Published On: Wed, Nov 23rd, 2016

Sedulur Sejati dalam Khasanah Jawa oleh Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit

Sedulur Sejati dalam Khasanah Jawa oleh Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit adalah salah satu pelaku atau praktisi spiritual Jawa. Beliau selalu memberikan pengertian yang mudah dimengerti oleh masyarakat dan awam. Bukan tanpa tujuan beliau melakukan hal tersebut. “Memang orang zaman dahulu sering menggunakan sanepan, pralambang, atau kiasan dalam menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan mistik atau pun spiritual. Kalau zaman dahulu, karena masyarakat dan awam pun setidaknya mengerti dengan bahasa kiasan, jadi ya tidak terlalu susah mencernanya. Lah kalau zaman sekarang? Kiasan aja nggak paham, malah bisa salah kaprah memaknainya,” terang Ki Yohanes. Beliau mencontohkan banyak hal yang salah kaprah dalam dunia mistik Jawa. Salah satunya adalah tentang sedulur sejati.

Sedulur adalah kata yang berasal dari Bahasa Jawa. Kata sedulur mempunyai arti atau makna saudara. Sedangkan kata sejati, berasal dari kata jati, yang dalam pengertiannya dimaknai sebagai asli, murni, atau kemurnian. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit dalam membabar sedulur sejati selalu menggunakan analagi-analogi yang mudah dipahami awam. Beliau mencontohkan seperti kisah Hanoman di dalam cerita pewayangan Ramayana. Hanoman bertemu dengan empat sedulurnya yang berubah menjadi raksasa, dan menjadi pasukan dari Rahwana. Bahkan di dalam kisah epik tersebut, diceritakan bahwa Hanoman sebelum mengetahui diri sejatinya, terlebih dahulu ia mengalahkan empat sedulurnya tersebut. Meskipun saat bertempur dan mengalahkan sedulurnya itu Hanoman tidak mengetahui bahwa mereka adalah sedulurnya sendiri.

Menurut Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit, di dalam kisah Ramayana, khususnya bagian Hanoman bertarung dengan empat raksasa yang ternyata sedulurnya sendiri, adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi berikutnya. Sebab, ketika Hanoman berhasil mengalahkan empat raksasa tersebut, mereka berempat berubah wujud menjadi wanara pethak atau kera putih seperti Hanoman. Dan melebur, bersatu atau nyawiji dalam raga Hanoman yang menjadi pancer atau pusat.

Kisah Hanoman yang mengalahkan empat raksasa dan kemudian raksasa-raksasa tersebut berubah bentuk menjadi dirinya yang sejati, yaitu Hanoman, dan nyawiji kembali adalah wanti-wanti atau pertanda kepada generasi berikutnya supaya berhati-hati. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit menerangkan bahwa empat sedulur sejati itu bila tidak dibina, dirawat, dan diarahkan, maka mereka akan sangat mudah diculik oleh Rahwana, dan akan diajarkan segala hal yang berbau angkara murka. Sehingga wujud para sedulur itu akan berubah menjadi raksasa. Dimana empat sedulur itu selalu ingin memuaskan nafsu mereka.

Oleh karena itu, diri kita yang sejati, berperan sebagai pancer atau pusat, yang bertugas untuk meluruskan arah dan langkah empat sedulur. Sebab bagaimanapun empat sedulur tersebut juga diri kita sendiri. “Sedulur sejati, empat sedulur, pancer, pusat, ya itu sebenarnya sama saja. Itu merupakan diri kita sendiri,” imbuh Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit.

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit dalam menjelaskan pengertian dan pemahaman mengenai sedulur sejati dengan menggunakan metode kisah pewayangan sangat menarik bagi generasi muda saat ini, baik masyarakat awam secara luas maupun generasi muda yang kebanyakan menjadi mahaasiswa dan cara berpikirnya sangat akademis.

Semoga saja semakin banyak pelaku, praktisi, dan pecinta spiritual yang memberikan penjelasan tentang metafisika dan spiritualitas kepada generasi muda dan masyarakat luas dengan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, sehingga warisan leluhur tentang spiritualitas tidak akan hilang ditelan zaman. Ia akan terus mengabadi, dan tak berlalu bersama angin.