Published On: Tue, Jan 19th, 2016

Utang Luar Negeri Indonesia Semakin Memuncak, Pemerintah Harus Waspada!

Utang Luar Negeri Indonesia hingga November 2015 kini tercatat menduduki angka US$304,6 miliar atau berkisar Rp4.234 triliun. Bank Indonesia (BI) mencatat angka tersebut mencapai kenaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Berdasarkan data yang ada pada tahunan atau year on year (YoY), posisi Utang Luar Negeri Indonesia per November 2015 tumbuh 3,2 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhannya di Oktober 2015 yang hanya mencapai 2,5 persen.

“Utang luar negeri terutama didorong oleh peningkatan pertumbuhan ULN berjangka panjang,” ujar Tirta Segara selaku Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara seperti Berita Benar kutip dari kantor berita Antara, Selasa (19 Januari 2016).

Seperti data yang telah tercatat di Bank Indonesia, Utang Luar Negeri (ULN) jangka panjang Indonesia tercatat tumbuh 6,1 persen (yoy), atau lebih tinggi dari pertumbuhan bulan Oktober 2015 yang sebesar 5,5 persen (yoy). Sedangkan, untuk ULN jangka pendek, besarannya tercatat mengalami penyusutan sebanyak 12,5 secara tahunan.

Namun, jika dilhat berdasarkan pada jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia masih didominasi ULN jangka panjang sebesar 86,6 persen, atau berkisar US$263,0 miliar yang terdiri dari ULN sektor publik sebanyak US$134,8 miliar dan ULN sektor swasta mencapai US$129,1 miliar. Namun, untuk ULN jangka pendek Indonesia pada periode yang sama tercatat berada di posisi US$40,7 miliar yang terdiri dari ULN sektor swasta sebesar US$37,7 miliar dan ULN sektor publik sebesar US$3 miliar.

Tirta menambahkan, perkembangan ULN di bulan November 2015 masih terbilang sehat dan normal, tapi kita harus tetap mewaspadai adanya risiko dan dampak negatifnya terhadap perekonomian domestik.

“Dengan memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta, dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi,” pungkas Tirta.