Published On: Tue, Feb 21st, 2017

Ramai-ramai Tanam Cabai

BERITABENAR-Harga cabai yang menggilirkan membuat banyak petani ramai-ramai menanam cabai. Soal harganya saat panen nanti naik atau anjlok petani tak terlalu memikirkannya. Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, di lahan pertanian Desa Gunosari,

Maesan, petani banyak yang menyiapkan lahan untuk menanam cabai. Bahkan, lahan yang seharusnya musim ini ditanam-mi padi berubah cabai. Solihin, salah seorang petani setempat mengatakan, dalam setahun memang menanam dua tanamam berbeda.

Diantaranya padi, dan tembakau phis cabai. “Sebelum cabai ini, tanam tembakau dan cabai. Jadi di sela-sela tembakau juga ada cabainya,” terangnya.

Biasanya, kata dia, setelah tembakau jadwal tanamnya itu padi. Berhubung hasil panen cabai kemarin lumayan dan harga cabai makin mahal membuat pria 30 tahun itu memilih cabai. “Harganya cabai bagus, kemarin saja masih menguntungkan cabai dari pada tembakau,” ujarnya. Perkilogram cabai yang masih hijau saja dihargai Rp 34 ribu.

Dia sendiri mengaku tak takut harga cabai nanti murah. Sebab, dari pengalaman selama ini tak pernah harga cabai itu merosot tajam seperti harga tomat sekarang Rp 750 – Rp 1.000 perkilogram dari petani. “Semurah-murahnya cabai itu tidak akan rugi, ruginya mungkin tidak dirawat atau rusak karena hujan” paparnya. Menyiasati agar tidak rusak saat hujan nanti, adalah persiapan lahan yang dalam untuk pembuangan air.

Menyikapi hal tersebut Ketua Komisi m Ady Kriesna mengatakan, saat ini harga cabai memang menggiurkan untuk petani. Tapi, perlu dicatat saat tanam sekarang apakah empat bulan kedepan atau memasuki masa panen harga cabai itu tetap mahal. Apalagi, sebentar lagi sudah masa akhir musim penghujan dan memasuki musim kemarau. Sehingga, produksi cabai ini kembali stabil dan belum lagi banyak petani menanam cabai. “Mengapa harga cabai ini mahal, karena pasokannya berkurang tidak seimbang antara permintaan. Pasokan kurang itu karena tanaman cabai banyak yang rusak, akibat hujan,” ujarnya.

Agar tidak berlebihan pasokan cabai saat musim kemarau nanti dan harga cabai tidak terlalu jatuh. Tentu perlu pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) ke sejumlah petani, untuk mengatur jadwal yang pas kapan petani cabai itu untung besar saat panen. Masalah, menyakinkan petani agar tak tanam cabai pun bukan persoalan mudah. Sebab, petani itu sulit percaya jika tidak ada contoh.

Sehingga, kata dia, saat kunker ke dinas pertanian kemarin mengusulkan masing-masing Balai Penyuluh Pertanian (BPP) ituadademplot atau lahan percontohan. Sehingga, dari sana petani meniru jadwal pertanian ataupun teknik pertanian.