Published On: Sun, Feb 26th, 2017

Siapa pun Bisa Jadi Agen Rahasia

BERITABENAR-Pelaku yang diduga membunuh Kim Jong-nam diyakini adalah agen rahasia dari berbagai kewarganegaraan. Apakah hal itu lazim?

Itu tentu sangat tergantung pada apa tujuan yang hendak dicapai dalam sebuah operasi intelijen. Sebagai contoh dalam operasi perburuan terhadap tokoh Al-Qaedah Usamah bin Ladin. Karena lokasinya di Pakistan, dipastikan CIA menggunakan agen Pakistan.

Ada keuntungan dengan merekut agen lokal?

Sebab hanya dengan merekrut agen lokal akhirnya dapat mengetahui dengan pasti di mana lokasi dan bahkan lengkap dengan foto-foto persembunyian Usamah. Bagaimanapun, agen lokal jelas lebih paham lokasi dan wilayahnya dibandingkan dengan agen asing.

Alasan atau motivasi dalam setiap operasi intelijen tentu berbeda. Amerika Serikat jelas memiliki motivasi untuk menangkap Usamah yang dianggap sebagai otak serangan Menara WTC pada 9 September 2001. Dalam operasi intelijen di Syiria, CIAmenggunakan banyak agen setempat. Sebab, sangat riskan bila dalam operasi lapangan terlalu banyak menggunakan agen sendiri. Dari jenis kulit, warna rambut, budaya, agama, dan bahasa akan merugikan bila Amerika Serikat ngotot menggunakan agen sendiri.

Adakah motif lain yang menggerakkan operasi intelijen?

Ada, yaitu motif balas dendam. Dalam operasi intelijen hal itu pernah terjadi, yaitu ketika para bekas anggota Schutzstaffel yang biasa disingkat SS Jerman diburu dan kemudian dihabisi oleh agen-agen rahasia Israel yang dikenal dengan nama Mossad. Karena, pada masa lalu, para anggota SS dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembantaian terhadap Yahudi. Padahal, para anggota Skuadron Pelindung yang merupakan organisasi keamanan dan militer Partai Nazi Jerman itu sudah bersembunyi di sejumlah negara dan berusaha menghilangkan jejak. Selain itu, bekas anggota SS sudah berganti identitas bahkan sampai mengoperasi wajah agar selamat dari kejaran Mossad.

Bagaimana dengan motif pembunuhan terhadap Kim Jong-nam?

Saya rasa dia dilenyapkan oleh intelijen Korea Utara. Mengapa? Harus diingat, Jong-nam adalah anak pertama dari mantan pemimpin Korea Utara Kim Jong-il. Padahal yang akhirnya ditunjuk sebagai pemimpin saat ini adalah Kim Jong-un, yang merupakan anak bungsu.

Bagaimanapun Jong-nam tentu memiliki ambisi dan merasa berhak duduk sebagai penguasa Korea Utara. Hal itu dianggap sebagai ancaman bagi Jong-un, sehingga tidak ada cara lain selain melenyapkan orang yang berpotensi mengancam kekuasaannya. Dimulailah sebuah operasi intelijen yang biasa disebut sebagai operasi penggalangan.

Seperti apa bentuknya?

Ada tiga operasi intelijen, yaitu penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan. Operasi penggalangan ada dua jenis. Pertama, operasi penggalangan lunak dan keras. Kasus Jong-nam termasuk golongan yang keras. Termasuk keras bila target dihabisi, dibuat pikun atau tidak berdaya. Kelihatannya hidup, tetapi sesungguhnya sudah mati. Target akan dijadikan seperti apa, sangat tergantung pada permintaan bos besar.

Dalam organisasi intelijen, perintah datang bertingkat. Misalnya, bos besar adalah kepala negara atau kepala pemerintahan. Perintah diberikan kepada bos atau dalam hal ini kepala badan intelijen negara tersebut. Dari bos diturunkan ke agen pengendali. Kemudian perintah diturunkan ke agen-agen di lapangan yang bertugas mengeksekusi perintah. Kondisi dan situasi tentu sangat berpengaruh dalam pelaksanaan eksekusi di lapangan.

Apakah saat itu perintah sudah bisa dilaksanakan?

Tetap harus ada simulasi atau latihan sebelum pelaksanaan perintah. Karena, pelaksanaan operasi tidak menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Selain itu, kesempatan yang tersedia untuk mengeksekusi perintah tidaklah banyak.

Tersangka pembunuh Jongnam paling tidak sudah berlatih tiga kali. Adapun pemilihan racun sebagai media pembunuhan tentu sangat teknis situasional. Intelijen tentu sudah mengetahui media apa yang paling pas digunakan untuk melenyapkan target.

Muncul pertanyaan, mengapa Siti Aisyah mau melakukan pembunuhan itu? Menurut analisis saya, yang bersangkutan tidak tahu dan hanya dimanfaatkan para agen pengendali dengan iming-iming sejumlah uang.

Apakah Siti Aisyah agen rahasia?

Agen bisa siapa saja. Bahkan orang gila pun dapat digunakan sebagai agen untuk menutupi kegiatan intelijen yang sesungguhnya. Ada agen organik reguler dan ada juga agen situasional, tanpa yang bersangkutan harus tahu dirinya dimanfaatkan sebagai agen.

Bagi orang dengan kondisi ekonomi lemah dan berpendidikan kurang seperti Siti Aisyah, iming-iming uang jelas sangat berarti. Apalagi pada saat latihan, yang harus dilakukan tidaklah berat.

Cara berpikirnya tentu sederhana: pekerjaan ringan dengan bayaran cukup mahal. Namun bagaimanapun kita harus menunggu dan menghormati hasil investigasi otoritas keamanan Malaysia. Sebaliknya, Pemerintah Indonesia harus memberikan pembelaan kepada Siti Aisyah. Karena, dia warga negara Indonesia. Lebih baik menggunakan bantuan pengacara Malaysia yang kompeten dan paham hukum di sana. Namun bila akhirnya Siti Aisyah diputus bersalah, hal itu juga harus direlakan.

Apakah bisa dipastikan operasi itu atas restu Jong-un?

Sangat aneh kalau operasi sebesar itu tidak diketahui oleh orang nomor satu di Korea Utara. Apalagi bila keberadaan Jongnam dianggap membahayakan posisi Jong-un. Karena Jong-nam tetap berada di luar negeri, akan dapat dimanfaatkan oleh musuhmusuh Jong-un seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Itulah alasan mengapa Jongnam harus dilenyapkan. Melihat karakter Jong-un yang terkenal kejam, tak heran bila dia dianggap dalang pembunuhan kakak tirinya. Pembunuhan itu tidak akan berdampak negatif terhadap hubungan Korea Utara dan Indonesia karena yang dilenyapkan adalah individu.

Apakah Indonesia mudah digoyang operasi intelijen asing?

Sejak dulu Indonesia terdiri atas banyak etnis, agama, dan budaya, tetapi tidak ada masalah. Jadi, sangat berlebihan bila ada yang beranggapan negara kesatuan Republik Indonesia di ujung tanduk. Kalaupun ada gesekan, itu bersifat lokal dan tidak sampai nasional. Artinya, ada yang menggosok agar muncul percikan. Bila hukum ditegakkan secara adil, saya pastikan tidak akan ada masalah.

(Saktia Andri Susilo)