Published On: Mon, Mar 6th, 2017

Raja Salman dan Globalisme Islam

BERITABENAR-Kunjungan Raja Salman yang diagendakan selama sepekan ke depan di Indonesia mengingatkan masyarakat muslim mengenai perkembangan dunia Islam saat ini. Sebagaimana diketahui, Kerajaan Saudi mendapuk diri sebagai ‘Penjaga Dua Kota Suci’ yakni Mekah dan Madinah. Dua kota yang sangat dihormati umat Islam di seluruh dunia termasuk muslim di Indonesia. Kota Mekah sendiri tempat lahir Nabi Muhammad SAW, sementara Madinah kota tempat wafat dan dimakamkannya Nabi. Raja Salman dan Globalisme Islamr

“In a World where people are surrounded by darkness, ignorance andfear, it is a sign of hope to be celebrating Islam s message ofpeace and light, and the last great Messenger; bom and chosen to deliver them to all mankind.”

Mekah sebagai sentrum Islam, di mana kini dikuasai Kerajaan Saudi yang dimpimpin Raja Salman dan bertanggung-jawab sepenuhnya terhadap kelangsungan kota suci umat Islam tersebut. Islam sendiri sebagai agama, telah menyebar ke seantero penjuru dunia. Persis seperti apa yang dikatakan Yusuf Islam (a.k.a Cat Stevens) di atas, “Di dunia di mana umat manusia dikelilingi kegelapan, kebodohan dan ketakutan, itu adalah tanda untuk menggemakan pesan Islam yang damai dan sebagai lentera, dari Nabi Terakhir (Muhammad) yang terlahir guna menghantarkan ajaran untuk seluruh umat manusia.

Mungkin saat Nabi Muhammad SAW terlahir untuk memperkenalkan Islam di masyarakat Arab pada sekitar abad 6 Masehi, beliau tak memikirkan bahwa ajarannya akan menggeliat ke seantero belahan dunia. Kini setelah 15 abad sejak agama Islam diperkenalkan, impresinya telah menggetarkan jagat dunia.

Dalam laporan bertajuk Mapping the Global Muslim Population sebuah lembaga survei yang berkedudukan di Washington, Amerika Serikat, The Pew Forum on Religion and Public Life menyodorkan data tentang jumlah Muslim dunia yang melonjak hampir 100% dalam beberapa tahun terakhir ini.

Angka pasti menurut laporan itu, jumlah penganut Islam di seluruh dunia saat ini telah mencapai 1,57 miliar jiwa. Itu artinya, satu dari empat penduduk dunia mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan keseharian mereka.

Lembaga survey ini memang terkenal getol dalam melakukan penelitian soal kehidupan sosial dan keagamaan. Tak hanya masyarakat muslim di AS, penganut agama dan aliran kepercayaan lain pun, tak ketinggalan untuk mereka survey, terutama menyangkut angka kuantitas. Misalnya, mereka juga mensurvey penganut Mormonisme, sebuah sekte kekristenan di AS yang memperbolehkan poligami. Pengaruh sekte ini sangat mengakar dalam peta politik AS.

Dalam laporan itu, Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di seluruh dunia, lebih kurang 203 juta atau 13% dari seluruh penduduk muslim dunia. Sebanyak 60% jumlah muslim dunia tinggal di kawasan Asia, bukan di Timur Tengah, tempat asal ajaran agama ini. Sementara Eropa disebut sebagai negara yang pertumbuhan jumlah penduduk muslimnya sangat cepat.

Sekarang benua biru itu menjadi rumah bagi 38 juta muslim, atau lima persen dari seluruh populasi. Jumlah penduduk muslim di Jerman, misalnya, lebih kurang 4 juta orang, hampir sama dengan jumlah gabungan muslim di Amerika Utara dan Selatan. Di Benua Amerika, sebanyak 4,6 juta muslim tinggal di sana dan hampir separuh dari jumlah itu ada di Amerika Serikat. Sedang di Kanada jumlah muslimnya mencapai 700.000 jiwa, atau 2% dari seluruh populasi.

The Pew Forum juga menyodorkan data yang cukup mengagetkan. Misalnya, jumlah penduduk Muslim di Jerman ternyata lebih banyak dari Lebanon, Muslim di Cina lebih banyak dari Suriah, dan Muslim di Russia lebih banyak dari gabungan jumlah Muslim di Yordania dan Libya.

Masih Menyedihkan
Laporan The Pew Forum tentu sangat menggembirakan, meski kondisi dunia Islam masih menyedihkan ditambah dengan “upaya sistematis” untuk menciptakan stigma negatif terhadap Islam dan umat Islam dengan tuduhan teroris, meski demikian populasi muslim masih terus bertambah.

Namun sayang, lepas dari data statistik itu, negeri-negeri Islam secara umum adalah populasi dengan jumlah penduduk miskin yang tinggi seperti nasib umat Islam di Afrika (Ethopia, Nigeria, Somalia), Asia (Pakistan, Bangladesh, India, termasuk Indonesia). Padahal negeri-negeri Islam secara umum kekayaan alamnya melimpah ruah. Tingkat kebodohan di dunia Islam masih tinggi.

Secara politik, jumlah populasi muslim yang besar itu tidak membuat umat Islam menjadi negara adidaya. Meskipun sudah merdeka secara formal, namun sebagian besar negeri Islam masih berada dalam bayang-bayang penguasa global seperti AS.

Maka tidaklah mengherankan meskipun jumlahnya besar, umat Islam tidak bisa membebaskan diri atau membebaskan saudaranya yang ditindas di berbagai kawasan dunia Islam seperti Chechnya, Irak, Afghanistan, Pakistan, Thailand Selatan, Filipina Selatan, Xianjiang, Bosnia, atau Palestina. Umat Islam belum bisa berbuat banyak menghentikan kekejaman Israel.

Padahal jumlah penduduk Israel hanya 8 juta. Bandingkan dengan hanya gabungan Iran (74 juta), Irak (30 juta), Suriah (20 juta), Saudi Arabia (25 juta), Yaman (23 juta), Mesir (79 juta) saja populasi muslim hampir mencapai 251 juta. Artinya jikalau diambil 10% saja menjadi tentara, berarti ada 25 juta tentara yang bisa digerakan untuk membebaskan Palestina. Tapi sayang seribu sayang, itu tak terjadi dalam realitas umat Islam hari ini!

Penulis adalah Peneliti Indonesian Institute for Social Research and Development, Jakarta.