Published On: Mon, Feb 20th, 2017

Rekaman Perjuangan 25 Tahun Tim Paliatif

BERITABENAR.COM-Tim paliatif RSUD dr Soetomo kemarin (19/2) merayakan ulang tahun ke-25. Dalam acara itu, sekaligus diluncurkan buku yang mendokumentasikan perjalanan pelayanan paliatif, mulai merintis hingga sekarang.

Prof dr Sunaryadi Tejawinata SpTHT ingat betul ketika kali pertama diminta untuk mendirikan pelayanan paliatif. Di Indonesia waktu itu belum dikenalkan pelayanan tersebut “Kami mulai belajar ke beberapa pusat pelayanan paliatif di luar negeri,” tuturnya.

Sekarang pelayanan paliatif memiliki poli sendiri. Pasien yang terlayani semakin banyak. Bahkan, mereka memiliki layanan homecare.

Menurut Sun, sapaan akrab Sunaryadi, berdirinya poli paliatif tersebut tidak terlepas dari peran relawan. Sekarang ada sekitar seratus orang yang mengabdi. Agar jumlah relawan terus bertambah, tim paliatif RSUD dr Soetomo menggugah masyarakat untuk bergabung dan bergerak bersama. “Rencana kami di Jawa Timur memiliki 1.000 relawan paliatif
yang terdiri atas berbagai profesijelasnya.

Relawan paliatif tersebut sangat membantu untuk menjangkau pasien yang semakin hari semakin banyak Pasien paliatif tidak pernah kurang dari 4.000 orang per tahun. Jumlah kunjungan setiap hari minimal 40 pasien. Sebagian merupakan penderita kanker dengan stadium lanjut Sebagian besar berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Sementara itu, Kepala Poli Paliatif RSUD dr Soetomo dr Agus Ali Fauzi menyatakan bahwa perawatan paliatif bukan hanya pada sektor medis. Melainkan juga pada ranah sosial, ekonomi, dan religi. “Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien,” tuturnya.
Selama bergabung di tim paliatif, Agus merasakan hal yang luar biasa. Pengalaman tersebut dia tuliskan dalam buku yang berjudul Pelayanan Paliatif di Indonesia yang juga diluncurkan kemarin.

Dalam buku tersebut Agus menceritakan bagaimana nyerinya seorang penderita
kanker payudara stadium akhir. Agus menanyakan berapakah skor nyeri yang dirasakan ibu pengidap kanker payudara itu. “Ada di angka 15, dokteif tulis Agus. Padahal, Agus hanya memberikan batasan pada angka 15. Hal tersebut berarti rasa sakitnya sangat parah.

Adanya tim paliatif mendapat apresiasi Sekjen Kemenkes dr Untung Suseno Sutarjo. Dia menyebutkan bahwa setiap tahun ada 130 per 100.000 penduduk yang mengidap kanker baru. Walaupun baru, sebagian besar kanker yang diderita merupakan stadium lanjut. “Adanya tim paliatif membantu mengurangi angka kesakitan pasien,” ujarnya.

Ditemui pada acara yang sama, Ketua Perkumpulan Dokter Paliatif Indonesia (Perdopin) dr Urip Murtedjo SpB-KL menyatakan bahwa di Surabaya akan ada pendidikan dokter spesialis paliatif di Indonesia. Rencana tersebut sedang digodok dengan Fakultas Kedokteran Unair. “Selama ini kalau mau belajar paliatif, harus ke luar negeri” katanya.

(Iyn/c6/git)