Published On: Tue, Apr 5th, 2016

Kapolri Akui Ada Kesalahan Prosedur Penangkapan Siyono Oleh Densus 88

20150511121

Kasus kematian terduga teroris Siyono masih bergulir hingga saat ini. Dalam proses penangkapan, diduga kuat terdapat kesalahan prosedur yang dilakukan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88). Kesalahan prosedur tersebut diakui langsung oleh Kepala Polri Jendral Badrodin Haiti.

Menurutnya, saat penangkapan berlangsung tim Densus 88 melakukan kesalahan yang melanggar prosedur keamanan yakni membiarkan sang terduga teroris tidak terborgol. Selain itu, Badrodin Haiti juga menyatakan jika Siyono melakukan perlawanan saat diamankan ke dalam mobil petugas Densus 88.

“Saat itu (penangkapan Siyono), memang ada perlawanan di dalam mobil. Lalu saya tanya, kenapa dia (Siyono) tidak diborgol? Itu kan salah satu prosedur,” ungkap Badrodin seperti yang dikutip Berita Benar dari laman Kompas (5/4/2016).

Berdasarkan pelanggaran prosedur tersebut, Badrodin Haiti akan memberikan sanksi kode etik kepada anggota Densus 88 yang terlibat dalam proses penangkapan Siyono. Namun sayangnya, Badrodin tidak bisa menjelaskan lebih lanjut terkait bentuk sanksi yang akan diberikan jika anggota Densus 88 tersebut terbukti bersalah.

Selain itu, Badrodin Haiti juga memastikan jika pihak Kepolisian terbuka dalam menyelidiki kasus Siyono. Nantinya, Polri akan membeberkan berbagai data hasil penyeledikan kasus ini langsung kepada masyarakat luas. Hasil penyeledikan yang dilakukan oleh Polri juga akan disinkronisasikan dengan segala data yang berhasil dihimpun oleh Komnas HAM.

Saat jenazah Siyono diautopsi ulang, Komnas HAM mengaku menemui beberapa luka bekas benda tumpul di tubuh Siyono. Luka-luka tersebut antara lain mata kanan lebam, paha sampai betis membengkak, mata kanan lebam, dan juga darah yang keluar dari kepala belakang.

(fjr)