Beranda blog Halaman 2

Berkas Perkara Banding Soal Kapal MT Arman 114 Telah Dikirim ke Pengadilan Tinggi Kepri

BATAM – Pengadilan Negeri Batam telah mengirimkan berkas perkara banding Kejaksaan atas gugatan Ocean Mark Shipping Inc(OMS) terkait kapal MT Arman 114 dan muatannya Light Cruide Oil Sebanyak 166.975.36 Metrik Ton ke Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau(Kepri).

Kejaksaan sebagai pihak tergugat mengajukan banding terhadap putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam yang mengabulkan gugatan perdata Ocean Mark Shipping Inc(OMS) terkait kapal MT Arman 114 dan muatannya(cargo) Light Cruide Oil sebanyak 166.975.36 metrik ton.

Kapal MT Arman 114 dan muatannya Light Cruide Oil sebanyak 166.975.36 metrik ton merupakan barang rampasan negara setelah perkara pidana Nomor: 941/Pid.Sus/2023/PN Btm dengan terdakwa Mahmoud Mohamed Abdelaziz Mohamed Hatiba berkekuatan hukum tetap(inkrah).

OMS mengajukan gugatan setelah putusan Majelis Pengadilan Negeri Batam merampas Kapal MT Arman 114 dan muatannya(cargo) Light Cruide Oil sebanyak 166.975.36 metrik ton untuk negara telah berkekuatan hukum tetap(inkrah).

Juru Bicara Pengadilan Negeri Batam, Vabiannes Stuart Wattimena berkas perkara banding Kejaksaan tersebut telah dikirimkan ke Pengadilan Tinggi Kepri pada tanggal 4 Juli 2025 lalu.

“Pengiriman berkas banding tanggal 4 Juli 2025 dan sudah diregister di PT Kepri No.39/Pdt./2025/PT.TPG,”ujarnya kepada SwaraKepri, Group Media Beritabenar, Rabu 16 Juli 2025 pagi.

Sebelumnya Wattimene menegaskan bahwa perkara perdata tersebut masih dalam proses karena belum inkrah(berkekuatan hukum tetap).

“Harus kita pahami bahwa perkara ini masih dalam proses sepanjang belum inkrah atau berkekuatan hukum tetap. Artinya, pihak yang puas atau tidak puas atas putusan itu(PN Batam) diberikan hak oleh Undang-undang untuk menyatakan upaya hukum banding,”ujarnya kepada SwaraKepri di Media Center Pengadilan Negeri Batam, Senin 16 Juni 2025.

“Kita tunggu saja putusan bandingnya. Putusan banding nanti bisa menguatkan atau membatalkan putusan pada tingkat pertama. Pihak yang merasa tidak puas terhadap putusan tingkat Pengadilan Tinggi, masih bisa menyatakan upaya hukum lagi. Kita juga belum bisa berkomentar banyak karena perkara ini masih dalam proses,”lanjut Wattimena.

Ia menjelaskan bahwa Pengadilan Negeri Batam menerima permohonan pada tanggal 4 Juni 2025, sedangkan memori banding diterima tanggal 10 Juni.

“Setelah memori banding diterima, tanggal 11 Juni 2025, dikirim pemeberitahuan kepada Ocean Mark Shipping selaku penggugat. Mereka nantinya akan membuat kontra memori banding. Setelah sudah ada semua, selanjutnya dikirim ke Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau melalui system online.

Wattimena menjelaskan soal status Kapal MT Arman 114 dan muatannya(cargo) Light Cruide Oil sebanyak 166.975.36 metrik ton pasca putusan perdata yang mengabulkan gugatan Ocean Mark Shipping Inc(OMS).

“Tak bisa dilakukan apapun, walaupun ada putusan pidana dirampas untuk negara(inkrah) dan dalam proses lelang. Dengan putusan ini(perdata), pihak Kejaksaan selaku penegak hukum pasti menghormati putusan perdata. Kejaksaan sudah menyatakan upaya hukum banding, artinya mereka menghormati proses hukum,”tegasnya.

Kata dia, proses eksekusi terhadap barang bukti rampasan negara kapal MT Arman 114 dan muatannya(cargo) Light Cruide Oil sebanyak 166.975.36 metrik ton dalam perkara pidana Nomor: 941/Pid.Sus/2023/PN Btm yang saat ini sedang persiapan untuk lelang di Badan Pemulihan Aset Kejaksaan Agung akan tertunda.

“Barang bukti(MT Arman 114 dan muatannya) untuk perkara pidana dalam proses untuk lelang. Kejaksaan Agung sampai ke tingkat bawah adalah penegak hukum, sehingga dengan putusan perdata ini proses lelang akan tertunda karena sama-sama menghormati putusan perdata,”pungkasnya./RD

Whoosh Layani 460 Ribu Penumpang Selama Libur Sekolah, Tembus Rekor 26 Ribu dalam Sehari

JAKARTA – Momen libur sekolah tahun ini kembali mencatatkan lonjakan signifikan pada layanan Kereta Cepat Whoosh. Terhitung sejak 23 Juni hingga 13 Juli 2025, KCIC telah melayani total 460.190 penumpang, mencerminkan antusiasme tinggi masyarakat terhadap moda transportasi publik modern ini.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menyampaikan rata-rata Whoosh melayani sebanyak 21 s.d 25 ribu penumpang per hari di masa libur ini meningkat sekitar 20-25% jika dibandingkan hari biasa. Puncaknya terjadi pada 27 Juni 2025, sebanyak 26.770 penumpang menggunakan layanan Whoosh dalam satu hari yang juga menjadi rekor tertinggi penumpang harian Whoosh sejak pertama kali beroperasi.

“Banyak masyarakat yang memanfaatkan Whoosh untuk berlibur bersama keluarga agar lebih efisien dan menyenangkan. Whoosh juga menjadi pilihan karena menawarkan perjalanan yang cepat, nyaman, dan tepat waktu, sangat sesuai untuk mobilitas tinggi selama musim liburan,” ujar Eva.

Selama libur sekolah ini, Stasiun Halim menjadi stasiun tersibuk dengan total aktivitas penumpang naik-turun mencapai 271.615 orang. Disusul oleh Stasiun Padalarang dengan 205.140 penumpang, Stasiun Tegalluar Summarecon sebanyak 72.259 penumpang, dan Stasiun Karawang sebanyak 14.558 penumpang.

Peningkatan ini juga diperkuat oleh konektivitas antarmoda yang semakin baik, serta beragam promo yang ditawarkan KCIC, mulai dari diskon untuk rombongan hingga tarif khusus Frequent Whoosher Card, yang membuat pengalaman bepergian semakin hemat dan praktis.

Untuk mendukung mobilitas selama liburan, KCIC menghadirkan berbagai program promo menarik. Diskon hingga 50% tersedia untuk peserta program Edutrip, serta potongan 10–20% untuk pembelian rombongan reguler minimal 20 orang.

Berikut paragraf yang telah disusun ulang sesuai arahan, dengan urutan Edutrip lebih dahulu, lalu rombongan reguler dari berbagai kalangan, serta mencantumkan total penumpang masing-masing:

Sepanjang masa liburan, KCIC telah melayani sebanyak 415 siswa yang mengikuti Edutrip dari berbagai jenjang pendidikan. Selain itu, sebanyak 276 rombongan dari keluarga, komunitas, hingga berbagai instansi, juga turut memanfaatkan layanan Whoosh dengan total penumpang mencapai 12 ribu orang.

Tiket terjangkau juga tetap tersedia melalui skema dynamic pricing, dengan harga Premium Economy mulai dari Rp225.000, bergantung pada waktu pemesanan dan tingkat keterisian kereta. Penumpang juga dapat memanfaatkan tarif khusus Frequent Whoosher Card, yakni hanya Rp200.000 untuk relasi Jakarta–Bandung, lebih hemat hingga 43% dibanding harga normal.

Selama periode ini, masyarakat dapat melakukan pembelian tiket melalui berbagai kanal online seperti aplikasi Whoosh, website ticket.kcic.co.id, Access by KAI, Livin’ by Mandiri, BRImo, Wondr by BNI, Tiket.com, dan Traveloka. Tiket juga tersedia secara langsung di loket dan mesin TVM (Ticket Vending Machine) di seluruh stasiun.

KCIC juga memperkuat kolaborasi dengan 23 mitra usaha dari sektor kuliner, ritel, hingga destinasi wisata. Penumpang cukup menunjukkan tiket perjalanan Whoosh untuk memperoleh diskon dan promo menarik di merchant yang bekerja sama, termasuk tenant-tenant yang berada di area stasiun.

“Selama libur sekolah, Whoosh tak hanya jadi alat mobilitas, tapi juga bagian dari pengalaman liburan keluarga Indonesia. KCIC akan terus menjaga standar layanan terbaik dan mendorong integrasi antarmoda demi menciptakan perjalanan yang berkesan, aman, dan efisien,” tutup Eva.

Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi Customer Service di stasiun atau Contact Center KCIC melalui 150909, WhatsApp chat ke 0815-1032-0909, email ke cs@kcic.co.id, serta melalui DM dan reply Instagram @keretacepat_id./**

Pelindo Catat Arus Peti Kemas Ekspor Impor Semester 1 Tumbuh 13,64 Persen

SURABAYA – Jumlah arus peti kemas ekspor dan impor (internasional) yang melalui terminal di bawah pengelolaan PT Pelindo Terminal Petikemas periode semester 1 tahun 2025 meningkat sebesar 13,64 persen. Perseroan mencatat terdapat 2,1 juta TEUs peti kemas internasional pada semester 1 sementara pada periode yang sama di tahun 2024 lalu sebanyak 1,8 juta TEUs.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra menyebut jumlah peti kemas ekspor maupun impor sama-sama mengalami pertumbuhan. Sepanjang semester 1 jumlah peti kemas impor sebanyak 998 ribu TEUs dan peti kemas ekspor tercatat sebanyak 1,01 juta TEUs.

“Arus peti kemas dalam negeri juga mengalami pertumbuhan namun tidak sebesar pertumbuhan internasional. Hingga semester 1 tahun 2025 peti kemas domestik tercatat sebanyak 4,2 juta TEUs atau tumbuh sekitar 4,86 persen dari tahun lalu yang sebesar 4 juta TEUs,” jelas Widyaswendra, Selasa 15 Juli 2025.

Widyaswendra mengungkapkan pertumbuhan peti kemas internasional di luar prediksi perusahaan mengingat dinamika global saat ini yang penuh ketidakpastian. Selain peti kemas bermuatan, reposisi peti kemas kosong (empty) ke sejumlah negara juga mempengaruhi peningkatan arus tersebut. Beberapa terminal yang melayani peti kemas internasional mencatatkan pertumbuhan yang cukup signifikan.

TPK Semarang misalnya mengalami pertumbuhan 17,7 persen dari 353 ribu TEUs pada semester 1 tahun 2024 menjadi 415 ribu TEUs pada semester 1 tahun 2025. Selanjutnya ada IPC TPK yang mencatatkan pertumbuhan 43,26 persen dari 307 ribu TEUs menjadi 440 ribu TEUs.

“Secara keseluruhan arus peti kemas (internasional dan domestik-red) di lingkungan PT Pelindo Terminal Petikemas sebanyak 6,3 juta TEUs, tumbuh 7,61 persen jika dibandingkan semester 1 tahun lalu,” lanjut Widyaswendra.

Picu Rute Pelayaran Baru

Pertumbuhan arus peti kemas ini sejalan dengan aktivitas sektor pelayaran internasional yang kembali menggeliat, terutama di jalur-jalur strategis seperti Indonesia–China.

Meski pertumbuhan arus peti kemas tidak merata di semua rute perdagangan, namun secara umum menunjukkan peningkatan yang konsisten. Salah satunya dirasakan oleh Ocean Express Network (ONE), perusahaan pelayaran asal Jepang yang melayani beberapa pelabuhan expor impor di Indonesia.

“Pada paruh pertama tahun ini (2025), pertumbuhan kami berkisar antara 3 hingga 5 persen,” ujar Presiden Direktur ONE Indonesia, Keishin Watanabe. Ia yakin untuk sejumlah rute tertentu, angka pertumbuhannya bahkan lebih tinggi. Salah satunya adalah jalur pelayaran antara Indonesia dan China yang menurutnya mencatat lonjakan signifikan.

“Saya menduga pertumbuhan tertinggi terjadi pada rute Indonesia–China. Ini tidak lepas dari peningkatan arus perdagangan antara kedua negara, terutama pasca munculnya kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump. Hal itu mendorong banyak perusahaan mengalihkan rantai pasok mereka ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” kata Watanabe.

Optimisme serupa juga dirasakan oleh Pacific International Lines (PIL), perusahaan pelayaran asal Singapura. Dengan meningkatnya arus perdaganagan, khususnya antara Indonesia dan China, PIL membuka direct service yakni North China Indonesia (NCI). Rute baru ini menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama di China dengan Indonesia, dengan pelayaran perdana yang berlangsung pada awal bulan ini.

Layanan NCI melibatkan dua terminal besar di Indonesia, yakni TPK Koja di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS) di Tanjung Perak (Surabaya). Dengan layanan ini, arus logistik antarnegara diharapkan dapat berlangsung lebih efisien tanpa harus melewati pelabuhan transit di negara ketiga.

“Volume perdagangan antara Indonesia dan China saat ini sangat bagus. Itu menjadi alasan utama kami kembali membuka layanan langsung ini,” kata Presiden Direktur PIL Indonesia Sujeeva Salwatura.

Menurut Sujeeva, dalam lima tahun terakhir PIL sempat menghentikan pelayanannya ke Indonesia. Namun, situasi pasar yang kini membaik menjadi momentum yang tepat untuk kembali masuk. “Kami melihat ada pertumbuhan yang sangat bagus, baik dari sisi ekspor maupun impor,” ujarnya.

Perdagangan Intra Asia Semakin Dominan

Sejalan dengan pelabuhan dan pelayaran, sektor logistik juga mencatat pertumbuhan yang cukup menggembirakan sepanjang paruh pertama 2025. Kinerja sejumlah perusahaan logistik dan forwarder domestik memperlihatkan tren positif, mencerminkan geliat perdagangan internasional dan meningkatnya kebutuhan distribusi dalam negeri.

Salah satu indikatornya terlihat dari kinerja Gateway Container Line (GCL), perusahaan nasional yang dikenal sebagai pemain terbesar dalam layanan konsolidator Less than Container Load (LCL) di Indonesia.

Direktur Utama Gateway Container Line, Hesty Rosmawati, mengatakan perusahaannya mengalami pertumbuhan yang stabil di berbagai lini layanan, baik untuk ekspor maupun impor. “Pertumbuhan tertinggi masih berasal dari China, baik untuk layanan LCL maupun FCL (Full Container Load) impor,” ujar Hesty.

Layanan LCL impor, misalnya, jelas Hesty, tumbuh 8,94 persen, dengan kontribusi volume terbesar berasal dari China. Sementara layanan FCL impor meningkat 5,65 persen, juga ditopang oleh pasar China.

Sementara untuk LCL ekspor tercatat tumbuh 9,2 persen, dengan tujuan terbesar ke Jebel Ali, Uni Emirat Arab, meski pertumbuhan tertinggi justru tercatat pada rute ke Vietnam. FCL ekspor mengalami lonjakan signifikan sebesar 23,4 persen, terutama ke kawasan ASEAN dan Jebel Ali.

Tak hanya perusahaan, secara makro sektor logistik juga menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Data dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) serta Supply Chain Indonesia (SCI) mencatat bahwa sektor transportasi dan pergudangan, yang menjadi tulang punggung logistic, menyumbang 6,08 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada semester pertama tahun ini.

Pertumbuhan sektor ini tercatat sebesar 9,01 persen (year-on-year), menjadikannya salah satu sektor dengan laju pertumbuhan tercepat. Supply Chain Indonesia (SCI) memperkirakan sepanjang tahun 2025 sektor ini akan tumbuh 8,56 persen dengan nilai kontribusi sekitar Rp1.517 triliun atau setara 6,49 persen dari total PDB.

CEO SCI, Setijadi, menjelaskan bahwa pertumbuhan logistik tahun ini turut didorong oleh pergerakan sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, serta industri pengolahan, terutama makanan dan minuman. “Sektor perdagangan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap lonjakan aktivitas logistik,” ujar Setijadi.**

Perjalanan LRT Jabodebek Ditambah, KAI Pastikan Perawatan Sarana Tetap Optimal

0

KAI melaksanakan perawatan sarana LRT Jabodebek secara rutin dan terjadwal untuk menjaga keselamatan dan keandalan operasional, terutama dengan peningkatan jumlah perjalanan harian.

BEKASI – Sebagai bentuk komitmen dalam menjaga keselamatan dan keandalan operasional, KAI terus melaksanakan perawatan sarana LRT Jabodebek secara rutin dan terjadwal. Komitmen ini tetap menjadi prioritas, seiring dengan peningkatan jumlah perjalanan harian LRT Jabodebek pada hari kerja yang mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2025, dari semula 366 perjalanan menjadi 398 perjalanan per hari.

Seluruh rangkaian LRT Jabodebek menjalani siklus perawatan berkala yang meliputi perawatan harian dan bulanan. Perawatan harian dilakukan setiap hari sebelum kereta dioperasikan. Pemeriksaan ini mencakup pengecekan fungsi sistem pengereman, traksi, HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning), kelistrikan, PIS (Public Information System) termasuk interkom, layar informasi penumpang, serta aspek keselamatan dan pelayanan lainnya untuk memastikan setiap rangkaian siap melayani pengguna secara aman dan nyaman.

Sementara itu, perawatan bulanan difokuskan pada pemeriksaan menyeluruh terhadap bagian eksterior dan interior kereta, termasuk bogie (roda dan sistem suspensi), sistem propulsi, serta komponen elektrik dan mekanik lainnya. Seluruh proses dilakukan oleh teknisi bersertifikasi di Depo LRT Jabodebek.

“Penambahan frekuensi perjalanan tentunya membutuhkan manajemen operasional yang lebih adaptif, namun hal ini tidak mengurangi komitmen kami untuk terus menjaga kondisi sarana dalam keadaan prima. Perawatan tetap dilakukan secara berkala sesuai standar yang telah ditetapkan,” ujar Executive Vice President LRT Jabodebek, Mochamad Purnomosidi.

Seluruh kegiatan perawatan dijalankan mengacu pada Sistem Prosedur Pemeriksaan Perawatan Sarana (SISPRO) yang ditetapkan oleh KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Untuk menunjang pemantauan kondisi kereta secara real-time, tim teknisi juga menggunakan aplikasi Integrated Maintenance and Asset Management (IMAM) yang mencatat riwayat perawatan dan membantu deteksi dini terhadap potensi gangguan teknis.

Perjalanan LRT Jabodebek Ditambah, KAI Pastikan Perawatan Sarana Tetap Optimal

Depo LRT Jabodebek juga dilengkapi dengan fasilitas modern seperti Underfloor Lifting System (ULS) yang memungkinkan pengangkatan seluruh rangkaian kereta secara bersamaan, serta sistem pencucian bogie yang ramah lingkungan.

Dengan penyesuaian jadwal perawatan dan pemanfaatan teknologi terkini, KAI memastikan operasional yang tetap andal dan siap memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat di Jabodetabek.

Sejak diberlakukannya penambahan jumlah perjalanan pada 1 Juli 2025, KAI telah melayani sebanyak 1.167.382 pengguna dalam periode 1–13 Juli 2025. Capaian ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan LRT Jabodebek yang terus mengedepankan keselamatan, kenyamanan, dan keandalan.**

Menko AHY Tinjau Proses Perawatan dan Progres Handover SDM Whoosh di Dipo Tegalluar

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), melakukan kunjungan kerja ke Depo Tegalluar pada Jumat, 11 Juli 2025.

Dalam kunjungan ini, Menko AHY didampingi jajaran KCIC meninjau langsung fasilitas operasional dan pemeliharaan kereta cepat Whoosh, termasuk proses alih pengetahuan (transfer knwoledge) dari tenaga profesional Tiongkok ke personil Indonesia.

Dalam kunjungannya, Menko AHY meninjau langsung tiga fasilitas utama yang menjadi tulang punggung operasional dan pemeliharaan kereta cepat Whoosh. Pertama, Joint Workshop, yaitu ruang perawatan sarana yang digunakan untuk pemeriksaan berkala kereta Whoosh mulai dari pengecekan atap hingga rangka bawah.

Kedua, Operation Control Center (OCC) yang berfungsi sebagai pusat kendali perjalanan dan pemantauan Whoosh secara real-time untuk menjamin keselamatan dan ketepatan jadwal. Ketiga, Ruang Simulator EMU Driver, yaitu tempat pelatihan masinis yang identik dengan kabin kereta asli untuk pelatihan praktis dan sertifikasi dari Kementerian Perhubungan.

Menko AHY mengatakan bahwa kelancaran dan keselamatan operasional Whoosh selama ini tidak terlepas dari dukungan depo yang mengakomodasi berbagai fasilitas penting, mulai dari perawatan sarana hingga kendali operasional. Menurutnya, seluruh proses pengelolaan dan perawatan dilakukan secara profesional dengan keselamatan sebagai prioritas utama.

“Setiap 2 hari sekali train set itu masuk ke joint workshop tadi untuk dicek baik bagian bawah, tengah, badannya maupun atasnya. Di sana ada para teknisi yang secara profesional melakukan pemeriksaan dengan baik. Saya juga melihat langsung pusat komando yang bisa dikatakan otak dan jantung dari operasi KCIC, lengkap dengan teknologi dan personel yang mampu mengambil keputusan secara cepat,” ujar AHY.

Menko AHY menekankan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama dalam operasional Whoosh. Ia menyampaikan bahwa gangguan eksternal seperti layang-layang dapat membahayakan perjalanan kereta cepat dan harus dicegah melalui edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat agar tidak bermain terlalu dekat dengan jalur Whoosh.

“Sekali lagi kita utamakan faktor keselamatan dan juga tentunya kenyamanan. Saya menghimbau agar masyarakat bisa benar-benar menjaga jarak aman untuk bisa bermain layang-layang karena jangan sampai mengganggu operasional dari KCIC dan mengganggu mobilitas masyarakat,” ujar AHY.

Menko AHY juga secara khusus meninjau proses handover personil dari tenaga profesional asal Tiongkok kepada SDM Indonesia.

Proses ini merupakan bagian penting dari alih pengetahuan dan kemandirian operasional kereta cepat Whoosh. Hingga saat ini, sebanyak 131 personil telah menyelesaikan handover dan mulai bertugas secara mandiri, dengan cakupan pekerjaan seperti EMU Driver, On Call Emergency Response, Controller, On-Board Machinist, serta Site Signaling Maintenance.

Sementara itu, sebanyak 449 personil lainnya masih dalam proses training dan sertifikasi, dan ditargetkan rampung secara bertahap pada bulan Juli hingga Agustus 2025.

“Teman-teman dari Tiongkok juga terus melakukan transfer of knowledge, melatih agar pada saatnya benar-benar 100% ini bisa diawaki oleh personil Indonesia. Butuh waktu, butuh proses, tapi tadi saya dengar sumber daya manusia kita juga bagus, menunjukkan dedikasi, belajar cepat, dan bisa diandalkan,” ujar AHY.

General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi dukungan penting bagi akselerasi pengembangan SDM dan sistem operasional Whoosh.

Proses handover ini merupakan bagian dari strategi besar transfer knowledge antara tenaga ahli Tiongkok dan SDM Indonesia dalam pengoperasian kereta cepat berteknologi tinggi.

Keberhasilan personil Indonesia dalam mengambil alih sejumlah fungsi operasional dan teknis secara mandiri menjadi bukti bahwa peningkatan kapasitas SDM nasional berjalan efektif. Hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkan sistem transportasi modern secara berkelanjutan.

“Kami sangat mengapresiasi perhatian Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan terhadap proses perawatan dan handover yang sedang berlangsung. Ini menjadi bukti bahwa kesiapan infrastruktur dan SDM nasional yang kompeten harus berjalan seiring demi menjaga standar keselamatan operasional Whoosh,” tutup Eva.

Depo Tegalluar berlokasi sekitar 3 km dari Stasiun Tegalluar Summarecon, dengan luas area mencapai 556.847 m².

Terdapat 14 bangunan penting di dalamnya, mencakup Joint Workshop untuk perawatan sarana, Operation Control Center (OCC), ruang pelatihan masinis, area stabling, hingga dormitory bagi personil teknis. Seluruh infrastruktur ini dirancang untuk mendukung kelancaran, keselamatan, dan keberlanjutan operasional Whoosh.

Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi Customer Service di stasiun atau Contact Center KCIC melalui 150909, WhatsApp chat ke 0815-1032-0909, email ke cs@kcic.co.id, serta melalui DM dan reply Instagram @keretacepat_id.**

Jurnalistik dalam Perspektif Keilmuan dan Tantangan Sertifikasi Wartawan

0

Oleh: Sholihul Abidin, S.Sos.I. M.I.Kom (Dosen Jurnalistik)

Di era banjirnya informasi saat ini, peran wartawan menjadi semakin krusial. Wartawan bukan sekedar pembawa kabar melainkan menjadi penentu arah diskursus publik dan bahkan sebagai penjaga akal sehat kolektif. Dalam konteks ini, pertanyaan penting yang muncul yaitu apakah memiliki sertifikat uji kompetensi cukup untuk menjadikan seseorang sebagai jurnalis profesional?

Beberapa tahun terakhir, Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menjadi standar formal yang digunakan untuk mengukur kelayakan seorang wartawan. Sertifikat hasil UKW dianggap sebagai bukti bahwa jurnalis tersebut memenuhi syarat bekerja secara profesional.

Namun, jika kita menengok ke akar keilmuan jurnalistik dan realitas lapangan, maka penting untuk menilai ulang apakah sertifikasi bisa berdiri sendiri sebagai penanda kompetensi dan integritas?

Jurnalistik sebagai Ilmu dan Praktik

Jurnalistik bukan hanya kegiatan teknis mengumpulkan informasi lalu menuliskannya menjadi berita. Ia adalah bagian dari ilmu komunikasi yang menuntut kemampuan berpikir kritis, memahami konteks sosial, menafsirkan peristiwa, dan menyajikan fakta secara etis dan akurat. Dengan kata lain, jurnalistik adalah profesi yang berbasis ilmu, bukan sekadar keahlian praktis.

Dalam perspektif akademik, jurnalisme memiliki metodologi kerja, etika profesi, serta logika penulisan yang terstruktur. Seorang jurnalis yang baik tidak cukup hanya bisa menulis cepat, tetapi juga harus mampu menilai kredibilitas sumber, mengenali bias narasi, serta menjaga keberimbangan dalam menyusun berita. Profesi ini menuntut kombinasi dari wawasan, intuisi sosial, dan keberanian moral.

Sertifikasi Penting, Tapi Bukan Segalanya

UKW hadir sebagai upaya menjaga kualitas dan profesionalisme jurnalis. Tujuannya mulia. Menghindarkan dunia pers dari disinformasi, wartawan abal-abal, atau mereka yang menyalahgunakan identitas pers untuk kepentingan pribadi. Dengan UKW, diharapkan lahir standar yang seragam dalam menjalankan fungsi jurnalistik.

Namun akan menjadi keliru jika kita memposisikan sertifikasi sebagai satu-satunya alat ukur. Kompetensi jurnalis tidak bisa diringkas dalam satu kali uji tulis dan wawancara. Ada banyak wartawan di lapangan terutama di daerah yang belum memiliki sertifikasi, tapi secara praktik mampu bekerja dengan etis, profesional, dan berani menyuarakan kebenaran di tengah tekanan. Maka penting bagi kita untuk tidak serta-merta memarginalkan wartawan non-sertifikasi yang memunculkan narasi seolah-olah mereka tidak kompeten.

Sebaliknya, kita juga melihat tidak sedikit wartawan bersertifikasi yang kemudian terjebak dalam konflik kepentingan, tunduk pada tekanan kekuasaan, atau memproduksi berita tanpa verifikasi yang memadai. Artinya, sertifikat bukan jaminan mutlak atas kualitas atau integritas kerja jurnalistik.

Jebakan Sertifikatisme dalam Dunia Pers

Jika tidak disikapi bijak, semangat sertifikasi bisa berubah menjadi “sertifikatisme” yaitu kecenderungan menilai seseorang hanya dari status formal yang ia miliki namun bukan dari integritas, pengalaman, atau dedikasinya. Ini bisa menimbulkan stratifikasi sosial dalam redaksi atau komunitas pers—antara yang sudah UKW dan yang belum—padahal keduanya bisa sama-sama berkompeten.

Sertifikatisme juga berpotensi menutup ruang belajar alami dalam jurnalisme. Banyak wartawan senior yang belajar melalui kerja lapangan, mentoring rekan sejawat, dan pengalaman panjang, justru merasa direndahkan ketika tidak memiliki sertifikat. Sementara wartawan muda yang baru lulus uji, bisa merasa sudah “sah” menjalankan profesi

Sertifikasi yang Inklusif dan Berorientasi Pembelajaran

Idealnya, UKW tidak menjadi alat pembatas, tetapi menjadi pintu pembelajaran. Sertifikasi seharusnya dirancang untuk membangun ekosistem jurnalisme yang lebih sehat, bukan sebagai ajang seleksi formalitas. Oleh karena itu, pendekatan yang inklusif dan mendidik sangatlah penting.

Negara, Dewan Pers, dan lembaga penyelenggara UKW memiliki tanggung jawab untuk memastikan akses pelatihan yang merata, termasuk untuk wartawan di daerah. Kemudian menyediakan program persiapan yang tidak mahal dan tidak eksklusif. Serta mengembangkan materi uji yang sesuai dengan tantangan jurnalistik masa kini, termasuk isu digitalisasi, disinformasi, dan tekanan terhadap kebebasan pers.

Redaksi juga harus menumbuhkan budaya belajar berkelanjutan. Diskusi etika redaksi, pelatihan internal, dan praktik evaluasi bersama seharusnya menjadi bagian dari keseharian, bukan sekedar mengandalkan pelatihan eksternal bersertifikat.

Ujian yang Sesungguhnya Adalah Ujian Nurani

Ujian terberat bagi wartawan bukanlah UKW, melainkan ujian Nurani. Ketika dihadapkan pada dilema antara menyuarakan kebenaran atau menyenangkan atasan. Antara melindungi narasumber atau memenuhi tekanan sponsor. Antara menjaga idealisme atau tunduk pada tren industri. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kompetensi teknis, tetapi integritas pribadi.

Media kita saat ini tidak hanya membutuhkan wartawan yang tersertifikasi tapi juga wartawan yang punya sikap. Wartawan yang berani berkata “tidak” pada amplop, tetap bersuara untuk kelompok marginal, dan menjaga independensinya meski tak populer. Karena pada akhirnya, keberanian dan kejujuran adalah inti dari jurnalisme.

Profesionalisme Itu Butuh Proses

Sertifikasi adalah langkah penting, tapi bukan akhir dari segalanya. Dunia jurnalisme yang sehat dibangun oleh wartawan yang terus belajar, terus bertumbuh, dan terus menjaga nuraninya di tengah tantangan zaman. Tidak ada jurnalis yang sempurna, tetapi setiap jurnalis bisa menjadi lebih baik jika ruang belajarnya tidak dipersempit oleh batas administratif.

Mendorong UKW sebagai standar kompetensi adalah langkah maju, asalkan dilakukan secara adil, terbuka, dan tidak menyingkirkan mereka yang belum mengikutinya. Karena yang kita butuhkan bukan hanya jurnalis yang “lulus ujian” atau kompeten secara administrative. Tapi yang lulus dari uji kejujuran, keberanian, dan komitmen terhadap kebenaran. Yaitu berani secara moral, cakap secara intelektual, dan jujur secara etik.

Karena dalam dunia yang penuh kebisingan ini, satu-satunya alat kendali yang bisa diandalkan tetaplah nalar, etika, dan keberanian berkata benar.**

Festival Musik Elektronik Berkonsep Bioluminescence Pertama di Asia Tenggara, BRAVE 2025 Umumkan Line Up Phase Pertama

Mulai dari Whisnu Santika, Jade Rasif hingga Winky Wiryawan siap meriahkan pesta music elektronik di pulau Bintan

BINTAN – Sebagai pulau dengan keindahan alam yang eksotis, Lagoi, Bintan layak disebut surga dunia karena hamparan pantai pasir putih, kilauan air laut jernih, hingga deretan resor mewah dengan fasilitas berstandar internasional.

Potensi inilah yang melatarbelakangi lahirnya festival musik elektronik terbaru bertema “Bioluminescence Beach Party” pertama di Asia Tenggara. BRAVE 2025 (Bintan Rhythmic Adventure) merupakan Festival musik edm persembahan dari BRC (Bintan Resort Cakrawala) dan OHP (One Hundred Percent Production) yang akan hadir pertama kalinya menemani Bravesouls untuk menyelami lautan cahaya dalam ritme musik menghentak dari sore hingga dini hari.

BRAVE 2025 merupakan awal dari era baru hiburan tropis tematik di Indonesia yang siap membawa pengunjung merasakan transformasi Bintan sebagai surga resor dan pusat festival musik dunia tak terlupakan. Sebagai line-up phase 1 akan diisi oleh Whisnu Santika, Jade Rasif, Freya, Peter Lucky, Remy Irwan hingga Winky Wiryawan, yang akan mengajak partygoers berpesta bermandikan permainan cahaya neon dan pertunjukan musik elektronik yang atraktif di Bintan Resorts, 18 Oktober 2025 mendatang. Bukan hanya itu, sejumlah deretan DJ internasional lainnya juga akan turut meramaikan Festival Musik BRAVE 2025 yang segera diumumkan.

Selain penampilan lineup DJ, BRAVE akan menghadirkan area Fairground yang interaktif dan estetik. Pengunjung dapat menikmati Glow Station, photo booth, merchandise stalls, dan vanity lounge.

Zona F&B juga akan menyajikan pilihan barbeque, tropical drinks, dan signature cocktails eksklusif untuk
menemani suasana pesta.

Bagi pecinta musik EDM dapat membeli tiket melalui situs www.bravebintan.com dengan tiga pilihan tiket yang dibanderol mulai dari yang Rp 500.000 untuk paket Adventurer (early entry), Rhythmic Seeker
(General Admission) Rp 800.000, dan Brave Spirit (Express Priority Pass) Rp 1.000.000* (harga belum termasuk pajak hiburan dan biaya administrasi lainnya).**

Pulau Semakau Terancam Hilang dari Peta Akibat Reklamasi

BATAM – Banyaknya aktivitas Reklamasi membuat beberapa Pulau di Indonesia terancam hilang dari Peta di perairan Indonesia. Diantaranya aadalah Pulau Semakau kecil dan Semaku Besar yang terletak di Perairan Batam Centre Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, Kota Batam.

Pulau Semakau Kecil dan Semakau Besar, salah satu titik yang terancam hilang akibat Pembangunan dan Proyek Reklamasi yang masif dari tahun ke tahun.

Keberadaan pulau ini dihimpit oleh gencarnya perusahan dan pengembang yang berlomba-lomba membangun Kawasan komersil dan Pemukiman elit dengan melakukan aktivitas penimbunan laut. Dulu masih di bibir pantai dan saat ini mencapai tengah laut.

Pantauan SwaraKepri, group media BeritaBenar di lapangan, terlihat tanah timbunan yang di angkut oleh Dump Truck tepat berada dialur sungai antara Pulau Semakau Kecil dan Besar. Penimbunan Tanah telah menyebar di tengah-tengah Laut,dan hampir menyatukan kedua Pulau ini yang dulunya adalah wilayah tangkap Nelayan dari berbagai Kelompok Nelayanm diantaranya Kecamatan Batam Kota, Bengkong dan Nongsa.

Semakau Kecil dan Besar bukan tanpa alasan terancam hilang, karena dengan menyusutnya wilayah perairan dikawasan ini didukung dengan aktifitas reklamsi yang berlanjut dari tahun ke tahun, serta semakin mengecilnya wilayah tangkap nelayan.

Secara Geografis, Indonesia memiliki nama Pulau yang sama dengan Negara Singapura yaitu Pulau Semakau. Namun Letak perbedan Semakau di Singapura semakin Eksis sebagai Pulau buatannya, sementara Pulau Semakau Kecil dan Besar di Indonesia terancam hilang dari Peta Indonesia.

Pulau Semakau Kecil dan Semakau Besar juga merupakan Hutan Lindung yang tercantum dalam Peta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK) termasuk beberapa titik lain yang ada di Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota.

Hendrik Hermawan, Aktivis Lingkungan Sekaligus Pendiri Non Government Organitation (NGO) Akar Bhumi Indonesia mengungkapkan bahwa kerusakan Lingkungan yang terjadi di Kawasan Batam Kota sangat memprihatinkan, dan dampak yang ditimbulkan sangat merugikan bagi Masyarakat Nelayan dan juga punya indikasi terancamnya hutan lindung dari yang akan hilang dari Pata (KLHK).

“Hutan bakau di Kawasan Pulau Semakau Kecil dan Semakau Besar masuk dalam Peta Hutan Lindung. Dengan adanya reklamasi ini akan mengganggu eksitensi Nelayan dan bepotensi merusak Hutan Bakau,”ujarnya.

“Banyak sekali dampak yang ditimbulkan. Kekhawatiran kita juga ada indikasi Pulau Semakau Besar dan Semakau Kecil terancam hilang. Ada dugaan status hutan lindung akan di putihkan dengan upaya penimbunan dan reklamasi,”lanjut Hendrik.

Keterangan Masyarakat Setempat

Menurut salah satu Tokoh Masyarakat Nelayan Belian, Bolia mengungkapkan bahwa reklamasi yang berlangsung selama ini tidak berpihak kepada masyarakat Nelayan yang ada. Warisan yang ssudah turun termuun, seperti nama tempat dan hasil Laut, perlahan hilang dan tergantikan.

Dikatakan bahwa wilayah Perairan Pulau Semakau Kecil dan Semakau Besar dulunya adalah tempat masyarakat Nelayan memasang jaring ikan, jaring empang dan bubu kepiting serta pasang kelong untuk mencari ikan dan hasil laut.

Saat ini aktivitas nelayan semakin terbatas dalam melakukan aktivitas melaut. Ruang tangkap semankin sempit dan hasil laut semakin berkurang, sehingga eksistensi nelayan semakin terancam dengan proyek reklamsi yang terus menerus terjadi dan berkelanjutan.

“Berapa banyak nama tempat yang hilang akibat pembangunan, kemudian diganti dengan nama-nama baru dengan kegunaan Komersil yang baru. Kita masyarakat nelayan hanya jadi penonoton, dan tidak bisa berbuat apa-apa,”ujarnya.

Kekhawatiran Masyarakat Nelayan

Reklamasi yang berkelanjutan sangat berdampak terhadap masyarakat nelayan yang tinggal di pesisir pantai. Mereka kehilangan mata pecaharian bahkan kehilangan tempat tinggal di wilayah pesisir.

Ada bebrapa Kelompok masyrakat pesisir di yang tinggal di perairan Batam Centre, diantaranya di pesisir Kampung Belian, Kampung Dapur Arang, Kampung Kelembak dan beberapa titik lokasi lainya.

Sawal, salah satu nelayan Kampung Belian berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap masyarakat pesisir di Belian.

Ia berharap tempat yang dia tinggali sekarang tidak lagi diganggu dengan alasan pembangunan oleh pemerintah dan pengembang.

“Kampung Nelayan seharusnya tidak boleh hilang dan diakui oleh Pemerintah,’tegasnya./TG

Analisa Pakar Hukum Pidana Unrika Batam Soal Survei Citra KPK Lebih Tinggi dari Kejaksaan

0

BATAM – Rilis Survei Litbang Kompas yang menyatakan citra KPK lebih tinggi dari citra Kejaksaan diragukan banyak pihak. Beberapa pakar hukum menyoroti Survei Litbang Kompas soal citra baik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang naik signifikan dari 60,9 persen pada September 2024 menjadi 72,6 persen di Januari 2025, sedangkan Kejaksaan citra hanya mencapai 70 persen.

Salah satunya Pakar Hukum Pidana Universitas Riau Kepulauan Batam Dr Alwan Hadiyanto SH MH selaku akademisi dan Kepala Prodi Magister Hukum UNRIKA BATAM menyoroti dan menganalisa hasil Survei Litbang Kompas tersebut.

“Saya mencoba untuk menganalisa kinerja Kejaksaan dan rekam jejak KPK dalam dua tahun terakhir serta polemik munculnya hasil survei yang berbeda dan cukup signifikan” ungkap Dr Alwan.
Menurutnya peningkatan dan keberhasilan kinerja Kejaksaan dalam dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan, khususnya dalam pengungkapan tindak pidana korupsi dan penyelamatan keuangan negara. Berikut adalah beberapa indikator keberhasilan kinerja Kejaksaan:

  1. Penyelamatan Keuangan Negara
    Kejaksaan Agung berhasil mengembalikan dan menyelamatkan keuangan negara dalam jumlah yang besar melalui pengungkapan kasus-kasus korupsi besar. Hal ini membuktikan pendekatan yang tidak hanya fokus pada hukuman pidana, tetapi juga pada pemulihan aset dan pengembalian kerugian negara.

Contohnya:

a.Penanganan kasus korupsi tata niaga timah periode 2015-2022 yang melibatkan lima korporasi.

b.Penyelamatan keuangan negara yang mencapai triliunan rupiah dari sejumlah kasus besar.

  1. Pengungkapan Kasus Besar.
    Kejaksaan Agung berhasil menangani beberapa kasus besar yang memiliki dampak signifikan pada kepercayaan publik. Di antaranya:

a. Kasus suap yang melibatkan mantan pejabat Mahkamah Agung, Zarof Ricar. Penangkapan ini mengungkap praktik suap dalam pengurusan vonis di Pengadilan Negeri Surabaya.

b. Penanganan kasus korupsi di sektor sumber daya alam dan perdagangan seperti kasus timah.

c. Progresif dalam menangkap aktor-aktor kunci dalam tindak pidana korupsi.

d. Kemudian yang cukup fenomenal kasus dugaan suap yang melibatkan tiga hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, yaitu Erintuah Damanik, Mangapul, dan Heru Hanindyo, saat ini ditangani oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Ketiga hakim tersebut diduga menerima suap untuk memberikan vonis bebas kepada Gregorius Ronald Tannur dalam kasus pembunuhan terhadap Dini Sera Afriyanti.

Selain ketiga hakim tersebut, Kejagung juga menetapkan seorang pengacara bernama Lisa Rahmat sebagai tersangka dalam kasus ini. Lisa diduga memberikan suap kepada para hakim untuk mempengaruhi putusan pengadilan.

Pada November 2024, Kejagung memindahkan penahanan ketiga hakim tersebut ke Jakarta untuk proses hukum lebih lanjut.

  1. Efisiensi dan Akuntabilitas Proses Penegakan Hukum

Kejagung telah membuktikan keseriusan dalam menuntaskan kasus-kasus hingga tahap akhir, termasuk putusan pengadilan tingkat banding. Hal ini mencerminkan efisiensi, keberanian, dan keberpihakan pada hukum tanpa diskriminasi.

  1. Citra Positif di Mata Publik

Survei menunjukkan bahwa Kejaksaan Agung terus mendapat apresiasi publik atas kinerjanya, meskipun pada survei terakhir mereka sedikit berada di bawah KPK dalam persepsi citra. Namun, kontribusi nyata Kejaksaan dalam penyelamatan aset negara masih menjadi salah satu poin kekuatan mereka.

Kemudian menurut Dr Alwan bahwa rekam jejak dalam dua tahun terakhir Kejaksaan Agung menunjukkan konsistensi dan progresivitas dalam menangani berbagai kasus besar, seperti:

  1. Kasus korupsi minyak goreng: Kasus ini melibatkan petinggi kementerian dan pengusaha besar, dengan kerugian negara yang signifikan.
  2. Kasus Jiwasraya dan Asabri: Pengembalian kerugian negara dari skema investasi yang merugikan ribuan orang menunjukkan kemampuan Kejagung dalam menyelesaikan kasus korupsi sistemik.
  3. Kasus Mafia Tanah: Penuntasan kasus ini menunjukkan Kejagung aktif menangani kejahatan yang berdampak langsung pada masyarakat luas.

Adapun kemunduran kinerja KPK menurutnya meskipun citra KPK mengalami peningkatan pada survei terakhir, berbagai tantangan dan kontroversi menunjukkan adanya penurunan kinerja substansial dalam beberapa tahun terakhir:

  1. Kekalahan dalam Sidang Praperadilan

KPK kerap kalah dalam sejumlah sidang praperadilan terkait penetapan tersangka. Contoh terbaru adalah kasus Hasto Kristiyanto, yang memperlihatkan kurangnya kesiapan hukum KPK dalam menghadapi praperadilan.

  1. Kasus yang Mangkrak

Beberapa kasus besar yang ditangani KPK terkesan mandek atau tidak kunjung tuntas, seperti kasus Harun Masiku yang menjadi perhatian publik sejak lama. Bahkan, pengakuan dan permintaan maaf KPK terkait kesalahan penetapan tersangka (seperti dalam kasus CSR Bank Indonesia) mencoreng reputasi lembaga tersebut.

  1. Kontroversi Internal dan Kepemimpinan

Revisi UU KPK tahun 2019 menciptakan persepsi buruk terhadap independensi lembaga ini. Kepemimpinan Firli Bahuri juga kerap menjadi sorotan karena dianggap kurang transparan dan profesional.

  1. Kehilangan Kepercayaan Publik

Pada tahun-tahun sebelumnya, citra dan tingkat kepercayaan publik terhadap KPK menurun drastis, meskipun survei terbaru menunjukkan sedikit perbaikan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ketidakpuasan terhadap penanganan kasus yang tidak konsisten.

  1. Minimnya Pengembalian Aset

“Berbeda dengan Kejagung, KPK lebih sering berfokus pada hukuman pidana dan penangkapan tersangka, tetapi kurang menonjol dalam pemulihan keuangan negara” ungkap Dr Alwan.

Kemudian Kepala Prodi Magister Hukum UNRIKA Batam tersebut membandingkan Kejagung dan KPK, yaitu:
Kejaksaan Agung KPK

Kejaksaan: Pengungkapan kasus-kasus besar seperti Jiwasraya, timah dan sebagainya. KPK: Fokus pada operasi tangkap tangan (OTT).

Kejaksaan: Penyelamatan Aset, Fokus pada pemulihan aset dan keuangan terbatas. KPK: Lebih fokus pada penindakan

Kejaksaan: Citra Publik Stabil dan konsisten. KPK: Naik-turun, dipengaruhi kontroversi.

Kejaksaan: Efisiensi penyelesaian kasus hingga putusan akhir. KPK: Kerap kalah di praperadilan

Terakhir pakar hukum pidana Universitas Riau Kepulauan Batam ini menyampaikan rekomendasi dan Kesimpulan.

Rekomendasi dan kesimpulan saya bahwa :

  1. Untuk Kejaksaan:
    Kejaksaan perlu mempertahankan momentum positif dengan terus meningkatkan transparansi, efisiensi, dan kolaborasi dengan lembaga lain seperti KPK untuk mempercepat pemberantasan korupsi.
  2. Untuk KPK:
    KPK harus berfokus pada penguatan prosedural, pemulihan kepercayaan publik, dan pemanfaatan wewenang supervisi untuk berkolaborasi dengan Kejagung, khususnya dalam pengembalian aset negara.
  3. Lembaga survey tertentu jangan tendensius dan memecah belah para penegak Hukum karena antara Kejaksaan dan KPK sama sama lembaga penata hukum dan menjadi penegak hukum untuk menegakkan hukum di Indonesia.

Sehingga menurut saya parameter survei terhadap citra baik lembaga negara harus jelas, baik atas Kejaksaan maupun untuk KPK, sehingga Kedua Lembaga diharapkan bekerja secara sinergis untuk mendukung program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam pemberantasan korupsi yang menyeluruh dan berkelanjutan.**

Mahasiswa Batam, Pekerja atau Pencipta Lapangan Kerja?

0

Oleh: Heryenzus, S.Kom.,M.Si, Kaprodi Kewirausahaan IIBN

Kota Batam, sebagai kawasan industri dan perdagangan internasional, menawarkan peluang kerja yang luas bagi lulusan perguruan tinggi. Namun, di tengah gemerlap industri ini, muncul pertanyaan penting: apakah mahasiswa Batam hanya akan menjadi pekerja, atau justru mampu menjadi pencipta lapangan kerja?

Kenyataan di Lapangan: Pilihan Aman Jadi Karyawan

Banyak mahasiswa di Batam masih memiliki pola pikir konvensional—kuliah, lulus, lalu bekerja di perusahaan. Pendekatan ini dapat dimaklumi, mengingat Batam dipenuhi kawasan industri yang menjanjikan gaji tetap dan karier stabil. Namun, pendekatan ini juga menyisakan persoalan. Tingkat persaingan kerja tinggi, jumlah lulusan terus meningkat, dan tidak semua mampu terserap oleh pasar kerja. Akibatnya, banyak sarjana yang menganggur atau bekerja tidak sesuai bidangnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam menunjukkan bahwa pada Agustus 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Batam mencapai 7,68 persen, tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Meskipun TPT untuk lulusan sarjana lebih rendah, yaitu 4,36 persen, angka ini tetap signifikan dan menunjukkan tantangan dalam penyerapan tenaga kerja terdidik.

Minat Berwirausaha yang Masih Rendah

Meskipun wirausaha dapat menjadi solusi untuk mengatasi pengangguran, minat mahasiswa Batam untuk berwirausaha masih tergolong rendah. Berdasarkan data dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Batam, pada Semester I tahun 2024, jumlah wirausaha muda tercatat sebanyak 1.754 orang.

Penurunan minat berwirausaha ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketakutan akan kegagalan, kurangnya akses modal, serta minimnya bimbingan dan role model. Banyak mahasiswa merasa tidak siap secara mental maupun pengetahuan untuk memulai bisnis sendiri.

Peluang yang Terbuka Lebar

Padahal, Batam memiliki keunggulan yang tidak semua kota miliki. Letaknya strategis di jalur perdagangan internasional, dekat dengan Singapura dan Malaysia, serta memiliki infrastruktur bisnis yang relatif memadai. Potensi untuk mengembangkan usaha di bidang teknologi, jasa, makanan dan minuman, hingga ekspor-impor sangat besar.

Ditambah dengan era digital yang memungkinkan siapa pun untuk memulai bisnis dari skala kecil, mahasiswa seharusnya bisa melihat ini sebagai momentum. Marketplace online, media sosial, hingga platform pembayaran digital memberi peluang besar untuk menjalankan bisnis tanpa perlu modal besar atau lokasi fisik.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pertama, kampus harus menjadi motor penggerak perubahan. Kegiatan kewirausahaan harus dimasukkan secara lebih serius dalam kurikulum dan aktivitas kampus. Tidak hanya teori, tapi juga pendampingan, akses modal awal, dan kerja sama dengan pelaku usaha lokal.

Kedua, pemerintah daerah bisa berperan aktif dalam mendukung wirausaha muda melalui pelatihan, insentif pajak, kemudahan perizinan, serta akses ke pasar lokal maupun internasional.

Dan yang paling penting, mahasiswa sendiri harus mulai mengubah cara pandang. Jangan hanya bertanya “di mana saya akan bekerja setelah lulus?”, tetapi mulai tanyakan “pekerjaan seperti apa yang bisa saya ciptakan untuk diri saya dan orang lain?”.

Mahasiswa Batam memiliki pilihan: menjadi pencari kerja atau pencipta kerja. Dunia tidak akan berhenti hanya karena seseorang memilih zona nyaman. Namun, dunia bisa berubah jika cukup banyak anak muda yang berani menciptakan solusi. Dan wirausaha adalah salah satu jalan terbaik untuk itu. Maka, sudah saatnya mahasiswa Batam mengambil peran sebagai agen perubahan ekonomi, bukan hanya penonton dari pertumbuhan kota industri ini.**