Published On: Sun, Feb 26th, 2017

Iqbal dan Risalah Suci Muhammad SAW

BERITABENAR-Menurut Osman Raliby dalam kata pengantarnya untuk terjemahan buku The Reconstuction of Religious Thought in Islam, sosok Muhammad lqbal telah mengalami perjalanan intelektual sejak belia. Ada dua institusi penting tempat lqbal menempa diri, yakni Murray College di Sialkot (kini masuk Pakistan) dan Government College di Lahore (kini juga masuk Pakistan).

Di lembaga yang pertama tersebut, lqbal mendapatkan pengajaran dari Mir Hasan, profesor yang mengajarkannya bahasa dan kesusastraan Arab. Sejak itulah persentuhan lqbal dengan keindahan puisi, la mulai menulis syair dalam bahasa Urdu.

Adapun di Government College, Lahore, lqbal mendapatkan pengaruh Sir Thomas Arnold, seorang orientalis andal yang juga penulis The Prea-ching of Islam, karya yang bernilai penting bagi studi peradaban Islam. Melalui Arnold, lqbal mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Barat.

Atas nasihat Arnold pula, lqbal meneruskan pendidikan ke Eropa pada 1905. Dalam waktu itu. modernisme merupakan tren yang menyebar luas di Benua Biru. Perkembangan teknologi berkat pendayagunaan akal rasional bagaikan sulap yang mampu mewujudkan imajinasi manusia.

Iqbal memutuskan untuk menggali filsafat Barat di Trinity College pada Cambridge Univer-sity. Di sela-sela waktunya berkuliah, ia juga kerap menghadiri orasi ilmiah soal hukum di Lincoln’s Inn, London. Tak cukup di Inggris Raya, ia menjelajahi Eropa daratan. Kota Berlin, Jerman. menjadi perhentian selanjutnya dari perjalanan intelektual lqbal. la kemudian mendaftar di Universitas Munich, tempatnya meraih gelar doctor of philosophy (PhD) dengan tesis berjudul “Perkembangan Metafisika di Persia.”

Tiga tahun di Eropa telah membentuk pola pikirnya yang semakin mendalam. Cakrawala pengetahuan yang ia serap tidak membuatnya peniru buta modernisme Eropa, tetapi memilah mana yang bernilai dan mana yang justru menimbulkan ekses bagi kemanusiaan.

Sebagai anak bangsa India, Muhammad lqbal melihat kolonialisme telah menginjak-injak harkat martabat bukan hanya bangsa terjajah, melainkan juga kemanusiaan pada umumnya.

Bagi lqbal, Alquran menegaskan hakikat manusia sebagai pencipta. Dalam arti, manusia menyimpan dalam dirinya semangat progresif untuk terus bergerak ke depan dari keadaan kini, yang kerap dipenuhi kemalangan, menuju keadaan yang lebih baik pada masa depan.

Hal inilah yang menurut Prof Abdul Hadi WM dalam Cakrawala Budaya Islam, lqbal memandang bahwa tugas seorang sastrawan adalah membangunkan bangsa yang tertidur. Tugas profetik tersebut pada dasarnya adalah estafet dari tongkat risalah Nabi Muhammad SAW.

Baginya, sosok Rasulullah SAW mengagumkan. terutama lantaran daya juang beliau yang menjadikan dirinya sendiri fakir semata-mata agar umat yang dipimpinnya maju bergerak menjauhi kondisi jahiliyah menuju cahaya peradaban.

Nabi Muhammad SAW menjadi fakir bukan lantaran menerima nasib sebagai tak berdaya, melainkan beliau SAW berkorban sepenuh hati demi tegaknya cita-cita bersama.

Dalam salah satu ghazal-nya di Asrar-i Khudi, Muhammad lqbal mengingatkan kembali kepada kaum Muslim akan pentingnya cinta terhadap Nabi SAW (terjemahan oleh Abdul Hadi WM):

Apabila kau benar memiliki mata
Akan kutunjukkan kepadamu kekasihmu yang sejati
Ia bersemayam dalam kalbumu
Pesona wajahnya mengungguli bidadari Kasih sayangnya kepadamu tiada terkira
Mencintainya menumbuhkan pribadi perwira
Cintanya membuat bumi dapat memeluk bintang
Dalam sajaknya yang lain.
Javid Nama

(Kitab Keabadian; termuat di buku Janji-Janji Islam oleh Roger Garaudy. terjemahan Prof HM Rasjidi, 1984).
Muhammad lqbal menunjukkan perbedaan antara Timur dan Barat, dalam hubungan keduanya sebagai daya hidup dengan alam dan Tuhan. Ini tentu dalam konteks waktu peralihan abad ke-19 menuju abad ke-20 di mana Timur berposisi terpuruk dibandingkan Barat dengan modernismenya.

“Timur mengarahkan pandangannya kepada Tuhan, tetapi tidak melihat alam. Barat telah menyelami alam materiil, tetapi kehilangan Tuhan. Membuka mata kepada Tuhan. Itulah agama. Melihat diri sendiri dengan terus terang. Itulah hidup.”

Demikianlah pemikiran-pemikiran Muhammad lqbal yang melihat risalah Rasulullah SAW sebagai solusi aktif untuk menyembuhkan situasi dunia yang menjauhi kemanusiaan akibat kolonialisme.