Published On: Wed, Mar 1st, 2017

Ketika Perdagangan di Titik Terendah

BERITABENAR-Perdagangan, mesin utama pertumbuhan ekonomi global, sangat rapuh. Pertumbuhan perdagangan global berada di titik terendah sejak 2008. Kesepakatan multilateral dan regional tetap dibutuhkan.

Dinamika politik global yang memicu deras-‘akpastian, seperti diperki-langan, benar-benar mem-mbuhan perdagangan du-titusi internasional seperti nternasional (IMF), Orga-conomic Cooperation and (OECD), dan Bank Dunia, emprediksi pertumbuhan eko-1 global membaik.

Namun, laporan Bank Dunia yang dipublikasikan awal Februari lalu, menyebutkan sektor perdagangan, salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi global, masih sangat rapuh.

Dalam laporan bertitel Trade Developments in 2016: Policy Uncertainty Weighs on World Trade itu, disebutkan pertumbuhan perdagangan internasional selama 2016 sudah menyentuh titik terendah sejak krisis keuangan 2008-2009. Pertumbuhan perdagangan internasional hanya di kisaran 1,9 persen.

Laporan yang sama memang mengungkapkan ada sejumlah alasan pertumbuhan perdagangan menjadi sangat rendah, yang tidak hanya berdampak pada negara berkembang tapi juga negara maju. Pertumbuhan ekonomi yang melambat di banyak negara di dunia menjadi salah satu alasan. Juga kecenderungan terus merosotnya harga komoditas.

Alasan lain, masih menurut Bank Dunia, selama 2016 terjadi perubahan cukup signifikan berupa mencuatnya ketidakpastian terkait kebijakan ekonomi. Menurut kalkulasi Bank Dunia, ketidakpastian itu menyumbang sebesar 0,6 persen dari penurunan pertumbuhan perdagangan sebesar 0,8 persen dalam kurun 2015 sampai 2016.

Soal pemicu merebaknya kondisi penuh ketidakpastian itu, Bank Dunia, dalam laporannya memang tidak secara langsung menyebut kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Namun, secara tegas disebutkan ketidakpastian mencuat dipicu menguatnya proteksionisme dan ancaman terhadap kesepakatan perdagangan bebas. Sejak saat kampanye sampai resmi menduduki kepresidenan, Trump kerap melantangkan slogan ‘America First’ dan penarikan diri dari kesepakatan perdagangan bebas.

Di hari pertama resmi bekerja, Trump langsung mengumumkan penarikan diri AS dari kesepakatan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), juga mereview kembali North American Free Trade Agreement (NAFTA). Selain itu, Trump pun kerap mendorong korporasi-korporasi AS menarik jaringan globalnya kembali ke AS, sebagai implementasi slogan ‘America First’.

Studi Bank Dunia, yang mendasarkan prediksinya pada keterkaitan antara perdagangan internasional dan ketidakpastian kebijakan ekonomi di 18 negara selama tiga dekade terakhir, menyebutkan dampak ketidakpastian terhadap perdagangan masih akan berlanjut selama 2017. “Ketidakpastian kebijakan ekonomi diperkirakan masih sangat tinggi, dan pertumbuhan perdagangan diperkirakan terus melemah,” ungkap Michelle Ruta, ekonom sekaligus penyusun laporan Bank Dunia, seperti dilansir The Financial Time.

Kesepakatan perdagangan bebas, menurut Bank Dunia, memberikan pengaruh sangat besar kepada pertumbuhan perdagangan global. Laporan Bank Dunia memaparkan, dalam kurun 1995 sampai 2014, ketika kesepakatan perdagangan bebas marak dibahas, pertumbuhan perdagangan dunia mencapai rata-rata 6,53 persen per tahun. Sejak itu, sejak tidak anggota baru bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan tidak ada kesepakatan perdagangan ditandatangani, pertumbuhan perdagangan hanya di kisaran rata-rata 4,76 persen per tahun.

“Mempertahankan dan meluaskan jangkauan kesepakatan perdagangan bebas, memungkinkan pertumbuhan perdagangan dan ekonomi dunia berkelanjutan,” ujar Ruta. Zero Sum Game
Secara terpisah, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, melontarkan pandangan senada. Menurutnya, angin anti-perdagangan yang deras bertiup ke hampir seluruh dunia, berpeluang menghambat upaya-upaya global terkait pengentasan kemiskinan. Sri, yang juga mantan managing director Bank Dunia, mengatakan ancaman muncul pada saat meningkatnya hambatan perdagangan yang nyaris bersamaan dengan sentimen populis yang mulai ditransformasikan dari retorika menjadi kebijakan.

“Itu jelas bertentangan dengan kebutuhan lain yang jauh lebih luas. Sentimen yang muncul saat ini tak lain perdagangan adalah zero sum game, kalau satu pihak meraih untung maka ada pihak lain yang dirugikan. Itu bukanlah inti, nilai, atau teori (perdagangan). Itu bukan ekonomi. Aspek yang mengkhawatirkan sekarang adalah hubungan banyak negara di dunia terkesan didikte sentimen zero sum game tadi,” papar Sri dalam sebuah wawancara dengan Bloom-berg, beberapa pekan setelah laporan Bank Dunia dipublikasikan.

Globalisasi dan meningkatkan perdagangan bebas, menurut catatan Bank Dunia, mampu memangkas angka kemiskinan dunia dari 30 persen pada 1999 menjadi sekitar 9,6 pada 2015. Dan terkait munculnya kekhawatiran lantaran sentimen tadi, Sri menilai dunia belum memberikan respons terbaik. Negara anggota Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN), khususnya negara-ne-gara kecil seperti Laos, Kamboja, Myanmar, tanpa perdagangan bebas global kemungkinan sulit keluar dari jerat kemiskinan.

Padahal, “secara keseluruhan negara-negara ASEAN secara signifikan mampi menekan angka kemiskinan, sebagai salah satu capaian perdagangan bebas global. Dan ketika perdagangan global tidak lagi dianggap sebagai kebijakan yang baik, maka jelas diperlukan kebijakan alternatif,” ujar Sri.

East Asia Forum memaparkan rezim perdagangan, dengan segala upaya mendorong perdagangan bebas dan ketergantungan internasional bagi negara-negara yang menyepakati kesepakatan perdagangan bebas, jelas bukan instrumen sederhana bagi strategi kebijakan ekonomi yang bisa diubah-ubah tanpa konsekuensi politik. Bagi kebanyakan negara, terutama yang sangat bergantung pada perdagangan bebas, perdagangan pastinya merupakan instrumen penting bagi strategi kebijakan ekonomi dan politik.

Manakala perdagangan bebas sedang menghadapi angin kencang proteksionisme dan ketidakpastian kebijakan ekonomi global, maka tak pelak kerja sama dan kesepakatan perdagangan bilateral menjadi pilihan. Di sisi lain, kesepakatan perdagangan bilateral lebih membutuhkan upaya dan biaya lebih, baik bagi pemerintah, dunia usaha, maupun konsumen. Pasalnya, setiap negara perlu menyesuaikan, atau bahkan menyusun kesepakatan baru dengan setiap negara mitra kerja sama yang berbeda. Belum lagi bicara dampaknya pada situasi geopolitik.

Kondisi itulah yang ditengarai menjadi latar belakang perlunya terus mendorong upaya kesepakatan perdagangan multilateral dan regional, yang dianggap mampu meng-
hasilkan harmonisasi standar dan kesetaraan terkait arus perdagangan barang, jasa, dan mungkin juga investasi. Semakin luas jangkauan kesepakatan perdagangan, diharapkan semakin besar pula manfaat dari perdagangan bebas internasional, yang tentunya berujung pada pertumbuhan ekonomi global berkelanjutan.

Pertumbuhan perdagangan dunia semakin tergerus. Bagi negara-negara berkembang, bahkan mungkin sebagian negara maju, barangkali belum ada pilihan lain kecuali mempertahankan dan menguatkan perdagangan bebas multilateral dan regional, dengan tetap menjadikan kepentingan dalam negeri sebagai pertimbangan utama.