Published On: Wed, Oct 7th, 2015

Komnas HAM Ungkap Deretan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Pembunuhan Salim Kancil

Beberapa waktu yang lalu, masyarakat Indonesia digegerkan dengan kasus pembunuhan sadis yang melibatkan seorang aktifis penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil. Kasus kali ini tidak sama seperti kasus pembunuhan lainnya. Sebab, kuat dugaan terdapat aktor intelektual yang ikut serta dalam kasus pembunuhan ini.

Selain itu, kasus ini juga berhasil menjadi sorotan publik dikarenakan cara pembunuhan Salim Kancil yang sangat brutal. Bahkan sebelum Salim Kancil tewas, ia sempat di aniaya di depan anaknya dan juga dihadapan para warga.

Seperti yang dilansir Berita Benar dari laman Detik (7/10/2015), menanggapi hal ini, Komnas Hak Asasi Manusia tidak tinggal diam. Institusi itupun langsung membuat tim investigasi untuk mencari pelanggaran-pelanggaran HAM di kasus tersebut. Sampai saat ini, beberapa bentuk pelanggaran yang ditemukan di dalam kasus tersebt antara lain:

1. Hak Untuk Tidak Mendapatkan Perlakuan Kejam

Dalam kasus pembunuhan tersebut, Salim Kancil mendapatkan perlakuan yang sangat kejam dari para tersangka. Mulai dari disetrum dihadapan masyarakat, dipukul dengan benda tajam, dan bahkan dilempari dengan batu berukuran besar. Seperti yang tertulis dalam Pasal Pasal 33 ayat (1) UU 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 7 UU 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik, Pasal 16 ayat (1) UU 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam Tidak Manusia atau Merendahkan Martabat Manusia. Oleh karena itu, kasus tersebut mutlak merupakan pelanggaran HAM.

2. Hak Anak

Seperti yang telah diberitakan oleh berbagai media, sebelum dibunuh Salim Kancil di aniaya di depan anaknya sendiri yang masih berumur 15 tahun. Selain itu, dengan brutalnya sang pelaku pengeroyokan pun menganiaya korban di depan sekolah PAUD. Hal tersebut merupakan pelanggaran HAM yang cukup berat, sebab dalam Pasal 28 B ayat (2) UUD45 jo Pasal 52 ayat (1) jo Pasal 63 UU 39 Tahun 1999 tentang HAM, jo Pasal 4 jo Pasal 15 huruf c dan d, jo Pasal 16 ayat (1) UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, jo Pasal 19 ayat (1) jo Pasal 37 huruf a Keppres 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Kovenan Perlindungan Hak Anak.

3. Hak Untuk Tidak Ditangkap Sewenang-wenang

Salim Kancil sendiri, ditangkap oleh orang-orang yang memang tidak memiliki kewenangan dan juga tanpa surat keterangan apapun. Dengan begitu, kasus Salim Kancil melanggar Pasal 34 dan 9 ayat (1) UU 39 Tahun 1999 mengenai hak untuk tidak ditangkap secara sewenang-wenang.

4. Hak Atas Rasa Aman

Penganiayaan yang menyebabkan hilangnya Salim Kancil ini secara langsung membuat keluarga korban dan juga masyarakat sekitar mengalami ketakukan dan juga kekhawatiran jika kasus ini akan terjadi lagi nantinya. Padahal, setiap orang memiliki hak atas rasa aman seperti yang tertuang pada Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 jo Pasal 30 UU 39 Tahun 1999 tentang HAM.

5. Hak Untuk Hidup

Setiap orang pastinya memiliki hak untuk hidup. Berdasarkan bukti yang ditemukan, Salim Kancil tewas setelah dianiaya oleh puluhan orang tidak dikenal. Oleh karena itu, kasus ini juga melibatkan Pasal 28 I ayat (1) UUD 1945, Pasal 4 dan 9 UU 39 Tahun 1999 tentang HAM serta Pasal 6 ayat (1) Kovenan Internasional Hak-hak Sipik dan Politik yang telah diratifikasi melalui UU 12 Tahun 2005.