Published On: Tue, Feb 21st, 2017

Warga Desa Masih Terbiasa BABS

BERITABENAR-Buang air besar (BAB) merupakan aktivitas rutin yang dilakukan setiap manusia. Sisa makanan yang tidak dibutuhkan tubuh dikeluarkan dalam bentuk feses. Adanya jamban sebagai tempat pembuangan turut menjaga kebiasaan hidup sehat dan lingkungan bersih.

Namun, masih ada beberapa masyarakat yang masih melakukan akitivitas BAB sembarang (BABS). Terutama di wilayah pinggiran.

Siti, salah seorang warga Dusun Tlawah, Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, menuturkan, dia sudah terbiasa BAB di sungai. Menurutnya, butuh uang lebih untuk membangun jamban. “Sedangkan uang untuk kebutuhan sehari-hari saja masih kurang,” ujarnya kemarin (20/2).

Bahkan, jika malam hari merasa mulas, dia meminta salah satu anggota keluarganya untuk mengantarkan ke sungai. Sebab, ketika malam hari, situasi gelap. Kebiasaan ini sudah menjadi hal yang lumrah di daerahnya. ‘Biasanya yang bisa membangun jamban ya orang yang mampu,” ungkapnya.

Kepala Desa (Kades) Panjang Abdul Muhammad Sidig menjelaskan, sekitar 80 persen warganya sudah memiliki jamban. Sehingga, sudah mengurangi kebiasaan BABS. Menurutnya, sejak 2015, setiap tahun selalu ada 30 KKyang dibantu dengan membangun jamban. “Bantuan itu untuk warga yang kurang mampu. Sehingga, bisa menjadi pancingan kesadaran warga yangtergolong mampu untuk ikut membangun jamban. Dengan begitu, kesadaran warga untuk membangun jamban mulai tumbuh,” tuturnya.

Sementara itu, sekitar 60 persen KKdi Dusun Tlawah sudah memiliki jamban pribadi. Sedangkan di Dusun Malangbong sekitar 50 persen. Akses jalan yangsulitmembuat pihaknya sulit untuk mengirim bantuan ke dusun tersebut. Apalagi berada Dusun Malangbong berada di wilayah hutan, membuat warga yang mayoritas sebagai petani itu kurang sadar pentingnya jamban.

‘Biasanya, mereka memulai aktivitas di pagi hari dan kembali ke rumah pada malam hari,” jelasnya.

Humas Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Suharto menuturkan bahwa BABS merupakan kebiasaan yang bisa menimbulkan dampak sanitasi yang buruk. Selain itu, BABS juga bisa mengakibatkan infeksi saluran seperti diare, disentri, kolera, muntaber, thypus abdominalis, dan lainnya.

“Karena feses yang tersebar dimana-mana dan cenderung terbuka seperti di sungai, kebun, sawah dan lain-lain akan mengundang lalat dan tikus. Binatang tersebut menjadi vektor atau perantara penularan penyakit,” ujarnya.

Jika keadaan ini dibiarkan, lanjut dia, selain bisa membuat sanitasi menjadi buruk, juga bisa meningkatkan angka kesakitan penduduk. Masyarakat akan mudah sakit dan kehidupannya terganggu. Selain itu, juga bisa mencemari sanitasi dan air tanah. Hal itu bisa membuat lingkungan menjadi buruk dan tidak sehat.

Tambahnya, perlu peningkatan kesadaran masyarakat dalam melakukan aktivitas BAB, agar lingkungan sehat dan bersih bisa terwujud.

“Dinkes berupaya memberi pemahaman kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk BAB di jamban yang sehat. Untuk bisa BAB pada jamban yang sehat, setiap KK harus memiliki jamban,’ jelasnya.

Pada 2016 kepemilikan jamban sebesar 85,46 persen, sedangkan akses penduduk terhadap jamban sebesar 90,56 persen. Angka tersebut belum merata, dibuktikan dengan jumlah desa open defecation free (ODF) atau desa yang kondisi masyarakat di wilayahnya sudah tidak ada lagi yang BABS. Desa ODF di Bojonegoro saat ini adalah 219 desa atau sekitar 50,93 persen, (aul/haf)