Published On: Mon, Feb 20th, 2017

Rekonsiliasi Kebangsaan Pasca Pilkada

BERITABENAR.COM-Kutipan pidato monumental Soekarno di atas sekadar menyegarkan ingatan kita, bahwa bangsa ini berdiri dan didirikan untuk semua golongan bukan segelintir penguasa, kutipan ini juga sekaligus untuk mencairkan kebekuan jiwa kebangsaan yang akhir-akhir ini cenderung apatis.
Beberapa bulan terakhir sebelum pilkada berlangsung, perhatian masyarakat dialihkan pada banyak kegaduhan. Drama politik, penistaan, pencemaran ideology, dan sentimen indentitas bermunculan di awal kontestasi pilkada. Entah untuk kepentingan politikatau tidak, kegaduhan tersebut telah mengusik jiwa kebinekaan anak negeri.

Penetrasi demokrasi liberal dan perhelatan akbar pilkada jangan sampai menjadi doktrin yang menggoyahkan sakralitas persatuan Bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang mejemuk, pandangan kita terhadap demokrasi lebih kepada alat pemersatu dan pemenuhan kesejahteraan masyarakat. NKRI harga mati tidak hanya sekadar semboyan kebangsaan belaka, melainkan komitmen yang tidak dapat serta merta kita tukar dengan apapun. Bahkan dengan kursi kekuasaan sekalipun.

Kita tidak ingin melihat masyarakat terfragmentasi (terkotak-kotak) pada satu egoisme identitas. Meski berbeda namun bukan berarti untukku masalahku dan untukmu masalahmu. Persoalan kebangsaaan merupakan agenda bersama menciptakan kedamaian hidup. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang melebur satu dalam banyak perbedaan. Bangsa yang mencintai, mengasihi, dan melindungi sesama manusia bukan sesama golongan. Olehka rena itu, di butuhkan sensitivitas kebangsaan yang tinggi agar terus terpanggil merawat persatuan.

Pilkada untuk Persatuan Di lihat dari sudut pandang pemikiran yang jemih, pemilihan kepala daerah merupakan agenda demokrasi yang meleburkan tujuan dalam satu pembangunan masyarakat yang sejahtera. Kesejahteraan kolektif dan kesejahteraan yang memanusiakan. Dalam sudut pandang yang lain, pilkada juga merupakan sebuah wahana pendidikan demokrasi serta instrumen dari pada kedaulatan rakyat.
Pemaknaan pilkada sebagai alat pemersatu sudah sepantasnya melekat pada pemikiran masyarakat Indonesia, sehingga dapat mengkulturasi perilaku-perilaku yang demokratis, perilaku-perilaku perekat kebangsaan, serta perilaku yang toleran. Pilkada ibarat jembatan yang akan kita lalui bersama untuk kesejahteraan bersama.

Meski demikian, banyak hal yang tidak bisa kita pungkiri hari ini. Pilkada masih sarat dengan kepentingan pribadi elite. Pemaknaan pilkada yang mulia jauh panggang dari api. Para elite yang mabuk kepayang merenggut substansi pilkada lebih kepada momentum perebutan kekuasaan dan harga diri partai pengusung. Peran Polri, TNI, dan Badan Kesbangpol Sebagai institusi yang netral dalam pilkada, Polri dan TNI mempunyai peran yang strategis mencipta-kan suasana kebangsaan yang harmonis. Pertama, Polri danTNI mempunyai alat yang dapat memaksa masyarakat untuk taat kepada hukum. Masyarakat yang mencoba mengganggu keutuhan NKRI lebih mudah untuk ditindak. Kedua, sumber daya yang dimiliki Polri dan TNI cukup banyak untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat di seluruh pelosok negeri, terkait pentingnya menjaga kerukunan. Ketiga, Polri dan TNI memiliki aura dan semangat nasionalisme yang tinggi sehingga imbauan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga persatuan dengan mudah dapat ditransfer. Keempat, hubungan kemitraan yang baik antara Polri,TNI, ulama, dan instansi pemerintah terkait menjadi modal koordinasi mendeteksi dini potensi-potensi konfliksosiaL Kelima, Polri dan TNI diharapkan dapat menghadirkan persatuan sejak dini melalui dialog kebangsaan pada institusi pendidikan.

Selain Polri dan TNI, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik pun memiliki peran untuk mendukung kinerja TNI dan Polri. Peran itu di implementasikan dalam kegiatan fasilitasi forum kerukunan umat beragama, yang dihadiri para tokoh agama dan forum pembauran kebangsaan yang melibatkan pelbagai etnis. Kegiatan-kegiatan ini adalah bentuk koordinasi untuk mencegah terjadinya gesekan, yang kemudian dapat mengganggu stabilitas kemajemukan negeri ini. Kegiatan ini perlu di optimalkan agar menjadi perisai pada masyarakat Intensitas koordinasi serta imbauan-imbauan konstruktif dari para tokoh-tokoh negara, sangat diperlukan dalam rangka merebut optimisme persatuan dan kesatuan bangsa. Harapan kita, semoga dengan berakhirnya pemilihan kepala daerah, masyarakatkembali bersatu dan tidak ada lagi sekat identitas. Penulis mengajak semua golongan masyarakat dan terlebih kepada pribadi penulis, agar senantiasa berpegang teguh pada simpul persaudaraan dan nilai-nilai ideologi Pancasila. Wassalam.

(M. Ridwan Radief)