Published On: Fri, Jul 3rd, 2015

TNI AU: “Pesawat Hercules Jatuh Bukan Karena Faktor Usia”

Banyaknya tudingan dari masyarakat mengenai alasan jatuhnya pesawat Hercules beberapa hari yang lalu di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara karena masalah usia pesawat yang terlalu tua, membuat TNI Angkatan Udara (AU) angkat bicara akan hal tersebut.

TNI membantah tegas kalau usia dari pesawat tersebut menjadi masalah utama pada tragedi tersebut. Pesawat yang jatuh pada hari Selasa 30 Juni 2015 tersebut sejatinya dibuat pada tahun 1964.

“Pesawat jatuh karena usia hampir tidak pernah terjadi. Usia tidak menjadi faktor,” ujar Pangkoops AU I Marsda Agus Dwi Putranto, Seperti yang dikutip pada Liputan 6, Kamis (2/7/2015).

Agus yang merupakan Mantan Komandan Pangkalan Udara Abdul Saleh Malang, Jawa Timur tersebut menambahkan kalau pesawat pada saat itu memang sudah siap untuk terbang, keyakinannya yang tinggi memiliki alasan karena memang pesawat telah menjalani berbagai proses perawatan rutin. Keyakinannya tersebut diperkuat dengan pengalaman terbang yang ia miliki di tahun 1998 – 2000, dimana ia sendiri pernah terbang menggunakan pesawat tersebut selama 9000 jam. Agus juga menambahkan kalau pesawat Hercules yang terjatuh kemarin selalu mendapatkan perawatan terbaik, bahkan lebih baik dari perawatan manusia. Hercules tersebut mendapatkan perawatan per 50 jam terbangnya, atau bisa dikatakan belum satu bulan sudah diservis kembali.

Selain itu Agus juga menegaskan kalau pemeriksaan pada pesawat tersebut selalu dilakukan secara rutin dan ketat sebelum pesawat lepas landas. Banyaknya dugaan yang muncul pada saat salah satu mesin tidak berfungsi dengan baik, dibantah bukan sebagai salah satu bentuk keluputan pada saat pemeriksaan.

“Mesin harus nyala semua empat-empatnya sebelum take off. Nah pentunjuk posisi propeler mesin yang paling kanan yang diduga mesin itu mati, makanya pilot minta return to base atau RBT,” tambah Agus.

Pewasat Hercules C-130 dengan nomor ekor A-1310 tersebut jatuh terbalik di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara sekitar pukul 11.48 WIB. Pesawat tersebut jatuh hanya berkisar 2 menit setelah lepas landas. Rencananya pesawat itu akan terbang ke Kepulauan Natuna untuk menjalankan misi Penerbangan Angkutan Udara Militer, untuk mengirimkan logistik.

Pesawat tersebut dipiloti oleh Kapten Sandy Permana. Selang dua menit setelah lepas landas, Sandy sempat menghubungi menara Air Traffic Control (ATC) untuk menginformasikan kalau pesawat mengalami kerusakan pada salah satu mesinnya. Pada saat itu juga, pilot juga memnita Return to Base ke Lanud Soewondo. Namun belum sempat ada balasan dari pihak menara, ATC sudah kehilangan kontak, kemudian pesawat jatuh di pemukiman warga. -bms-