Published On: Wed, Feb 22nd, 2017

Peluang Bisnis Tanda Tangan Digital

BERITABENAR-KEMAJUAN teknologi memungkinkan dokumen-dokumen penting dikirim lewat I mjalur digital seperti email. Namun tren ini tak dibarengi dengan perkembangan platform tanda tangan online.

Peluang ini yang ditangkap oleh startup PrivyID. Saat ini belum banyak yang menggarap segmen tanda tangan online ini.

Marshall Pribadi, CEO platform tanda tangan digital PrivyID menyebut saat ini orang kerap salah kaprah soal pembuatan tanda tangan digital.

“Kebanyakan masih pakai metode scan atau meng-cctp-ture tanda tangan dan mengubahnya menjadi digital,” kata Marshall seperti dikutip Kontaii.co.id, beberapa waktu lalu.

Padahal, bentuk sertifikat dan tanda tangan digital bukan dokumen yang dipindai (scan).

Tapi, dokumen yang diproses melalui aplikasi di komputer untuk menjamin keaslian agar tidak dapat diubah oleh oknum yang tidak berkepentingan dan tidak bertanggung jawab.

Tanda tangan elektronik yang legal, otentik dan aman harus sesuai Pasal 11 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Nah, melihat potensi itu, Marshall membuat platform PrivyID dan menawarkan jasa perekaman tanda tangan elektronik.

Caranya, dengan merekam data informasi terkait penanda tangan. Seperti data diri, nomor telepon, alamat rumah, alamat IP publilk hingga lokasi di mana penandatanganan itu berlangsung.

Dokumen yang masuk ke PrivyID, kata Marshall, melewati serangkaian proses enkripsi dokumen digital yang dikunci sehingga kecil kemungkinan terjadi pemalsuan dokumen dan tanda tangan.

Potensi besar

PrivyID optimistis punya potensi pasar yang begitu gemuk.

Ada sekitar 400.000 kontrak di industri pembiayaan, 5 juta tanda tangan nasabah di industri perbankan, 50.000 kontrak per bulan di industri financial technology (fintcch), 500.000 tanda tangan per bulan di setiap bagian personalia perusahaan, 100.000 tanda tangan dl perusahaan jasa logistik, dan sekitar 30 juta aktivitas login di industri marketplace dan e-commerce.

Saat ini. klien PrivyID mayoritas berasal dari perusahaan konvensional yang masih mengandalkan kertas dalam kegiatan operasionalnya.

Seperti perbankan, pembiayaan dan layanan jasa yang butuh tanda tangan basah untuk persetujuan kontrak dengan konsumennya.

Hanya saja, saat ini PrivyID baru bisa menggarap beberapa perusahaan.

Sebab, ada faktor kunci yang membuat perusahaan tersebut mau jadi klien PrivyID: penghematan anggaran.

Umumnya perusahaan butuh anggaran Rp 2 miliar sampai Rp 3 miliar per tahun untuk biaya pembuatan dan penyimpanan dokumen legal.

Sementara. PrivyID mengutip biaya mulai Rp 50.000 per 15 dokumen, hingga Rp 850 juta per satu juta dokumen.

“Perbankan pun sudah tertarik sehingga ke depan nasabah tak perlu lagi tatap muka kalau mau buat rekening selama punya akun di PrivyID mereka otomatis terdaftar tak perlu datang dan antri isi berkas dan tanda tangan,” kata Marshall.

Marshall mengklaim omzet PrivyID mencapai Rp 200 juta sebulan. Pada 2017 ini, PrivyID akan menggarap pasar bagian personalia perusahaan, (ron)