Published On: Mon, Sep 28th, 2015

Jusup Kalla: Warga Singapura Harusnya Bersyukur Terkena Kabut Asap!

Kabut asap yang menyelimuti Indonesia berdampak buruk terhadap Singapura. Warga Singapura semakin hari semakin merasakan imbasnya dari kebakaran hutan di Indonesia.

Kabut asap yang menyelimuti awan Singapura inipun mengakibatkan beberapa sekolah akhirnya terpaksa diliburkan. Kabut asap yang menyebar di kawasan Singapura ternyata sudah mencapai titik tertinggi. Polutan Standar Indeks (PSI) Singapura mencatat level kabut di angka 341, di mana merupakan level tertingginya pada tahun ini.

K Shanmugam selaku Menteri Luar Negeri Singapura menyampaikan kegeramannya terhadap Indonesia. “Bukan hanya terhadap orang-orang Singapura, Indonesia sendiri menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap warganya sendiri”,geramnya.

Kebakaran hutan ini seharusnya bisa diatas, untuk membersihkan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan karet. Masalah yang selalu terjadi setiap tahun itu setidaknya bisa menjadi pelajaran berharga agar kejadian seperti ini tidak menjadi masalah di setiap tahunnya. Masalah tersebut telah menyebabkan tingkat polusi berbahaya di seluruh wilayah selama berminggu-minggu. Setiap PSI yang telah lebih dari angka 300 dianggap berbahaya bagi kesehatan.

Indonesia tidak tinggal diam dengan kejadian tersebut, berbagai cara Indonesia untuk mencegah pembakaran hutan secara ilegal. Indonesia telah mengerahkan pasukan untuk mengatasi kebakaran di Sumatera dan Kalimantan. Pemerintah Indonesia pun sedang menyelidiki 27 perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran.

K Shanmugam terkejut dengan beberapa pernyataan yang disampaikan pejabat negara, namun demikian Shanmugam tidak menyebutkan dengan jelas nama-nama pejabat yang memberikan pernyataan tersebut. Tetapi, Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla telah membuat marah beberapa warga Singapura dalam beberapa pekan terakhir dengan mengatakan tetangga Indonesia harus bersyukur untuk kualitas udara selama 11 bulan dalam setahun.

Untuk mendeteksi polusi kawasan daerah, Singapura dan Indonesia menggunakan Polutan Standar Indeks (PSI) untuk mengukur kualitas udara, sementara Malaysia menggunakan sejenis Polutan Udara Index (API). Pada kedua indeks, jika angka berada di atas 100, diklasifikasikan sebagai tidak sehat dan di atas 300 sangat berbahaya.

<ncs>