Published On: Mon, Mar 6th, 2017

Partner Kerja Talk Fusion : Ini Murni ”e-Commerce”, Bukan Investasi

BERITABENAR- PARA pelaku bisnis Talk Fusion (TF) tidak ingin kegiatan bisnisnya dinilai sebagai sebuah investasi. Edy Hutama, salah seorang partner kerja TF di NTB menegaskan bahwa ini adalah murni e- commerce yang bergerak dalam bidang teknologi.

”Kita ini murni e-commerce, perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi. Dari awal kita sudah jelaskan bahwa usaha ini bukan investasi. Yang perlu saya tahu juga yang merasa dirugikan itu siapa.” tanya Edy Hutama kepada Ekbis NTB.

Ia mengatakan, pihaknya tidak pernah menjanjikan orang untuk terlibat dalam bisnis ini kemudian uangnya berkembang dan menerima hasil yang sangat banyak. TF menurutnya bukan perusahaan abal-abal. money game atau investasi bodong. TF sendiri sudah M berdiri di Indonesia sekitar lima tahun.

”Perusahaan yang bisa y berdiri lebih dari lima tahun di Indonesia kalau
Imoney game sudah hilang betul tidak? Pasti singkat kalau money game karena yang dibu-tuhkan adalah uang yang di bawah dan tidak punya produk,” t katanya.

Pihaknya sedang v’ menunggu tindaklanjut ^ dari Kepolisian di KSB terkait dengan pengaduan yang dibuat oleh LSM Barema tersebut. Menurutnya, orang yang
membuat pengaduan tentang TF tidak dikenalnya dan tidak pernah melakukan klarifikasi terlebih dahulu.” Kita juga menunggu siapa yang dirugikan, kok KSB sampai begitu. Isunya kok bisa sampai begitu,” tanyanya.

Berapa jumlah peserta TF di KSB? Ia mengaku tidak mengetahui jumlahnya secara pasti, namun angkanya sekitar seratusan peserta. Menurutnya, TF sedang mengurus semua perizinannya baik di OJK dan Kementeri-an Perdagangan.

Nilai TF Tak Bermasalah

Sementara itu, tidak gampang meminta keterangan dari anggota bisnis MLM TF di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang kini sedang ramai diperbincangkan itu. Rata-rata mereka tidak banyak memberikan keterangan soal kejelasan bisnis ini.

Salah satu peserta yang diduga bergabung dalam bisnis ini adalah seorang pejabat di salah satu SKPD KSB. Saat Ekbis NTB menghubunginya melalui telepon dia mengaku tidak masuk dalam anggota .” Tidak ngerli saya mas. Bukan anggota saya. Pernah dikena-lin di awal saja tapi tidak ikut. Silakan hubungi orang yang masih berkecimpung saja,” katanya singkat. Kemudian ia mengirimkan nomor kontak salah satu rekannya yang masuk dalam peserta.

Ardi, salah seorang peserta bisnis ini mengatakan kegiatan perusahaan ini tidak ada masalah.

Jika ada orang yang menilai bisnis ini merugikan orang lain, ia mempersilakan melakukan klarifikasi ke pengurus perusahaan.

“Apa yang rugi memangnya Pak? Kita tidak tahu sebenarnya bapak ini di mana? Kan sudah dimuat di koran, kalau mau diklarifikasi langsung ke orangnya. Kan ada di sini orangnya Pak. Saya masuk, namun secara pribadi saya tidak merasa dirugikan Pak. Kalau di LSM yang mengadukan ke polisi itu apakah mereka ada yang merasa dirugikan saya tidak ngerti,” kata Ardi.

Ekbis NTB diminta klarifikasi soal aktivitas perusahaan ini di salah satu upline yang ada di Kota Mataram. Ia mengatakan, jika ada pihak yang keberatan dengan usaha TF, perusahaan tersebut tinggal dikonfirmasi oleh pihak kepolisian.

Ia menjelaskan, bahwa TF bukanlah perusahaan investasi, melainkan perusahaan yang menjual produk. “Ini bukan investasi, kita ini beli produk Pak. Saya tidak ngerti orang-orang ambil paket yang mana, karena kita tidak bisa control. Bukan di satu tempat saja namun di banyak tempat. Kan di seluruh Indonesia Pak, bukan hanya di sini,” lanjutnya.

Apakah sudah ada izin dari OJK? Menurut Ardi, usaha TF ini bukan urusan OJK karena bukan merupakan investasi, saham dan sejenisnya. “Begini ada masing-masing bagian . Kalau investasi, valuta asing, saham mungkin di OJK tempatnya. Kalau untuk ini, masuk ke mana mungkin, masuk ke perdagangan mungkin. Ini yang perlu. Ini bukan ranah OJK,” tambahnya.

Pria yang baru dua bulan bergabung di bisnis ini tidak berkomentar soal bonus-bo-nus yang dijanjikan oleh perusahaan. “Kantornya di Surabaya, di Jakarta juga. Di Mataram ada uplinenya di sana. Kalau saya ikut-iku-tan saja. Soal bonus-bonus itu, langsung tanya yang di Ruby. Saya baru dua bulan,” katanya, (ris)