Published On: Thu, Mar 2nd, 2017

Masa Depan Sungai Barito 2030 Dimulai Sejak Sekarang

BERITABENAR-Jika benar bahwa kita mencintai sungai, maka segenap akal budi, jiwa dan perilaku akan menunjukkan bahwa cinta kita kepada sungai sangat nyata. Kita tidak akan rela jika sungai kotor dan terjadi pendangkalan yang tidak terkontrol serta tercemar”

Jika kita mencermati pewartaan Banjarmasin Post beberapa waktu terakhir, ada nomenklatur baru yang tampaknya ikonik. Sejatinya Itu juga mewakili situasi sosio kultural psikologis masyarakat Kalimantan, khususnya Banjarmasin yakni mencintai peradaban sungai.

Peradaban sungai Ini secara literal diwakili adagium Kota Banjarmasin Kota Seribu Sungai. Tidak semata sebuah slogan, senyatanya Banjarmasin berada minus 9 sentimeter di bawah permukaan air laut, dan urat nadi sungai menjalar sampai jantung kota dengan ragam sungai selokan parit kecil besar hingga sungai superbesar Sungai Barito.

Ikan berlimpah, dan pelabuhan Sungai Barito yang dikenal sebagai Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Juga dikenal sebagai pelabuhan yang sangat besar.

Banjarmasin menjadi pintu utama masuk logistik untuk kota-kota Kalimantan di pedalaman. Sekaligus, sungai Juga menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, pada tahun sebelum 2008. ambang Sungai Barito atau di pintu muara, sempat dikenal sebagai ranjau yang siap mengandaskan kapal. Bahkan tongkang yang sejatinya memiliki draft tidak lebih dari 3-4 meter LWS (lower water spring).

Artinya, muara sungai Barito ketika itu menjadi area berbahaya bagi kapal, dan lalu lintas kapal ketika itu sangat tergantung pada pasang surut air sungai.

Setelah beroperasinya perusahaan pengelola alur, maka alur dikelola dan dipelihara dengan kedalaman minimal minus 5 LWS. dan kapal pun leluasa 24 jam keluar masuk Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Meskipun alur sungai di muara Barito telah dijaga dan dipelihara, apakah tidak ada program yang dapat mendukung kesinambungan (sustainability) kehidupan sungai yang dalam, aman, dan sehat? Dapatkah kita semua bahu membahu mencintai sungai, menjaga kebersihan dan membebaskan dari pencemaran sehingga sungai menjadi bagian dari kehidupan kita tidak hanya sekarang namun juga di masa depan?

Eksisting Banjarmasin

Sejatinya sudah banyak program yang digagas dan dilaksanakan oleh pemerintah, baik Pemerintah Kota maupun Provinsi. Relawan dan petugas kebersihan sungai Juga ada.

Namun coba kita cermati terhadap nadi-nadi sungai yang masuk dalam sisi-sisi kota
kita.

Ada sebagian sungai dengan proses sedimentasi yang tidak terkontrol. Secara sengaja warga Juga lelah sadar tidak membuang sampah di sungai.

Namun kita pandang dan observasi, bahwa sebagian sungai masih belum dirawat, sampah masih berserak. Perlu gerakan yang lebih mengakar sehingga sungai semakin terpelihara.

Inilah yang dijadikan salah satu alas an perlunya kita memprogram Mencintai Peradaban Sungai. Konteks peradaban di sini, berarti seluruh elemen warga ikut terlibat.

Tidak sekedar dalam dataran kognitif konseptual, namun Juga aksi nyata dl lapangan. Dan. menjadi gerakan yang menjadi nilai dasar Banjarmasin; mencintai sungai.

Jika benar bahwa kita mencintai sungai, maka segenap akal budi, jiwa dan perilaku akan menunjukkan bahwa cinta kita kepada sungai sangat nyata.

Kita tidak akan rela jika sungai kotor, pendangkalan tidak terkontrol, pencemaran juga tidak dicegah, dan proses pengurukan sungai untuk pendirian bangunan atau jembatan juga sporadis terjadi.

Untuk Itu, gerakan Mencintai Peradaban Sungai digulirkan. Pelahan namun pasti kita harapkan mencintai sungai sepenuh hati akan terlaksana.

Bekerja sama dengan Banjarmasin Post, dan secara bertahap menggandeng Pemkot dan Pemprov. kita mulai dari diklat esai pada bulan Januari 2017, dan aksi bersih sungai pada bulan Februari Ini. Harapannya warga akan semakin teredukasi. dan secara massif gerakan mencintai sungai akan menjadi bagian dari nilai hidup Banjarmasin.

Belajar Pada Belanda 2030

Gagasan ini bukanlah Ide baru. Pada saat penulis berinteraksi dengan pengelola Pelabuhan Rotterdam dl Belanda. didapat sebuah konsep menarik yang terangkum dalam konsepsi Pori Vision 2030, Port Compass, Direct the Juture, Start todays.

Singkat kata. Pelabuhan Rotterdam pada tahun 2030 ke depan akan mengukuhkan diri sebagai pelabuhan pemimpin di Eropa untuk kargo Internasional maupun lokal, baik untuk komoditas yang menggunakan modal peti kemas, angkutan tanker minyak, maupun kargo lainnya.

Mau tidak mau, untuk mewujudkan ambisi besar tersebut, mereka melakukan lima langkah penting yakni meningkatkan kemudahan integrasi antara industry dan aktivitas pendukungnya.

Lalu, mewujudkan jejaring transportasi region Eropa, meningkatkan aksesibilitas dengan dukungan infrastruktur, tetap memperhatikan kualitas hidup dengan zona hijau di Industry dan program pengurangan pencemaran. dan inovasi dan penegasan program tanpa kontroversi.

Dari diskusi dan kajian, program masa depan Rotterdam tidak lepas dari upaya kongkret di sisi masyarakat terhadap arti penting sungai. Jika kita menelusuri kota kota di Belanda, baik di Rotterdam, Amsterdam, Volendam, dan lainnya, kanal-kanal sungai yang Juga merasuk ke Jantung pemukiman desa Juga masih terpelihara dengan baik.

Warga di musim semi dan panas dapat mengayuh dayung, menyusuri sungai sambil melakukan aktivitas rekreatif atau sporting semacam olah raga dayung. Air bebas dari sampah dan pencemaran.

Tentu kita tidak dapat secara langsung membandingkan Belanda-Banjarmasin secara aple to aple. Namun, karakteristik kota Banjarmasin mirip dengan kota-kota di Belanda.

Urat nadi sungai di Belanda secara historis memang dibuat dengan rekayasan teknologi pengerukan dredging), sehingga membebaskan Belanda dari risiko banjir.

Posisi-posisi kota di Belanda yang Juga berada di bawah permukaan air laut, juga mirip. Kelebihan Banjarmasin, kita tinggal memelihara dan merevitalisasi sungai yang ada. Dan itu perlu melibatkan semua elemen masyarakat.

Secara strategis, masa depan Sungai Barito 2030 kiranya perlu dituangkan dalam master plan kota/provinsi, yang akan dapat dimonitor pelaksanaannya setiap tahun (annually).

Pemerintah sebagai otoritas yang berwenang untuk menata, merekonstruksi, merekayasa pembangunan (engineering) perlu untuk meningkatkan kejelasan peta jalan (mad map) menuju masa depan Sungai Barito 2030.

Sudahkah kita semua memikirkan akan bagaimana kota dan sungai kita pada tahun 2030 mendatang? Secara teknis, gerakan dan program Mencintai Peradaban Sungai telah berjalan setahap demi setahap menuju Sungai Barito yang dalam, aman, sehat, dan bersahabat dengan warga masyarakat.

Ini diperlukan dukungan semua elemen masyarakat dan pemerintahan. Masa depan Sungai Barito 2030 perlu dipersiapkan sejak sekarang. (*)

:caption:
NUGROHO DWI PRIYOHADI Direktur Eksekutif PT Ambapers (Alumnus master of Science, port management, World Maritime University Swedia)