Published On: Tue, Feb 21st, 2017

Masih Kokoh, Dibangun Sejak Pemerintahan Belanda

Sekilas, embung di Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, tak tampak berbeda dengan embung lainnya. Namun, embung yang dimanfaatkan masyarakat sekitar itu dibangun saat masa penjajahan Belanda.

Tak hanya bangunannya, tersier alat pengatur aliran air juga masih asli sejak awal pembuatan. Begitu juga tempat pembuangan air.

Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa) Desa Panjang Sikris menuturkan, semua yang ada di embung masih asli peninggalan Belanda. Renovasi yang pernah dilakukan hanya untuk mengeruk embung, sehingga kedalaman embung bertambah. “Semuanya masih asli. Bahkan, tersier yang digunakan untuk mengairi sawah masyarakat masih asli buatan kolonial Belanda,” ungkapnya.

Pak Par, begitu warga setempat menyapanya, mengaku tersier selalu dibawa pulang. Jika tidak, tersier sering digunakan bermain anak-anak muda yang datang ke embung. “Pernah tersier dibuka dengan lebar tanpa menghiraukan ikan yang ada di embung. Hasilnya, ikan banyak yang terbawa aliran air yang keluar melalui embung,” ujarnya.

Tambahnya, jika sewaktu-waktu ada warga yang membutuhkan air untuk mengairi sawah, maka dia akan membuka pintu tersier. Sehingga, semua terkendali. “Dengan begitu tersier, tetap terjaga. Ikan juga aman, tidak ada yang hanyut terbawa aliran air karena pintu air yang terbuka tanpa perhitungan,”tutupnya. (aul/haf)