Published On: Fri, Feb 24th, 2017

Merawat Hubungan Baik Indonesia-Arab Saudi

BERITABENAR-RENCANA kunjungan kenegaraan Raja Arab Saudi. Salman bin Abdulaziz al-Saud, ke Indonesia menjadi perhatian publik. Media massa tertarik mengangkat kabar itu, apalagi momentum kedatangannya saat tensi politik ibu kota belum reda pascadugaan kasus penodaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama.

Indonesia, yang penduduknya mayoritas muslim, merupakan mitra strategis bagi Arab Saudi. Kabarnya, ada beberapa topik pembicaraan dalam pertemuan kenegaraan antara Raja Salman dengan Presiden Joko Widodo. di antaranya terkait penambahan kuota jemaah haji, peningkatan wisatawan Timur Tengah ke Indonesia, hingga perlindungan WNI di Arab Saudi.

Raja Salman tak sekadar melakukan kunjungan kenegaraan. tetapi juga ingin menikmati alam Indonesia. Agendanya, kunjungan kenegaraan berlangsung 1-4 Maret. Setelah itu. rombongan Raja Salman akan berlibur di Bali pada 5-9 Maret. Belum ada kabar pasti agenda di Bali apa saja, yang pasti kedatangan rombongan Raja Salman merupakan kado terindah bagi dunia pariwisata Pulau Dewata.

Presiden Joko Widodo bakal menyambut langsung kedatangan Raja Salman beserta rombongan. Selanjutnya, Presiden Joko Widodo dan Raja Salman akan melakukan pertemuan bilateral di Istana Bogor, dengan mengikutsertakan 35 orang delegasi resmi dan 50 orang perangkat delegasi. Delegasi resmi ini terdiri 10 orang menteri dan 25 orang pangeran.

Kedatangan Raja Arab Saudi ini dinilai sangat istimewa, mengingat sudah lama sekali tidak pemah terjadi. Kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia kali terakhir sekitar 47 tahun lalu. Apalagi, kedatangannya membawa rombongan sangat banyak, sekitar 1.500 orang. Praktis, kunjungan itu pun memerlukan protokoler keamanan yang ketat.

Indonesia perlu memanfaatkan momentum bagus ini untuk menarik investasi ekonomi sebesar-besarnya dari para pengusaha Arab Saudi. Beredar spekulasi, satu di antara agenda kunjungan tersebut terkait rencana investasi senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp200 triliun. Kita berharap hubungan bilateral Arab Saudi-lndonesia bisa lebih kuat dan saling menguntungkan.

Momentum tersebut juga sangat tepat untuk meningkatkan harkat dan martabat Indonesia di mata kerajaan Arab Saudi. Pasalnya, selama ini ada kesan status Indonesia di bawah Arab Saudi, mengingat banyaknya pengiriman asisten rumah tangga atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sektor nonformal. Apalagi, ada saja TKI yang tersangkut masalah hukum di Arab Saudi.

Pada kesempatan emas ini. Indonesia harus bisa merangkul Arab Saudi dalam bidang ketenagakerjaan. Mari kita buktikan banyak tenaga kerja kita yang terdidik dan bisa bekerja profesional di sektor formal. Kita tidak ingin ada anggapan bahwa tenaga kerja Indonesia hanya layak pada level pembantu rumah tangga saja. (*)