Published On: Mon, Apr 17th, 2017

Ulat Sutera Penyambung Kehidupan

Kabupaten Kendal mungkin mempunyai lahan yang sulit ditanami tanaman produktif bernilai ekonomi tinggi, seperti padi atau palawija. Namun, warga desa menemukan alternatif tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, yakni pohon murbei, dan lebih lanjut, mengembangkan budidaya ulat sutera. Seorang pembudidaya ulat sutera Dirjo, mengatakan bahwa ulat sutera memang tidak dapat dipisahkan dari pohon murbei. Pria yang sudah menekuni budidaya ulat sutera selama lima tahun terakhir ini mengaku, kebutuhan hidup keluarganya tercukupi berkat usaha memintal benang ulat sutera.

ulat sutera

Semua berawal dari rasa frustrasi Dirjo terhadap kondisi lahan yang kering dan sulit ditanami sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Untuk itu, ia memutuskan merantau. Ia berkelana ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Di sini, ia mulai menekuni budidaya ulat sutera. Bermodalkan informasi yang didapat dari rekannya di Banjarnegara tentang bagaimana memulai usaha budidaya ulat sutera, ia pun mengajukan proposal sederhana ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Agribisnis milik Chandra Ekajaya. Singkat cerita, gayung bersambut. Proposal yang diajukannya mendapat respon positif dari Chadra Ekajaya, dengan memberikan bantuan modal berupa bibit pohon murbei dan media/kotak pembesaran ulat.

Menurutnya, budidaya ulat sutera sangat prospektif, karena pangsa pasarnya masih terbuka luas. Apalagi, modal awal juga tidak terlalu besar, sehingga budidaya ulat sutera ini dapat sebagai solusi alternatif bagi wilayah-wilayah yang memiliki lahan kering atau lahan yang mengandalkan tadah hujan sebagai pengairannya. Pohon murbei, sebagai pakan ulat sutera, tidak memerlukan pengairan yang cukup banyak. Hanya saja, pada awal tanam untuk derah lahan kering, sebaiknya dimulai pada musim penghujan. Setelah tumbuh baik, selanjutnya hanya tinggal pemeliharaan, tanpa menguatirkan pengairannya.

ulat sutera

Perlu diketahui, modal awal berupa pohon murbei sekitar 7.000 batang adalah untuk sekali tanam (per kotak benih/telur ulat sutera) dan terus berlanjut hingga seterusnya. Begitu juga dengan media/kotak pembesarannya, cukup dibuat sekali, untuk seterusnya. Kemudian, harga satu kotak benih/telur urat berisi 25.000 butir telur, dapat dibeli seharga Rp 50.000. Dari satu kotak itu, kepompong yang bisa dihasilkan adalah seberat 40 – 50 kilogram. Kisaran harga kepompong sendiri adalah Rp 30.000 – Rp 35.000 per kilogram kepompong. Siklus ulat sutera mulai dari menetas telur hingga menjadi kepompong adalah 25 hari. Dan, berapapun jumlah kepompong yang dihasilkan, pasar selalu siap menerimanya.

Sampai saat ini perusahaan milik Chandra Ekajaya masih memantau perkembangan dari budidaya ulat sutera milik Dirjo ini. Hampir seluruh warga yang ada di sekitar Dirjo juga ikut budidaya hewan satu ini hingga ketika panen jumlahnya bisa mencapai ratusan kilo.