Published On: Thu, Feb 23rd, 2017

Syarat Lulus Doktor Wajib Publikasi Internasional

BERITABENAR-Upaya Kemenristek-dikti menggejot publikasi internasional tidak main-main. Mahasiswa jenjang doktoral (S3) juga diberi tugas membuat publikasi internasional. Publikasi ini menjadi syarat sebelum dinyatakan lulus program doktoral.

Ketentuan anyar itu disampaikan Menristekdikti Mohamad Nasir saat berdiskusi dengan pimpinan kampus swasta di kantor Kopertis X, Padang, Rabu (23/2). Pertemuan ini dihadiri M NASIR pimpinan kampus swasta di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Jambi.

“Supaya tidak berat, jangan dianggap sebagai kewajiban. Tapi sebagai tugas,” katanya.
Kewajiban membuat publikasi internasional itu tertuang dalam Permenristekdikti 44/2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT). Sejumkah kampus mulai menerapkan regulasi kewajiban publikasi internasional itu mulai tahun ini. Nasir menjelaskan kebijakan ini diambil supaya mahasiswa berkontribusi menciptakan world class university.

Data Kemenristekdikti sampai akhir 2016 menyebutkan, publikasi ilmiah internasional masih di angka 9.981 judul. Jumlah itu berpotensi besar bertambah, karena populasi mahasiswa S3 yang aktif sampai sekarang mencapai 21.638 orang. Nasir optimis jika regulasi ini dijalankan secara konsisten, jumlah publikasi Indonesia bisa mengalahkan Malaysia bahkan Singapura.

Nasir menegaskan aturan itu sudah paten. Sehingga mahasiswa S3 yang belum membuat publikasi ilmiah internasional, tidak boleh diluluskan dahulu. “Publikasinya itu yang penelitian disertasi. Dibuat ulang yang ringkas seperti makalah,” katanya. Dengan demikian tidak perlu melakukan dua jenis penelitian atau riset.

Kepada mahasiswa S3 yang menyambi bekerja, berpotensi keberatan dengan kebijakan itu. Namun Nasir bergeming. Dia menegaskan aturan ini berlaku untuk mahasiswa S3 tanpa terkecuali. Apakah itu mahasiswa S3 yang tidak bekerja, maupun yang bekerja sehari-hari.

Mantan rektor Universitas Diponegoro itu mengatakan, dalam praktiknya mungkin akan ada kendala bahasa. Sebab publikasi yang dimasukkan ke jurnal internasional, menggunakan bahasa Ingrris. Nasir mengusulkan supaya kampus menyiapkan unit khusus yang bertugas menerjemahkan karya untuk publikasi internasional.

Dosen farmasi Universitas Andalas Dr Muslim Suwardi mengatakan, penerjemahan untuk karya ilmiah tidak bisa sembarangan. Sebab ada istilah-istilah kebahasaan yang khusus terkait bidang keilmuan. “Taste akan terasa beda,” kata pria yang juga Rektor Unibersitas Mohammad Natsir itu.

Dia memberikan saran kepada mahasiswa saat membuat publikasi internasional. Yakni bekerja secara berkelompok sesuai dengan jurusan masing-masih. Nah di dalam kelompok ini, ada yang memiliki keahlian bahasa Inggris, ada yang mahir menulis, dan mahir riset di laboratorium. Dengan kerja kelompok, bisa saling membantu kelemahan masing-masing.

Muslim mengingatkan pemerintah, bahwa setiap mahasiswa, dosen, bahkan guru besar memiliki bakat dan minat berbeda-beda. Adayang berbakat menulis. “Sehingga menulis sampai dua judul setiap bulan sanggup saja,” katanya. Namun ada yang kurang berbakat menulis, sehingga perlu diperlakukan secara khusus.(wan/jpg)