Published On: Mon, Feb 27th, 2017

Kenang Raja Faisal, Menanti Raja Salman

BERITABENAR-Sebilah keris disodorkan Presiden kedua Soeharto kepada Raja Faisal. Raja Arab Saudi itu balas menyerahkan sebilah pedang Arab yang disepuh emas. Seekor macan yang diawetkan turut serta diberikan Soeharto kepada Raja Faisal sebagai cindera mata.

Peristiwa itu terjadi Rabu malam, 10 Juni 1970 setelah acara makan malam kenegaraan. Pagi harinya, 11 Juni, dua tokoh itu kembali bertemu di Istana Merdeka, Jakarta. Dalam pertemuan selama satu setengah jam, Soeharto dan Raja Faisal membahas krisis Timur Tengah.
Soeharto menyampaikan komitmen Indonesia mendukung Arab dalam krisis Timur Tengah. Raja Faisal merespons positif dukungan itu.

Dua kepala negara itu juga membahas kerja sama ekonomi Indonesia dan Arab Saudi. Kisah pertemuan Soeharto dan Raja Faisal lansir Espos, Minggu (26/2), dari soeharto.co yang mengutip materi dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973 karya Tim Dokumentasi Presiden RI.

Setelah 47 tahun berlalu, sejarah berulang dengan kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia pada 1-9 Maret mendatang. Raja Salman membawa rombongan sebanyak 1.500 orang termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.

“Kami akan putar

. Ini merupakan suatu sejarah yang belum pernah kita lihat. Saya baru melihat setelah dikirim Dubes Saudi Arabia, bahwa ada dokumenter film yang sejarah, yang perlu kita lihat bersama,” jelas Ketua DPR Setya Novanto, Sabtu (25/2).

Acara kenegaraan Raja Salman selama 1-3 Maret diisi dengan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan jajaran, mengunjungi Gedung DPR/DPD/MPR di Senayan, Jakarta dan ke Masjid Istiqlal. Selanjutnya rombongan besar itu menuju Bali untuk berlibur. Rombongan Raja Salman telah memesan empat hotel yaitu Hotel The St. Regis Resort, The L Resort and Spa, Hilton Bali Resort, dan The Ritz Carlton untuk menginap selama lima hari di Bali.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Yon Machmudi menilai kunjungan Raja Salman punya arti penting karena bersamaan dengan perubahan politik dunia, terutama di Amerika Serikat yang sedang kurang bersabahat dengan Islam dan Timur Tengah. Di sektor ekonomi, Indonesia yang pertumbuhan ekonominya tergolong baik akan menjadi alternatif bagi para investor Saudi.

Tak berhenti di sektor minyak dan gas (migas), Indonesia akan menawarkan sejumlah investasi kepada Arab Saudi seperti pariwisata, perbankan, hingga kilang. Tahun lalu, kunjungan wisatawan dari Timur Tengah sekitar 2 juta orang atau naik sekitar 39% dibandingkan 2015.

“Raja Arab Saudi bisa menjadi endorser yang istimewa. Momen ini sangat tepat karena kami memang ingin meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Arab,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.