Published On: Tue, Apr 5th, 2016

Inilah Daftar Pengusaha Indonesia yang Masuk ke Daftar Panama Papers

panama papers

Saat ini di berbagai penjuru dunia tengah sibuk membicarakan kebocoran dokumen finansial dari sebuah firma hukum asal Panama, Mossack Fonseca. Dokumen yang bocor tersebut adalah sebuah data investigasi yang berhasil dikumpulkan oleh sebuah organisasi wartawan sedunia yang tergabung dalam International Consortium of Investigate Journalists (ICIJ). Lebih dari 100 organisasi pers di seluruh dunia tergabung dalam ICIJ ini.

Dokumen yang bocor tersebut adalah sebuah data sebesar 2,6 TB yang mana berisi kumpulan dokumen-dokumen dari tahun 1977 hingga awal 2015 yang lalu. Data tersebut bocor dan terungkap ke publik. Data yang bocor tersebut mengungkap sebuah dunia hitam yang disebut dengan offshore (dunia tanpa pajak bekerja). Mossack Fonseca sendiri menjual kerahasiaan finansial kepada politikus, penipu, mafia narkoba, miliuner, selebritas, dan bahkan bintang olahraga kelas dunia, untuk dapat mendirikan sebuah perusahaan di negara surga bebas pajak seperti Panama atau British Virgin Island.

Tak jarang dari sini uang terus mengalir di dalam gelombang global namun tidak satu pun mengetahuinya karena memang dijaga kerahasiaannya. Dari sini juga bukan tidak mungkin lagi praktek ini mendorong orang untuk melakukan praktek kriminalitas, korupsi, perampokan kekayaan negara dari pajak yang memang tidak dibayarkan. Transaksi-transaksi tersebut disembunyikan dalam sebuah surga yang bebas pajak.

Yang mengejutkan disini adalah sekitar ada 800 nama pebisnis dan politikus Indonesia yang ternyata masuk ke dalam daftar klien Mossack Fonseca ini. Bukan hanya itu saja, nama-nama besar seperti presiden, baik mantan presiden, bahkan yang masih menjabat juga ikut tercatut didalamnya. Mereka masuk ke dalam daftar klien Mossack Fonseca sudah tentu karena mereka pernah menyewa untuk mendirikan perusahaan di sebuah negara offshore atau bebas pajak.

Bocornya data yang disebut dengan nama The Panama Papers ini karena secara serentak data tersebut dipublikasikan oleh 100 media di seluruh dunia kemarin, termasuk media Indonesia Tempo yang memang terdaftar di ICIJ.

Di Indonesia nama-nama miliarder yang setiap tahun selalu masuk ke dalam daftar orang terkaya versi Forbes Indonesia ternyata bertebaran di dalam dokumen Mossack. Beberapa nama tersebut seperti; James Riady pemilik grup Lippo yang tercatat memiliki saham pada sebuah perusahaan yang bernama Golden Walk Enterprise Ltd. Itu adalah sebuah perusahaan yang didirikan dengan bantuan Mossack Fonseca di British Virgin Islands pada tahun 2011. Selain itu, putra dari John Riady sendiri juga tercatat sebagai pemilik dari Phoenix Pasific Enterprise Ltd di BVI.

Selain kedua nama tersebut, ada juga nama yang tercatat adalah Franciscus Welierang yang merupakan Direktur PT Indofood Sukses Makmur. Dia merupakan pemegang saham di perusahaan offshore yang bernama Azzorine Limited. Meskipun demikian nama Franciscus sendiri sebenarnya tak langsung tercatat sebagai klien dari Mossack Fonseca, namun terafiliasi melalui BOS Trust Company Ltd sebagai kliennya sejak 2013.

Salah satu pebisnis terkemuka yang juga tengah mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno juga tersangkut di dalam dokumen ini. Sandiaga sendiri mengaku memang memiliki beberapa perusahaan offshore di British Virgin Island. Berbeda dengan Franciscus dan John Riady yang belum memberikan keterangan mengenai hal ini. Sandiaga Uno sendiri juga mengaku kalau perusahaan offshore tersebut memang sangatlah penting dalam bisnis usaha Saratoga Equities, yang mana ini adalah sebuah perusahaan investasi yang ia dirikan bersama dengan Edwin Soeryadjaya.

Nama yang paling dicari oleh penegak hukum seperti Muhammad Riza Chalid dan Djoko Soegiarto Tjandra yang merupakan taipan minyak dan pengusaha properti di Indonesia juga masuk ke dalam dokumen milik Mossack. Hingga saat ini Riza ditengarai sedang berada di luar Indonesia, hal ini yang membuat Kejaksaan Agung menjadi sulit untuk memeriksa kasus pendapatan saham PT Freeport Indonesia yang juga mencatut nama Presiden RI Joko Widodo. Djoko sendiri menjadi buronan karena terlibat dalam kasus pengalihan hak tagih Bank Bali senilai Rp. 904 miliar sejak tahun 2009 yang lalu.