Published On: Wed, Mar 1st, 2017

Korsel Serukan Kim Jong-un Dibawa ke Mahkamah Internasional

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menyerukan agar pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dibawa ke mahkamah internasional, sebelum situasi HAM di negara tersebut mengancam keamanan global.

Seman itu disampaikan Men-lu Korsel Yun Byung-se saat berpidato di Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss pada Senin (27/2) waktu setempat. Dalam pidatonya, Yun juga mengutuk pembunuhan Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin Komt Kim Jong-un pada 13 Februari lalu.

Menurut Yun, ratusan pejabat Korut juga telah dieksekusi di Komt, belum termasuk warga biasa yang tak terhitung jumlahnya.

“Kita semua tahu siapa yang paling bertanggung jawab atas pelanggaran dan kejahatan-keja-hatan tersebut,” katanya tanpa menjelaskan lebih rinci.

Mengutip data statistik PBB, Yun menekankan bahwa sekitar 120 ribu orang saat ini mendekam di penjara-penjara Komt. “Kita harus bertindak secara individual dan kolektif sebelum pelanggaran HAM ini mengarah ke bencana yang jauh lebih besar,” kata pejabat Korsel tersebut.

Menurutnya, waktunya telah tiba untuk membawa para pemimpin Komt dan semua yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di negeri komunis itu ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Kasus Teror

Sebelumnya pada 14 Februari lalu, kepolisian Malaysia mengumumkan bahwa Kim Jong-nam diserang dua wanita di Bandara Internasional Kuala Lumpur sehari sebelumnya.

Intelijen Korea Selatan mengatakan kematian Jong-nam merupakan kasus “teror” pembunuhan yang diperintahkan langsung oleh sang adik tiri, Kim Jong-un.

“Pembunuhan Kim Jong-nam merupakan tindakan teror sistematis yang diperintahkan oleh Kim Jong-un. Operasi dilaksanakan oleh dua kelompok pembunuh dan satu kelompok pendukung,” kata seorang anggota parlemen Korsel, Kim Byung-kee, setelah bertemu pejabat intelijen, Senin (27/2).

Menurut Byung-kee, Jong-un menunjuk Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Keamanan Nasional untuk melaksanakan tugas ini.

Kedua kementerian itu merekrut dua orang perempuan untuk melaksanakan operasi pembunuhan. Otoritas Malaysia sudah menahan kedua terduga perempuan itu yang terdiri atas warga negara Indonesia, Siti Aisyah, dan satu orang Vietnam DoanThiHuong.

Byung-kee mengatakan, kedua perempuan itu direkrut oleh dua kelompok berbeda. Kelompok pertama terdiri dari anggota Kementerian Keamanan Negara Komt, Ri Jae-nam, dan pejabat Kemlu Komt, Ri Ji-hyon. Mereka merekrut Doan Thi Huong.

Dari Kuala Lumpur, kepala kepolisian Malaysia menyatakan polisi mengetahui dua perusahaan yang berkaitan dengan Korea Utara yang diidentifikasi dalam laporan kantor berita Reuters sebagai perusahaan-perusahaan yang berposisi sebagai lengan bisnis di Malaysia. Kepala kepolisian Malaysia Khalid Abu Bakar menyebutkan dua perusahaan, yakni International Global System dan International Golden Services, tengah dalam proses ditindak.

Senin lalu, Reuters melaporkan bahwa dinas mata-mata Korea Utara mengoperasikan bisnis persenjataan dari Malaysia.

(rtr,cnn-niek-23)