Published On: Wed, Mar 1st, 2017

’’Linguist’’ Unram yang Jadi Saksi Ahli Bahasa Kasus Ahok

BERITABENAR-SIDANG ke 10 kasus dugaan penistaan agama terhadap terdakwa Basuki Tja-haja Purnama alias Ahok tanggal 13 Februari lalu menghadirkan saksi ahli bahasa pelapor. Kali ini. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Prof. Mahyuni, MA., P.hD.. seorang ahli bahasa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram.

Bagi masyarakat Muslim NTB, kehadiran Mahyuni sebagai saksi ahli bahasa tentu membanggakan. Tidak saja untuk mengafirmasi keyakinan pelapor atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. melainkan juga mewakili identitas intelektual Muslim NTB di pentas nasional. Baginya, tidak banyak orang yang punya kesempatan seperti dirinya. Pada posisi itu, Mahyuni jelas sangat berkesan.

Bagi Mahyuni, kesempatan tidak datang dua kali. Tiap kesempatan harus digunakan dengan sebaik mungkin. Berawal dari sebuah deringan telepon tanpa nama, Mahyuni diminta menjadi saksi ahli bahasa pada perkara yang cukup menggemparkan ini. Belakangan Mahyuni baru tahu jika yang menelepon merupakan inisiatif dari Neno Warisman.

Mahyuni menuturkan, saat itu tim pengacara pelapor meminta sekilas pendapatnya terkait dengan pidato Ahok di Kepulauan Seribu. Sesaat setelah menjelaskan singkat, akhirnya Mahyuni diminta menjadi saksi ahli bahasa.

“Melalui telepon diminta pendapat sepintas seperti apa pandangan Prof terhadap kasus ini,” tutur pria kelahiran Desa Ganti Lombok Tengah, 31 Desember 1963 ini.

Berdasarkan kajian keilmuan yang dimiliki Mahyuni yaitu kajian wacana kritis atau critieal discourse analysis, secara teoritis memperkuat klaim pelapor atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Menurut Mahyuni, kajian wacana kritis digunakan untuk mengkaji penggunaan bahasa ketika digunakan sebagai ekspresi untuk menggambarkan perbedaan, karena status sosial, karena kekuasaan, untuk mendiskriminasi orang, mengintimidasi orang dan lain se-bagainya.

Bagi Mahyuni yang merupakan alumnus University of Melbourne Victoria, Australia, duduk di depan majelis hakim sebagai saksi ahli selama 5 jam lebih pada sidang ke 10 adalah kali pertama dilakoninya sebagai akademisi murni. Bagi mantan Koordinator ‘Program Bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing’

Universitas Mataram Beker-jasama dengan Northern Ter-ritory University, Darwin, Australia, pengalaman ini baginya tidak akan terlupakan seumur hidup. Apalagi kesaksiannya ini sangat penting untuk suatu kasus yang telah menyita perhatian banyak orang, tidak saja di Indonesia bahkan juga luar negeri.

Meski kali pertama menjadi saksi ahli, tidak ada perasaan takut Mahyuni kala itu. Kepercayaan dalam diri Mahyuni tumbuh begitu kuat, entah darimana berasal. Dirinya berkeyakinan, sebagai ahli, hanya dirinyalah yang ‘paling hebat’ di ruangan itu untuk bidang keilmuan
yang tengah dimintakan kesaksiannya.

“Saya tidak tahu keberanian itu muncul dari mana, tumben jadi saksi ahli. Saya merasakan itu. Mungkin kalau orang yang baru pertama kali, dikawal ketat polisi seperti itu kondisi mentalnya pasti beda,” tutur mantan Direktur Pusat Bahasa, Universitas Mataram ini.
Satu hal yang dipercayai Mahyuni dalam bidang keilmuannya yaitu bahwa bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Bahasa selalu memiliki konteksnya. Hanya orang yang tidak normal menganggap bahasa tidak dilatari oleh suatu konteks tertentu, (dys)