Published On: Thu, Mar 2nd, 2017

Yang Muda Untuk Perubahan

BERITABENAR-Membaca fenomena demokrasi di bangsa kita yang akhir-akhir ini semua panggung politik sebagian besar di monopoli oleh generasi tua, bacaan ini tidak serta merta mengdeskredikan semangat para kaum tua, akan tetapi fakta yang membuktikan bahwa rasanya kurang lengkap ketika kita berbicara tentang perubahan tanpa melibatkan pemuda, karena para pemuda telah memiliki pandangan luas dan tidak apatis terhadap persoalan-persoalan kebangsaan terutama dalam bidang politik.

Dalam ruang politik, semua pelaku politik diperhadapkan dengan konflik of inters yang cukup tinggi tensinya. Oleh karena itu pelaku politik harus memiliki kemampuan atau wawasan yang matang dengan tingkat popularitas, elektabilitas, dan akse-bilitas yang kuat. Maka ruang politik yang sering di jastifikasi oleh sebagian orang sebagai ruang antabrata, hal ini hanya bisa dapat di reduksi oleh Kaum muda sebagai tonggak kemajuan di masa akan datang, kaum muda yang sering berpikir kritis terhadap persoalan-persoalan politik sebagai strong leader karena dinamika ketatanegaraan yang menentukan arah kemajuan negara tidak terlepas dari praktek-praktek politik.Pilkada langsung sebagai arena politik, memberikan ruang yang luas bagi pemuda untuk berpartisipasi. Pilkada langsung sebagai bentuk pengajawantahan sistem demokrasi langsung merupakan instrumen penting dalam melaksanakan kedaulatan rakyat di tingkat lokal, dimana rakyat di daerah diberikan hak politiknya untuk menentukan secara langsung pemimpinnya tanpa melalui perwakilan.

Masih kuat melekat rasanya dibenak eupo-ria pesta demokrasi di tingkat lokal secara serentak tahap kedua di Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2017 ini. Begitu banyak hal menarik yang dapat diamati sebagai bentuk pelajaran yang dapat dipetik guna penyempurnaan pelaksanaan demokrasi di tingkat lokal.Salah satu hal menarik yang banyak menyita perhatian warga kota kendari yaitu pilkada di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara dengan melahirkan anak muda yang inovatif sebagai representasi anak negeri (masukan nama adat daerah Sultra) oleh Adriatma Dwi Putra (ADP) sebagai walikota kendari terpilih dengan usia 27 tahun kita bisa membayangkan ini adalah kepemimpin yang dikatakan fenomenal dikarenakan usianya yang masih muda ketika mencalonkan diri sebagai kepala daerah, sejarah mencatat era anak muda telah membuka kesempatan bagi anak muda Indonesia untuk memimpin daerahnya masing-masing.

Dengan Belajar dari kemenangan pemimpin sebagai representasi dari kaum muda mematahkan petronase politik yang selama ini melekat pada masyarakat kita. Selama ini golongan muda dipandang sebelah mata, bahkan beberapa golongan menolak beberapa calon pemimpin hanya karena alasan usia mereka yang relatif muda karena dianggap masih minimnya kemampuan yang dilegitimasikan dengan dalil kurangnya pengalaman dalam pemerintahan.

Berbicara kaum muda dan demokrasi, sangat tidak adil ketika kema-pan dalam berpolitik usia dijadikan sebagai ukurannya. Usia bukanlah ukuran untuk menentukan kiprah, fungsi dan peran serta kedewasaan politik seseorang. Banyak pemuda yang memiliki kecakapan, kedewasaan dan kebijaksanaan politik yang melebihi golongan tua, padahal kalau kita lihat tidak sedikit pula golongan tua yang menunjukkan sikap politik yang kekanak-kanakan. Oleh karenanya, politik tidak hanya tentang ilmu, tetapi tentang seni untuk bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, tentang seni untuk mendapatkan, menjalankan dan mempertahankan kekuasaan. Sehingga dalam implementasinya dibutuhkan rasio, rasa, sensitifitas dan kehalusan jiwa untuk memainkannya dalam artian diperlukan kecerdasan intelegensi, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Inilah sesungguhnya esensi dari partisipasi politik.

Maka dengan keyakinan saya, pemikiran kuno seperti itu harus dihilangkan jika indikator pemimpin yang baik adalah dari banyaknya pengalaman maka golongan muda akan terdiskriminatif. Kaum muda memang minim pengalaman, tapi mereka menawarkan masa depan dengan gagasan yang lebih kritis dan inovatif. Maka kemimpinan pemimpin Adriatma Dwi Putra (ADP) sebagai representasi kaum muda dapat membuktikan bahwa kepemimpinannya harus lebih inovatif, dinamis, dan progresif dalam membangun Kota Kendari sebagai daerah yang membesarkanya. Harapan sebuah ihtiar pemimpin kota kendari yang notabene anak muda menjadi referensi bagi kota/kabupaten yang berada di Sulawesi Tenggara menyongsong SDG (Sustainable Development Goals).

(*)

Penulis adalah Pengurus PB HMI Periode 2013-2015