Published On: Mon, Mar 6th, 2017

Tembakau Gorila Mengancam Bangsa

BERITABENAR- Indonesia telah diguncang dengan fenomena tembakau Gorila. Narkoba menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia. Kalangan usia produktif seperti pelajar, mahasiswa dan kaum muda lainnya menjadi target utama para mafia dan bandar narkoba kelas kakap baik yang berasal dari dalam negeri maupun berskala internasional. Untuk menarik perhatian generasi muda, para mafia ini mengemas narkoba dalam bentuk modern nan modis sesuai dengan perkembangan zaman.

Tak hanya dalam menyisipkannya dalam bentuk makanan (permen) bandar narkoba kerap berinovasi menjadikan barang haram tersebut sebagai bagian dari life style kekinian dalam pergaulan, seperti melalui rokok elektrik, pil/tablet yang paling banyak dijumpai di lokasi-lokasi hiburan. Bahkan untuk terus mengelabui petugas, modus pemasaran narkoba juga terus berkembang menemukan 1001 cara licik. Seperti yang terjadi belum lama ini, dimana pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Petugas Bea Cukai Pelabuhan berhasil mengamankan narkoba yang disisipkan dalam mesin genset serta tiang peranca yang beratnya mencapai tonase.

BNN mengakui bahwa pihaknya sering kecolongan dalam menggagalkan penyeludupan narkoba kedalam negeri dengan berbagai macam modusnya. Meski demikian, pihak BNN akan bekerja sekeras mungkin dengan menggandeng pihak-pihak terkait dalam menyelamatkan bangsa Indonesia dari bahaya narkoba.

Inovasi

Sebagaimana penulis jelaskan diatas, mafia narkoba memiliki beribu cara untuk mencekoki generasi bangsa dengan narkotika. Bukan hanya terus berinovasi dalam melakukan penyeludupan dan modernisasi produk, namun mereka juga terus menghujani bangsa dengan modus serta jenis narkoba itu sendiri. Setelah ganja, sabu-sabu, heroin, pil ekstasi dan lain sebagainya, kali ini melalui Tembakau Gorila, turut meramaikan pasar dunia obat-obat terlarang di Indonesia.

Tembakau (cap/merek) Gorila merupakan salah satu jenis narkoba racikan baru yang baru dikenal pada tahun 2015 lalu. Selain itu, narkotika jenis ini juga belum diatur dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maupun peraturan baku terkait lainnya, sehingga BNN mengalami kesulitan dalam menindaklanjuti peredaran narkotika ini. Selain itu sesuai dengan asas legalitas dalam hukum nasional kita, pengguna tembakau gorila juga tidak dapat dijerat hukum karena belum termasuk dalam UU Narkotika.

Kasus tembakau gorila di Indonesia pertama kali mencuat ke permukaan melalui kapten pilot salah satu maskapai penerbangan ternama pada 28 Desember 2016 lalu. Saat ini sang pilot diketahui hendak menerbangkan pesawat dalam kondisi pengaruh tembakau gorila. Sang pilot mulai berbicara merancu yang menimbulkan kecurigaan serta kecemasan penghuni pesawat. Kasus pilot yang mengkonsumsi narkoba ini berbuntut pada mundurnya sejumlah pejabat elit maskapai penerbangan tersebut karena merasa gagal dalam membina serta mengawasi pilot mereka.

Berdasarkan informasi dari CNNIndonesia.com Tembakau Gorila pada dasarnya sama seperti tanaman tembakau bahan baku rokok pada umumnya. Namun untuk memberi efek play dan halusinasi narkoba, maka tembakau terlebih dahulu harus diracik dengan mencampurkan bubuk senyawa kimia yang dicampur dengan air kemudian disemprotkan ke daun tembakau. Bubuk tersebut mengandung zat kimia bernama AB-CHIMINACA. Zat tersebut merupakan salah satu jenis synthetic cannabinoid (SC).

SC akan memberikan efek halusinasi yang sama seperti pada ganja. Selain itu, penggunaan tembakau gorila juga akan menimbulkan efek samping seperti psikosis, agitasi, agresi, cemas, ide bunuh diri, gejala putus zat, bahkan sindrom ketergantungan. Selain itu, penelitian terbaru dari medis juga menyebutkan dampak negatif SC lainnya bagi tubuh seperti stroke iskemik, hipertensi, takikardi, perubahan segmen ST, nyeri dada, gagal ginjal akut, bahkan infark miokardium. Mungkin karena tergolong narkotika jenis baru yang belum begitu familiar dan mencari memiliki pelanggan setia, mafia narkoba menjual barang haram ini dengan harga yang tidak terlalu mahal. Harganya hanya beberapa tingkat dari daun ganja yang sudah terlebih dahulu merakyat, yakni berkisar Rp. 300.000/100 gram.

Untungnya belum lama ini BNN berhasil membongkar salah satu modus pemasaran tembakau gorila yang memanfaatkan salah satu situs e-comerce. “Penjualannya itu secara online, jadi kami susah untuk mendeteksi peredarannya di masyarakat,” kata Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Besar Slamet Pribadi.

Menurut Slamet, tembakau gorila sejauh ini sudah masuk dalam tahap finalisasi draft di Kementerian Kesehatan untuk masuk ke dalam narkotika golongan I. “Makanya saat ini kami sedang mengupayakan untuk memasukkan tembakau gorila ini ke dalam UU Narkotika,” tutupnya. (CNNIndonesia.com)

Payung Hukum

Indonesia menjadi pasar potensial bagi mafia narkoba dalam bisnis haramnya. Oleh sebab itu, para pengedar narkoba akan terus berinovasi menciptakan berbagai modus dan produk baru dalam melaksanakan misi meracuni generasi penerus bangsa. Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 yang menjadi senjata utama pemberantasan narkoba haruslah diperketat agar tidak ada lagi celah bagi mafia narkoba. Selama ini aparatur penegak hukum kerap mengalami hambatan dalam penindakan narkoba jenis baru karena tidak diatur dalam undang-undang ini. Sementara itu, dari tahun 2009 saat UU ini diundangkan sampai sekarang, mafia narkoba terus berinovasi menciptakan berbagai produk baru yang tidak diatur dalam UU.

Dalam Pasal 6 Undang-undang Narkotika sendiri, membagi barang haram tersebut kedalam tiga golongan, dimana perinciannya terdapat pada penjelasan, lembaran undang-undang dan peraturan Menteri. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 13 Tahun 2014 Tentang Perubahan Penggolongan Narkotika dan Permenkes Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Penggolongan Pisikotropika.

UU dan Permenkes ini, menjelaskan jenis-jenis zat senyawa ataupun tanaman yang termasuk dalam kategori narkotika yang dapat dijerat hukum secara detail. Artinya, jika ada zat, senyawa ataupun tanaman baru yang memberi dampak sama seperti narkoba, harus terlebih dahulu dilakukan perubahan terhadap Permenkes ini barulah dapat diproses ataupun diambil tindakan hukum.

Sederhananya UU Narkotika dan Permenkes terkait narkotika terdapat celah yang sangat besar dan menjadi peluang bagi mafia narkoba untuk lolos dari jeratan hukum melalui inovasi produk baru.

Untuk mengatasi kelemahan ini, sebenarnya ada satu cara sederhana, yaitu dengan menambahkan pasal baru baik di dalam UU Narkotika maupun Permenkes yang menjelaskan jenis-jenis zat adiktif (golongan narkoba).

Setidaknya dalam UU narkotika dapat ditambahkan sebuah pasal yang menjeneralkan penyalahgunaan berbagai jenis zat maupun kandungan yang bersifat memberi efek ketergantungan atau merusak sistem syaraf tubuh, atau setidak-tidaknya memiliki efek sama seperti narkotika golongan I, II, III dan lain sebagainya, termasuk dalam kategori terlarang menurut undang-undang ini. Sehingga aparatur penegak hukum kita tidak perlu repot menunggu peraturan dari kementerian maupun badan terkait untuk menindak kejahatan narkotika.

Dengan menambahkan pasal yang pada pokoknya menyangkut substansi diatas, diharapkan kedepannya tidak akan ada lagi inovasi narkotika baru yang dapat lolos dari jeratan hukum. Undang-undang tidak perlu secara detail menyebutkan nama dan jenis tanaman narkotika maupun senyawa zat berbahaya satu-persatu. Cukup menambahkan satu pasal efektif yang dapat menyapu bersih berbagai jenis narkotika baru untuk ditindak secara hukum. Hal ini harus segera dilakukan jika pemerintah memang berkomitmen membebaskan Indonesia dari cengkraman mafia narkoba. ***

Sagita Purnomo, penulis adalah Alumni UMSU 2014.