembeda, kami sudah bisa melihatnya sebelum musim berlangsung. Dia sudah jadi pembeda, saya pun gembira karenanya,” puji gelandang MU, Paul Pogba, sebagaimana dikutip dari ESPN.

Sukses Ibrahimovic ini seakan menjadi kesuksesan periode keduanya dengan Jose Mourinho. Ini mengingatkan sukses keduanya membawa Inter Milan meraih dua trofi di musim 2008-2009. Satu trofi Piala Super Italia, dan satu lainnya scudetto Serie A musim 2008-2009. Bagi Mourinho, trofi EFL kemarin jadi trofi Piala Liga keempatnya sepanjang dia melatih klub Inggris.

Tiga trofi sebelumnya dia dapatkan bersama Chelsea, yaitu di edisi 2004-2005, 2006-2007, dan 2014-2015. Mourinho pun sejajar dengan Sir Alex Ferguson dan Brian Clough yang juara empat kali di Piala Liga. Satu hal yang dikatakan Mourinho tentang Ibra, dia masih butuh Ibra bukan hanya musim ini. Namun, sepanjang tiga musim durasi kontraknya di Old Trafford. Karena itu, dia berharap Ibra menyetujui perpanjangan kontrak semusim lagi yang sudah disodorkan petinggi MU.

Sampai saat ini, Ibra belum menekennya. “Jujur, saya meyakini bahwa dia mampu memenangi banyak laga untuk kami, karena dia luar biasa dalam sebuah pertandingan di mana lawan kami sedang dalam posisi lebih baik dari kami untuk waktu yang lama. Saat di mana saya pikir Soton pantas menahan kami sampai perpanjangan waktu,” tuturnya.