Published On: Mon, Mar 6th, 2017

Perubahan Iklim dan Perempuan

BERITABENAR-Kenaikan suhu 0,65 -1,02 derajat dari tahun 1800 telah mempengaruhi sistem iklim di dunia. Kenaikan suhu secara global ini mengakibatkan perubahan iklim dan memberikan dampak beragam kepada masyarakat.

Di Indonesia, suhu udara di daerah pesisir utara Jawa meningkat setiap tahun antara 0,0004-0,4 derajat celcius/tahun, dan diperkirakan akan meningkat hingga 100 tahun ke depan hingga mencapai antara 0,5 — 4 derajat celcius (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2009).

Fenomena perubahan iklim di Indonesia, juga terlihat pada kenaikan muka air laut, perubahan curah hujan, perubahan pola musim, kejadian cuaca ekstrem. Fenomena-fenomena perubahan iklim tersebut memberikan dampak yang cukup besar. Contohnya banjir dan rob di wilayah pesisir. Hal itu berdampak pada kehidupan pesisir.

Banjir dan rob semakin luas dan menggenangi pemukiman. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 99.000 km, pesisir pulau-pulai di Indonesia terdampak naiknya air laut.

Sektor kesehatan, transportasi, pertanian, dan perikanan darat akan terkena dampak yang cukup hebat. Salah satu contoh adalah Kota Pekalongan. Kenaikan air laut telah menghilangkan 100 persen lahan pertanian yang membentang di delapan kelurahan.

Lahan yang dulu dimanfaatkan masyarakat untuk lahan pertanian sawah, sejak 2007 tak dapat ditanami lagi. Petani sawah pun beralih menjadi petambak air payau dengan menggunakan jaring. Pendapatan mengalami penurunan. Hal tersebut mempengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Kenaikan air laut tidak saja berdampak pada kaum laki-laki, juga kaum perempuan. Laporan International Panel on Climate Change (IPCC) ke-5 Maret 2014 menyatakan kesehatan reproduksi kaum perempuan sangat berisiko terdampak perubahan iklim.

IPCC menyatakan perlu adanya jaminan dan perlindungan terhadap kesehatan reproduksi karena dampak perubahan iklim. Di negara berkembang seperti Indonesia, kelompok perempuan yang tinggal di bawah garis kemiskinan memiliki risiko besar akibat perubahan iklim.

Di pesisir Kota Semarang dan Kota Pekalongan, kaum perempuan lebih rentan terdampak banjir dan rob. Perempuan yang rata-rata tinggal di rumah, harus berjam-jam merendam kakinya dalam genangan rob.

Sebagai kelompok yang secara struktur sosial mempersiapkan keperluan sehari-hari keluarga, perempuan di wilayah yang terkena banjir dan rob ini harus beraktifitas di dalam rumah yang tergenang air. Setidaknya, kaki mereka terendam air selama 4 jam hingga banjir dan rob surut.

Kelompok perempuan dengan berpenghasilan rendah mengeluarkan anggaran pengeluaran yang lebih karena harus membeli makanan untuk keluarga serta air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kelompok ini juga sangat rentan terserang berbagai macam masalah kesehatan karena sanitasi yang buruk akibat banjir dan rob.

Beijing Platform for Action menyebutkan hubungan antara kemiskinan, bencana alam, masalah kesehatan, pembangunan yang tidak berkelanjutan, dan ketidakadilan gender. Keterlibatan kelompok perempuan dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan lingkungan di setiap level sangat penting dan perlu menjadi catatan.

Kelompok perempuan harus menjadi perhatian utama dalam perencanaan dan pelaksanaan program untuk pengelolaan lingkungan. Kelompok perempuan diharapkan mampu memberikan peran edukator kepada anggota keluarga dan masyarakat lain untuk menjaga lingkungan dan mengendalikan dampak perubahan iklim.

Keterlibatan kelompok perempuan perlu ditingkatkan di setiap level pengambilan keputusan yang menyangkut pembangunan dan pengelolaan lingkungan. Peningkatan kapasitas kelompok perempuan untuk bisa menyuarakan gagasan pengelolaan lingkungan menjadi kunci pengelolaan lingkungan. (21)